Laki Tulen

Reclaim Your Manhood Today!

“Keren”

BULLSHEEEIIITTT… IIITTT… ITTT… IT

gambarstatusfacebooklucu52

Artikel kali ini sangat panjang, jadi gue ga mo banyak intro, langsung baca aja deh.

Yang BULLSHEEEIIITTT dan FAKTAP banget dari PUA dan antek-anteknya adalah, mereka ngajarin SUPAYE ENTE PUNYA VALUE, ENTE HARUS NGERENDAHIN ORANG!

Sori, ini belon apa-apa udah ngawur. Faktanya : itu cuma secuil metode yang kemungkinan besar doi dapet dari MM (Mystery Method), yaitu konsep “negging”. Setidaknya dari pemahaman gue soal “negging”. Yaitu nyuekin atau ngeledek si cewek  supaya si cewek merasa “tertantang”.

Tapi Mystery sendiri udah mengklarifikasi, kalo Negging itu dilakukan dengan benar, target engga merasa direndahkan, dalam beberapa kasus tertentu bahkan ikut having fun atau tertawa.

Lengkapnya silakan baca link-link ini :

http://www.tsbmag.com/2006/01/29/neg-theory/

http://www.sosuave.com/articles/neghits.htm

http://www.pualingo.com/neg-hit-negs/

Dan “negging” atau “neg-hits” ini sumbernya cuma SATU (MM). Masalahnya, memang banyak nubi yang baru terjun menggunakan Mystery Method yang nyangka “neg” = menghina atau merendahkan.

Again, link ini udah gue taro di blog ini dari jaman baheula : http://www.bristollair.com

Metode, tokoh dan teknik itu bukan cuma Mistery Method dan Erik Von Markovik doang. Buanyak.

Intinya, Mystery (Erik Von Markovik) itu PUA. Tapi PUA itu bukan Mystery.

Beberapa konsep lain yang mungkin disinggung doi, seperti AMOG (Alpha Male Other Group), ini punya Tyler Durden/Owen Cook, companynya namanya Real Social Dynamics (RSD), dan Boyfriend Destroyer. Tapi teknik ini spesifik punyanya Owen Cook. Yang lain ga ngajarin.

Boleh ditanya sendiri, dan cek artikel-artikel sini, yang gue dapet dari mASF (yang katanya cuma teknik-based dan harus ngerendahin orang), apakah ada instruksi ngerendahin orang?

Di luar itu, gue sendiri ogah ngejalanin instruksi-instruksi dari Julien Blanc. Karena apa yang diajarin Julien itu really unnecessary dan bener-bener offensive.

Maksudnya? Tiap teknik itu spesifik buat tiap individu. Masing-masing orang punya style sendiri. Itulah kenapa ada banyak metode diluaran sana.

Julien Blanc dan Erik Von Markovic sama-sama “pick up artist”, tapi Erik ga pernah ngajarin orang narik kepala cewek ke selangkangan mereka. Get it?

Itulah juga kenapa ada Hotguy System dan Pencintrong Wewe. Masing-masing punya idealisme tersendiri, konsep masing-masing. Ga bisa dipukul rata. Bener ga? Gue yakin Hotguy System bakal ngamuk kalo gue bilang gotlek itu ciptaan mereka lol.

Nah problemnya doi sampe sekarang masih mengaitkan “Pick Up Artist” sama satu entiti/individu. Ini yang ngaco.

Baca bukunya Aaron juga, termasuk Minimal Game.

Ini “sleazy method” yang dijabarin di Debunking the Seduction Community :

  • Picking up your environment
  • Focusing on receptive girls
  • Not fucking it up

Boleh gue tanya, mana poin harus ngerendahin orang?

Sisanya di buku tersebut dia ngajarin hal-hal klise yang sederhana, tapi bagi gue sangat mengena. Kalo pernah denger “Occam’s Razor”, yaitu jawaban yang paling sederhana seringkali adalah yang paling benar. Atau mungkin lo lebih suka berhubungan dengan kekuatan alam semesta, atom, serotonin, dopamine, lymbic system dll cuma untuk sekedar ngobrol sama cewek?

SmileySignroflmao

Aaron sendiri ngebash komunitas Pick Up Artist. Tapi gue juga ngeliat banyak hal-hal yang genuine dan bener-bener gue pake sampe detik ini. Itulah kenapa gue masih pake istilah PUA buat komunitas yang gue coba buat ini. Dan Aaron demen nongkrong di mASF, sumber para Pick Up Artist termasuk Style dan Mystery bermunculan.

Aaron kadang masih suka nongkrong di http://www.pua-zone.com dan arah perkembangan komunitasnya udah berubah banyak dari MM dan The Game. Aaron lebih suka disebut “seducer” dibandingkan “pick up artist”.

Tapi, sekali lagi, ada banyak diskusi di forum tersebut untuk “meningkatkan” value diri. Coba liat di bagian “Lifestyle“. Mulai dari diskusi fitness, fashion sampai gaya hidup sehat. Negging, amoging dan semacamnya udah hampir ga pernah dibahas disitu, kecuali mungkin ada nubitol yang baru megang MM masuk ke situ.

Sisanya silakan tengok sendiri grup IndoPUA atau kaskus lair. Silakan cari instruksi ngerendahin orang. Apa yang gue dapet, itu kesimpulan dari berbagai diskusi yang gue dapet dari mASF, bahan-bahan bacaan, lapangan dan terutama kalo di Kaskus Lair, itu input dari temen-temen yang lain juga,

Kesimpulan darimana “mereka ngajarin SUPAYE ENTE PUNYA VALUE, ENTE HARUS NGERENDAHIN ORANG?”.

Ngarang om? Kayak yang gue pernah bilang, nick orang ini pernah gue liat di mASF. Jadi doi sebenernya tau situasi komunitasnya kayak apa.

Orang PEDE ntu JUJUR KAGAK SUKA BOHONG!

Sip… setuju gan.

The Juggler

Dari yang gue baca-baca, doi pengguna teknik The Juggler (Wayne Elise). Sekali lagi, ini dari yang gue baca lho. So, take this with grain of salt. Tepatnya entahlah, gue ga ngurusi.

Ini secuil mengenai The Juggler :

https://www.datingskillsreview.com/juggler-wayne-elise/

Dan The Juggler sendiri setau gue ga mengenal konsep negging ataupun Amoging dan Boyfriend Destroyer. Gue ga banyak baca soal The Juggler, tapi yang gue tangkep sejauh ini The Juggler itu lebih menyarankan natural, dibandingin routines.

Ini kutipan dari blog lain yang ngebahas si pencintrong wewe :

Juggler Method punya banyak kemiripan sama konsep pencintrong wewe. Ane belum baca semua isi ebook dari Juggler, tapi ane rasa ente mungkin perlu membacanya juga untuk mengenalnya. Terutama ebooknya yang berjudul “Juggler Method- How to be a Pick Up Artist- A Practical Guide 3rd Edition.”

Jadi, ada kemungkinan doi menjiplak The Juggler pas waktu mulai, dan sekarang doi menjelek-jelekkannya.

Diluar itu, komunitas udah berkembang jauh banyak semenjak orang ini megang The Game dan MM, mungkin, dari 1 dekade yang lalu saat doi mulai membawanya masuk ke Indo.

So bisa disimpulkan bahwa pengetahuannya sendiri udah basi banget soal pickup art. Bahkan ketika awal gue join mASF, negging dan AMOGing itu termasuk hal yang lumayan haram, mereka sendiri ga suka ketika ada yang mengangkat kedua teknik ini.

Dua teknik ini sempat terangkat lagi di komunitas tersebut cuma gara-gara The Game dan Mystery Method booming di pasaran, dan banyak nubi-nubi baru yang ngalir ke mASF gara-gara kedua buku tersebut. mASF ada pada awal 90an, dan The Game terbit akhir tahun 2005. Jadi pada waktu booming The Game sendiri, Mystery Method sebenernya udah cukup basi.

Bombardir pertanyaan soal negging dan amoging pun meledak. Termasuk dari gue sendiri yang dulu juga sempat menganggap “neg hits” itu kunci utama selangkangan cewek cantik pas awal gue megang The Game dan Mystery Method. Sebagian besar orang di mASF dongkol sama hal ini.

Ketauan doi cuma pegang The Game dan mungkin MM, yaaa tambah The Juggler buat jiplakannya.

Gue udah males baca buku seduction lagi, tapi silakan ini ebook The Juggler Method :

http://www.diaryfrenchpua.com/freeseductionebooks/TheJugglerMethod.pdf

Like I said, gue ga pernah belajarin metodenya Wayne Elise (The Juggler), tapi tolong mungkin kalo ketemu bagian yang ngajarin/menginstruksikan untuk ngerendahin orang lain, boleh post di komentar.

Really, what can I say. Dari awal memang terlihat ga ada intention baik atau setidaknya memberi penghargaan yang sepantasnya buat sumbernya, cuma niat ngejiplak doang dan jelas bukan sekarang sumbernya dijelek-jelekkan? Mungkin supaya para pengikutnya semakin serem sama knowledge yang dia jiplak dan ngebenci komunitas lain tanpa alasan.

What a douche.

Bisnis

Itu sami mawon kek nanya KALO ENTE MAU BISNIS mang harus lulus kuliah S2 dulu?

FAKING BULSHEITTT… ITTT… IT… KWRWRLRLWRWRLRKRLR! *berbusa busa*

Setuju. Mo mulai bisnis, dari SMP atau bahkan SD juga bisa. Tapi ini kutipan lainnya dari doi :

Yang sakses business malahan kok lulusan SMP ato SMA sedangken nyang S2 hanya jadi karyawan ato pegawe.

Generalisasi yang ga memakai dasar. Memang benar, ada beberapa kasus spesial.

Gue udah cerita bahwa selama gue menjadi karyawan gue banyak berhubungan dengan owner langsung.

Mereka macem-macem backgroundnya. Ini beberapa contohnya :

  • Ada yang dari SMP udah acak kadut, dia lewat backdoor (nyogok) biar bisa lulus SMA. Tapi dia bisa masuk company internasional dan ngerjain proyek-proyek kelas atas. Sekarang dia balik ke indo memulai sendiri berbekal pengalaman ngerjain proyek-proyek kelas atas ini.
  • Ada yang bokapnya tajir mampus, memiliki bisnis yang mencakup separuh sebuah pulau di Indonesia. Semuanya pabrik besar, dengan ribuan karyawan. Satu kompleks industri bokapnya yang punya. Jadi bisnisnya tetap berjalan walau kerjanya dia hura-hura doang, tetapi denger-denger gosip dari finance, companynya merugi terus. Lulusan luar negeri. Companynya tetap disustain dengan dana dari bokapnya. Gue berharap sih companynya bertahan, karena ada ratusan orang yang bekerja di dalamnya.
  • Ada yang udah punya family business, lulusan luar negeri, tapi doi ngotot bikin bisnis sendiri atas dasar passionnya. Ini orang yang jadi partner gue sekarang.
  • Ada juga yang S1 lulus cum laude dan TAnya jadi legendaris di kampusnya dan komunitasnya. Ini orang yang gue interview di sini :
    https://lakitulen.wordpress.com/2014/01/05/artikel-pertama-2014/
  • Dari saudara dekat gue sendiri, lulusan kampus ternama, resign dari kerjaannya dan buka bisnis di bidang yang bukan bidangnya dia sendiri. Dan sekarang dia udah bikin franchise dan mulai bikin cabang.
  • Ada yang bokapnya tajir mampus, sekolah/kuliahnya bener (S2) di jepang kalo ga salah, dan sekarang jadi angel investor, nyari-nyari start up yang menurut dia oke, dan dia danain buat perkembangannya.
  • Ada yang backgroundnya keluarga biasa salah satunya lulusan kurang lebih 4 uni yang berbeda, beliau sekarang lebih menjadi angel investor. Setidaknya gelar S2 orang ini udah pegang. Beberapa companynya dia udah punya cabang hampir di seluruh Jakarta. Terakhir gue kerja sama orang ini sebagai sales manager. Dan gue rasa orang ini cukup tenar di komunitas gue.
  • Terakhir gelar S2, ini kebalikannya yang diatas, doi banyak bikin start up. Dengan bermodal proposal aja, bisa cari investor kemana-mana dan udah menjalankan companynya sendiri bertahun-tahun. Clientnya banyak dari perusahaan besar.

Boleh diadu omset yang artikelnya lagi gue bahas ini sama dua orang terakhir dari list diatas.

Dari 8 orang yang gue kenal tersebut cuma 1 yang mencerminkan perkataan doi, yaitu yang pertama di list diatas.

Mungkin doi dalam kasus ini pengen mengambil contoh Bu Susi Pudjiastuti yang “cuma” lulus SMP tapi sukses bikin perusahaan sendiri.

Dari dua kasus yang gue liat ini, Ibu Susi dan temen gue yang dari SMP udah acak kadut, adalah mereka punya passion, tapi yang paling utama KERJA KERAS. Fokus. Bukan rumusan gotlek.

Ibu Susi sendiri mulai berdagang semenjak dia putus sekolah.

Dan ini semua, lagi-lagi, perlu PROSES, dan KERJA KERAS. Bukannya NGIGO, terus nga ngapa-ngapain.

Sedangkan yang gue kenal itu, dia 24/7 menghabiskan waktunya untuk memoles skillnya terus, join dikomunitas, dsb sampai pada satu poin namanya jadi tenar di komunitas luar negeri. Ketika salah satu company luar negeri buka lowongan, dia ngelamar dan langsung direkrut tanpa pusing soal visa dan biaya kesananya.

Nah, bener. Mulai bisnis ga harus dari S2. Dan memang banyak artikel-artikel yang mengangkat usahawan kaya dan sukses yang ga memiliki gelar apa-apa. Tapi sekarang kebalikannya, hampir jarang sekali artikel-artikel yang mengangkat usahawan kaya dan sukses yang memiliki gelar sarjana atau magister. Kenapa? Karena kurang sensasional. Orang bakal bilang “ya jelas lah dia kan S2”. Dan emang itu yang diharapkan atau diasumsikan masyarakat. Sedangkan kalo ada yang lulusan SD jadi pengusaha tajir, “wow factor”nya kan beda. “Tuh dia cuma lulusan SD jadi pengusaha sukses”.

Tapi point yang mo gue angkat, bahwa bukan berarti semata-mata bukan berarti S2 “hanya” jadi karyawan. Ini mukul rata, generalisasi dan asumsi yang ga berdasar dan ga cerdas.

Wangsit yang doi dapet entah darimana. Mungkin dari teknik visualisasi yang doi gembar-gemborkan? Ga ada sampling, ga ada survey atau semacamnya. Kesimpulan yang secara ajaib muncul, yang mungkin didapat dari ritual mambo jambo yang disarankan.

SmileySignroflmao

Pengecut

Gue setuju lagi kutipan yang ini :

Kalo ente cuma cari JAMINAN atau MAIN AMAN, ente tidak akan berkembang karena pada dasarnya ente PENGECUT. Mau gini TAKUT, mau gitu TAKUT!

snip

Kalo ente mau bisnis tapi TAKUT RUGI, ente ga akan mulai-mulai bisnis.

Tapi kalo ente mau bisnis dan BERANI RUGI, justru ente berhasil!

snip, reminder lagi ucapan doi

Yang sakses business malahan kok lulusan SMP ato SMA sedangken nyang S2 hanya jadi karyawan.

Yup gue setuju. Nah karena doi ngambil analogi bisnis, yang penuh resiko, gue kasih analogi yang “keamanan” dengan karyawan. Sebagian besar orang lebih memilih jadi karyawan, kenapa? Karena mereka sangat mengutamakan kepastian, keamanan, jaminan misalnya tunjangan, asuransi dan semacamnya. Ini gue setuju. Tapi kata “pengecut” itu ga enak banget dibacanya. Dan secara tidak langsung, doi menyampaikan bahwa jadi karyawan = pengecut. Ok it’s fine, kita abaikan dulu.

Nah jadi bisnisman itu ga bisa sembarangan. Why? Karena gue udah ngerasain sendiri. Tapi ga usahlah ngatain orang lain pengecut? Ini masalah pilihan aja. Dibandingin Dirut Bank Mandiri yang hanya karyawan emang omset situ jauh lebih tinggi? Kalo saat ini juga gue direkrut jadi Dirut Bank Mandiri, dengan gaji yang sama kayak dirut yang sekarang, gue tanpa babibu gue bilang iya. Ini masalah pilihan aja. And I’m a whore kalo udah urusan sama duit.

http://www.bangsaonline.com/berita/4263/gaji-dirut-pertamina-rp-200-juta-dirut-perbankan-rp-500-juta-lebih

Gue juga setuju, banyak orang yang udah gue temuin pengen mulai bisnis, mereka plan sedetail-detailnya, mengkalkulasikan segalanya. Seringkali berakhir ga mulai-mulai. Dan rencana cuma sekedar jadi rencana doang.

Salah satu boss gue ngajarin “Jangan bikin system, saya ga peduli system! Sekarang cari customer dulu!”

Setelah beberapa bulan companynya berjalan “Nah kalo udah tahap sekarang, baru deh kita ngomongin system!”

Still, companynya gulung tikar, berani rugi, belon tentu berhasil. Tapi buat dia ga masalah, dia buat company startup lain. Yang berlalu udah berlalu. Jalan terus kedepan.

Orang tua gue sendiri, mereka main aman. Mereka cari jaminan. Mereka main aman. Mereka suruh gue mencari kepastian. Mereka langsung kawatir kayak dunia mo runtuh ketika gue mutusin buat jalan sendiri. Ketika gue ceritain plan-plan gue, mereka pesimistis, kawatir bahkan sampe ga bisa tidur. Terlebih lagi, ketika gue minta mereka untuk invest buat marketing, mereka langsung ternganga dengerin jumlah nominalnya.

Tapi gue ga suka kalo ada yang bilang sifat orang tua gue tersebut sebagai pengecut. Mungkin kalo lo udah berkeluarga, lo akan tau sendiri situasinya. Apalagi tanggungan nyawa orang-orang yang lo kasihin ada di tangan elo. Dan ini jauh dari “pengecut”. Gue ga suka ada orang yang mengatakan sifat orangtua gue ini sebagai pengecut.

Coba sekali-sekali liat orangtualo, kalo mereka memang seperti orang tua gue. Mereka mungkin punya idealisme dan semangat yang menggebu-gebu yang sama dengan dirilo saat mereka muda dulu. Tapi perlahan-lahan karena dunia itu cukup kejam dan ga sesederhana itu, pelan-pelan impian mereka rontok. Dan sekarang mereka cuma pengen dirilo, diri mereka aman dan terjamin. Salah? Mereka mengingatkan bahwa jalur yang lo ambil udah pernah mereka coba dulu. Pengecut?

Partner gue, udah biasa. Sekarang belon balik modal. Dia bilang “gapapa emang perlu bujet marketing kok”

Partner gue sendiri bilang gue, kalo lo keluar cost buat company, simpen aja catetannya, nanti claim aja ke gue, dia bilang. Tapi gue ogah. Kenapa? Karena gue mo pegang omongan gue bahwa kita akan berjalan sebagai partner. N you know what? Ini berrraaattt banget.

Gue berkali-kali tergoda pengen balik ke kantor lama gue, karena it’s sooo easy, tiap bulan masuk, posisi udah oke, dan jauh lebih besar dari apa yang gue dapet sekarang. Nah, selama ngejalanin ini, mental gue lagi bener-bener diuji sekarang.

Gini, ada orang yang gue kenal bahkan secara tegas bilang “engga deh, mending jadi karyawan”. Tapi ada juga yang gue kenal bilang “ngapain jadi karyawan?”.

Tetep, maaf aja, agak kurang tepat kalo mengimplikasikan menginginkan keamanan itu sebagai pengecut. Dan dengan mengatakan “hanya” karyawan itu terkesan sangat melecehkan sekali.

Ini arogan, dan ga keren kalo menurut gue. Mungkin keren bagi dia, ya itu haknya lah.

“Sukses”

Yang gamer, tau Minecraft kan? Gara-gara minecraft, creatornya yaitu Markus “Notch” Persson jadi tajir ga ketulungan. IP Minecraft sendiri sekarang dijual ke Microsoft senilai 2.5 Milyar US Dollar, atau setara dengan 37.5 triliun Rupiah.

markus_persson

Tapi, semua hal itu ternyata ga bikin kehidupan dia lebih baik :

http://money.cnn.com/2015/08/31/technology/minecraft-creator-tweets/

Again, sebelum MineCraft, Notch udah bikin beberapa game, yang kemungkinan semuanya one-man-show :

  • Scrolls
  • 0x10c
  • Ludum Dare entries (Notch ikut beberapa kompetisi ini)
  • Breaking the Tower
  • Metagun
  • Prelude of the Chambered
  • Minicraft

Pembuatan game, apalagi yang one man show itu memakan waktu cukup lama. Beberapa diantaranya tahunan. Rata-rata 1-4 tahun.

Dan sebelum game pertamanya dia, tentunya dia harus belajar programming, digital art dan sebagainya.

Selain Notch ingetkah elo dengan Dong Nguyen dengan Flappy Birdnya?

Diluar itu bagi gue ada banyak sebutan buat “sukses”. Tentunya, uang itu memang penting, tapi gimana dengan para pemenang penghargaan Nobel?

Mother Teresa salah satu contoh yang paling gampang.

Sisanya liat sendiri listnya disini :

http://www.nobelprize.org/nobel_prizes/lists/all

Ada kalanya juga orang lebih memilih meninggalkan materi duniawi, hidup di pengasingan. Para biksu dan pendeta misalnya. Dan ya lagi, Mother Teresa.

Nah bisa kah Mother Teresa ini dibilang kagak sukses?

Sukses, kalo menurut gue, karena namanya jadi wangi dan abadi.

Tapi apakah Mother Teresa itu tajir, punya mansion dan berfoto dikelilingin para hunk yang berotot dan ga pake kain secuil pun di badannya diatas kapal pesiar?

jane_russell_gentlemen_zpsca7310ec

Nope.

Ini masalah panggilan. Masalah pilihan. Dan hidup itu adalah pilihan.

Sah sah aja lu pengen jadi kayak Dan Bilzerian. Jujur gue ga muna, gue ga akan nolak hidup dengan lifestyle kayak si Dan.

Tapi gue juga ga akan menolak nobel prize apalagi kalo nama gue jadi harum dan abadi. Apa lo ga mau?

Apa yang mo gue angkat disini, Dan Bilzerian, pengusaha tajir atau uang bukan satu-satunya tolok ukur sukses.

Walaupun gue ga menyangkal, uang itu memang penting pada jaman ini. Dan kagak mau muna, kalo bisa pilih lifestyle yang mana, Mother Teresa atau Dan Bilzerian, gue pilih lifestylenya Dan.

Tetep, lo liat background, kisah perjalanan dan jerih payah si Dan Bilzerian sampe tahap sekarang ga? Liat sisi negatifnya, kayak apa yang dialami Dong Nguyen dan Notch?

Kemungkinan besar engga, karena mungkin lu terlena dengan iming-iming shortcut yang menjanjikan keajaiban sekejab tanpa lu perlu melakukan usaha apa-apa atau nga ngapa-ngapain.

Inner Game

Lalu soal REJECT bikin mental terlatih, tahan banting dan persistence.

Satu sisi itu benar, tapi itu cuma buat ORANG CUPU yang masih nyari PENGAKUAN orang lain karena doi TIDAK YAKIN / TIDAK PEDE sama dirinya. DOI PIKIR, semangkin banyak doi ditolak, doi akan JADI PEDE dan SUATU SAAT NANTI doi bakal jadi KEREN karena AKHIRNYA DITERIMA SAMA CEWEK!!

FAKING BULSHEITTT… ITTT… IT… KWRWRLRLWRWRLRKRLR! *berbusa busa*

Melenceng dikit deh buat ngasih contoh. Tapi masih berhubungan soal penolakan atau rejection.

Kasus A. Temen partner gue, dia supplier peralatan hotel. Dia ini cewek. Apa yang dia lakukan? Dia datengin langsung tiap hotel, minta ketemu orang yang berwenang disana. Diusir, ga boleh dateng lagi, biasa buat dia. Tapi dia cuek aja. Cari hotel yang lain, terus, nonstop.

Sampe dia ketemu sama orang yang berwenang terus dia kasih sample produknya. Satu terima, doi mulai punya testimonial/list client, setelah itu lebih mudah. Keren? Entahlah, definisi keren tiap orang itu kan beda-beda, tapi omsetnya sekarang udah milyaran, dan sekarang dia jadi supplier utama di sebagian besar hotel di Jakarta.

Ga ada pabrik, semuanya produk rumahan, dibikin di rumahnya sendiri. Berkaitan dengan pembahasan sebelumnya yang bilang S2 cuma jadi karyawan, lulusan apa, gue ga nanya. Dan sekarang yang kita bahas ini soal rejection. Yang jelas doi pernah jadi country manager salah satu perusahaan besar di Indonesia. Rada sulit kantoran formal begini mau nerima orang yang ga bergelar.

Kasus B. Ceweknya boss gue. Dia buka restoran dibiayain sama boss gue, nah diajarin sama boss gue buat bikin brosur dan disuruh sebar sendiri. Yang ada dia nangis-nangis takut ditolak. Pada akhirnya brosurnya kesendat, dan restorannya ga jalan. Keren? Ya simpulin sendiri deh. Mungkin perlu gue saranin metode gotlek supaya restorannya laku?

SmileySignroflmao

Kalo spesifik soal cewek/attract cewek, temen gue yang playboy cukup banyak. Dan mereka cuek sama rejection. Itu aja kok intinya. Mereka ga ambil hati kalo ditolak, dibawa asik aja. Hasilnya? Salah satu temen gue bentar lagi mau merried sama ceweknya, sales mobil sport import. Keren ga? Tapi permasalahannya dari kecil dia udah ngelakuin ini, dan mungkin udah ditolak puluhan bahkan ratusan kali, kalo ga ribuan kali.

Ente sebutkan kalau PUA luar lebih mementingkan INNER GAME. GOTLEK itulah inner game.

Maaf ada bedanya inner game dan delusi. Inget masalah”Congruence”?

https://lakitulen.wordpress.com/2014/01/12/congruence/

Congruence itu keadaan ketika inner game dan outer game lu berjalan selaras. Ga saling bertentangan, ga saling berlawanan.

Lanjut, ini definisi “keren” menurut doi :

COWOK KEREN nyang PEDE, doi PEDE MAMPUS US US USSS ame dirinye! Doi MENINGGI-NINGGIKEN dirinye… doi MENDEWA-DEWAKAN dirinye! Doi NGERASE KEREEEN BEUDDD, en BILANG DIRINYE KEREEENNN CUOOONGGG! NGARTI?

Oke.

Orang PEDE bisa aja debat, tapi bukan untuk bela diri. Doi debat untuk NGASIH TAU FAKTA dan KEBENARAN. Doi ga NGEBELA diri untuk memperdebatkan ke-KEREN-an dirinya. Itu absolut. Yang dia debatkan adalah OPINI mengenai SUBJEK yang dibahas.

Oke.

Kalo OPINI nya salah, doi bilang “oh iya! lo bener!” n doi TETEP MERASA KEREN tanpa merasa dirinya LEBIH GOBLOK dari lawan diskusinya. Dia FAIR kalo soal diskusi-diskusi.

Sip setuju. Tapi :

Tapi soal opini terhadap dirinya, DIA TUTUP KUPING.

Ini “delusi”. Dan ini ga keren menurut gue. FYI sekali lagi merasa keren dan keren beneran itu dua hal yang sangat berbeda.

Delusi itu contohnya : Farhat Ab*as, Habib Riz*eq, dan mungkin kalo lo masih inget, si statusisasi V*cky Prasetyo.

Ini semua contoh-contoh orang bebal dan tutup kuping seenak udelnya sendiri. Keren? Bukan, itu yang namanya “merasa keren”.

Bahkan ada satu facebook page parodi dari salah satu tokoh yang gue sebut itu yang tenar banget, lebih tenar dari page aslinya yang rajin gue kunjungi kalo gue sekedar butuh hiburan atau haha hihi waktu bete. Singkatnya : orang ini jadi bahan banyolan.

Kritik dan feedback negatif dari orang lain itu tetap perlu, supaya lo bisa mengadjust/menyesuaikan dirilo. Singkatnya : kalibrasi.

Baca soal calibration disini :

https://lakitulen.wordpress.com/2014/02/12/calibration/

Paling gampang liat foto Mystery yang pertama dan yang kedua. Yang pertama dia bener-bener kayak freak, orang aneh, norak dst.

Yang kedua jauh lebih mending. Masih terlihat “keren”. Tebakan gue, dia mulai mendengarkan input dari orang sekitar.

Yang paling engga banget sih, semua kritikan dianggap sebagai usaha menjatuhkan. Ada kalanya lo harus cuek, ada kalanya lo harus introspeksi diri. Semua itu ada kadarnya. Kalo lo terlalu memikirkan opini orang lain, emang ga baik, karena lu bakal jadi minderan. Tapi kalo disuruh tutup kuping total, ya engga juga kali ya, itu namanya bebal dan delusional.

Nah dari tulisan doi sendiri sepertinya doi mengajarkan delusi. Ngajarin untuk MERASA KEREN. Bukan berusaha untuk menjadi keren beneran.

Dan “merasa keren” itu bukan inner game. Beda bruh.

Kalo inner game tuh kira-kira begini kalo menurut pemahaman gue : elo menerima dirilo apa adanya, dari start lo ini ga cupu-cupu amat, tapi tetap lo ga keberatan dapet masukan. Lo tetap menerima kritik, tapi lo ga hancur berkeping-keping karenanya. Lo ga menganggap penolakan itu sebagai sesuatu yang besar. Penolakan itu bukan berarti dirilo sucks atau cupu. Mungkin saatnya ga tepat, atau emang ga jodoh atau semacamnya.

Sedangkan delusi itu singkatnya begini : misal ada orang yang ngerasa dirinya presiden. Tapi bukan. Orang-orang berusaha nyadarin dia ini bukan presiden. Dia tutup kuping, dan tetep ngerasa dirinya presiden.

Itu yang namanya delusi, gila istilahnya. Nah tinggal ganti aja kata “presiden” dengan “keren”. Nangkep?

SmileySignroflmao

Jadi mohon bedakan, inner game sama gotlek. Ga sama. Dan please deh jangan disama-samakan.

Kembali ke masalah rejection, ini kutipan dari PUAlingo.com

One of the best ways to develop a strong inner game, ironically enough, is to develop one’s outer game.

Singkatnya, keluar ke lapangan, keluar dari zona nyaman, ngepush dirilo sejauh mungkin dan bereksperimen.

Lady Gaga

MINDER yaitu karena seseorang ngerasa dirinya NGA PERNAH CUKUP untuk dapat JADI DIRINYE SENDIRI. Doi selalu BERGANTUNG pade EKSESPEKSTASY en HARAPAN-HARAPAN ORANG LAIN!

Setuju. Dan penyebab lainnya biasanya membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Diluar itu masih banyak lagi penyebab kurangnya percaya diri dan minder. However, ini lanjutannya :

Contohnya : doi selalu pakai pakaian yang ORANG PIKIR KEREN! DOI KORBAN FASHION dan BRANDED! Doi TAKUT untuk bereksperimen en NYARI TAU baju apa yang sebenarnya MENURUT DOI SENDIRI KEREN!

ITULAH NAPE CONGGG, LADY GAGA, KURT COBAIN dan BRUCE LEE itu KEREN! karena mereka PUNYA STYLE SENDIRI! KAGA NYONTEK ato didefinisikan oleh TREND atau FASHION!

FAKING BULSHEITTT… ITTT… IT… KWRWRLRLWRWRLRKRLR! *berbusa busa*

Lady Gaga, Kurt Cobain, Bruce Lee, dst, ga jadi “keren” dalam sehari. Mereka jadi public figure dan, well, minjem istilah doi lagi… jadi “keren” setelah melalui PROSES. Dan gue yakin mungkin kayak Lady Gaga, pasti baca-baca atau cari referensi soal fashion juga.

Boleh aja ngerasa diri keren, tapi tetap berpijak di tanah.

Tapi yang perlu lu inget, lu ini bukan Lady Gaga, Kurt Cobain atau Bruce Lee.

Satu contoh yang bisa lo liat, audisinya Owen Campbell di Australia Got Talent :

Owen Campbell ngerasa keren. But saat audisi ini berlangsung he’s nothing, nasibnya ditentukan sama juri. N being a douche is not the way to win this audition… in this case, the judge’s heart I suppose.

Untungnya dia dateng lagi, mengambil feedback/pelajaran yang masuk, memperbaiki dirinya, menyesuaikan attitudenya yang bikin para juri muak pada audisi sebelumnya. Walo ga menang, tapi setidaknya dia masuk final.

Talent without attitude is nothing. Sampah. Lo tetep harus hidup di tengah masyarakat, dan lo tetep membutuhkan orang lain. Di satu hal gue setuju, menjalankan hidup berdasarkan ekspektasi orang lain terhadap elo itu namanya menyiksa diri.

Nah, tapi dalam konteks ini, lu adalah lu sendiri. Situasi, kondisi, keadaan lo adalah unik. Unik, tidak sama dengan spesial. Ada milyaran orang “unik” yang hidup di dunia ini. Keseluruhan, tiap-tiap manusia yang hidup, pernah hidup dan akan hidup di bumi ini itu unik. Tapi spesial? Nope.

Sekarang liat keadaanlo, posisilo dimana? Apakah udah sekelas Bruce Lee dan Lady Gaga? Apakah elo udah bisa disamakan dengan Bruce Lee dan Lady Gaga? Udah jadi public figure yang memiliki fans jutaan di seluruh dunia?

For sure, lo bisa menghabiskan waktu tahunan buat ngisiwardrobe elo sekeren-kerennya. Tapi sekali lagi kalo cuma memoles wardrobe elo, itu ga akan bikin lo keren dalam sekejab. Yang jadi keren ya cuma isi wardrobe/koleksi pakaian atau fashion elo.

Nah so far setau gue, yang rajin dan menggebu-gebu ikutan komunitas beginian masih usia awal kuliahan atau baru itungan dibawah tahun ngelakuin cold approach. Lo belon ngeliat dunia nyata. Ketika lo udah masuk dunia kerja, gue cuma mo mengucapkan : welcome to the real world.

Ini maksud inner game vs gotlek yang gue maksud diatas. Lo ngerasa dirilo keren sekeren Kurt atau Bruce Lee, tapi realitanya engga. You’re still far away from that. Dan kalo lo ga nyadar, lo akan tetap berjalan di tempat, menolak semua input yang sebenernya mungkin baik buat perkembangan elo (tutup kuping). Alhasil, apa yang terjadi di luar dan di dalam dirilo keduanya bertolak belakang. Coba googling soal “cognitive dissonance”.

That’s why pernah ada FR dari kaskus lair, sebelum keluar dia ngaca, ngomong sendiri ke kaca bilang “gue keren dan ganteng, gue keren dan ganteng” berulang-ulang kali.

Step ini dia masukin di FR dia, seolah-olah ini step yang bener-bener penting dan krusial. Pada akhirannya pas dia keluar, cewek bisa nyium ketidak konsistenan apa yang dia pancarin sama apa yang terjadi di dalam dirinya. Dan doi lulusan pencintrong wewe ini lol. Dari awal memang keliatan pencintrong wewe ini company yang mengedepankan teknik afirmasi.

Afirmasi works, tapi bukan pil ajaib. Mungkin cuma nol koma nol sekian. Kayak kata Aaron, misal dalam ngegebet cewek. Mana yang lebih efektif, ngomong sendiri di depan kaca, atau langsung keluar dan ngobrol sama cewek? Still, orang yang percaya akan the magic pill, akan terus ngotot magic pillnya yang ajaib.

screenshot-2015-10-17-00-31-03

Saat lagi KAGAK PUNYA dia bilang KAGAK PUNYA, Saat lagi KAGAK BISA dia bilang KAGAK BISA… tapi dia GA MINDER!

Jadi apa bedanya dengan keren dan ga keren, dibandingkan dengan punya dan ga punya? Kalo lo berani mengakui ga punya saat elo emang ga punya, tentunya lo berani mengakui dirilo ga keren kalo emang lo ga keren. Dan ga harus minder dalam hal ini.

Minder itu ga penting. Ga perlu. Ini gue setuju. Dan sekali lagi, ga keren itu ga perlu disertai dengan rasa minder.

Dibandingkan berlama-lama minder memikirkan ketidak-kerenan elo, lo lebih baik berfokus pada usaha memperbaiki ketidak-kerenan lo tersebut.

Lo ga keren, dan lo ngakuin hal itu. Sip. Itu langkah pertama. Pernah denger kan kata-kata ini : “Admitting you need help is the first step…”

Langkah selanjutnya, what are you going to do about it? Apa yang bakal lo lakukan untuk meningkatkan kekerenan elo ini? Itu semua perlu TINDAKAN. Ini problem yang gue angkat.

COWOK KEREN nyang PEDE, doi PEDE MAMPUS ame dirinye! Doi MENINGGI-NINGGIKEN dirinye… doi MENDEWA-DEWAKAN dirinye! Doi NGERASE KEREN, en BILANG DIRINYE KEREN CONGGG!

Dua kutipan yang gue angkat disini, bertolak belakang, dan ini dalam satu artikel yang doi post.

Nah balik lagi deh ke topik. Doi mencontohkan dari aspek wardrobenya/pakaiannya aja. Gile, dari ahli wanita, fisika, metafisika dan sekarang ahli fashion. Bener-bener multi-talenta.

Gue rasa, setelah pembahasan panjang lebar mengenai “keren” diatas, “keren” itu bukan cuma dari sisi pakaian aja toh?

Dan gue rasa orang ini ngambil contoh tanpa tau background mereka yang jelas.

Untuk Kurt Cobain, lo bisa baca komik GodSpeed :

1042075

Of course, komik ini sangat ringkas, ga ceritain perjalanan dia secara keseluruhan. Sisanya gue juga ada buku Diarynya Kurt.

Biography yang dulu gue tergoda pengen banget beli itu Heavier than Heaven. Tapi gue udah megang GodSpeed, Journals dan Come as You Are. Gue tahan beli buku dulu. Masih banyak yang belon habis gue baca. Tapi GodSpeed ini nyeritain garis besar dari awal mereka ngeband sampe Kurt bunuh diri.

Lu perlu baca, setidaknya komiknya supaya tau kerja keras mereka. Bukan mambo jambo gotlek dan keesokannya mereka tajir dan keren mendadak ato tiba-tiba dicipoq sama bintang shitnetron. Ada masanya mereka susah, ngeband kagak diapresiasi. Sampe mereka bikin hit “Smells Like Teen Spirits”. Tapi sebelum mereka mengeluarkan hit ini, ga semuanya rainbows dan unicorns.

Clearly, si om motipator cintrong ini kagak tau apa yang dia omongin soal Kurt, terlebih lagi mengenai apa yang dia kutip sebagai contoh. Seperti ketika mengutip dopamine, serotonin, lymbic system dst. Asal nyerocos.

Sebelum Nirvana jadi band Grunge no 1 di dunia, nobody cares about them. Dan perjalanan mereka menjadi nomer 1 bukan dengan visualisasi. Setelah mereka jadi legendaris, barulah mereka “keren” dan banyak dicontek oleh band-band lain.

For sure, hal ini bukan hanya terjadi di industri musik. Di Industri game, inget Flappy Bird? Inget Street Fighter franchise?

Flappy Bird bukan satu-satunya game yang dibuat Dong Nguyen. Sama juga Capcom bukan cuma bikin Street Fighter doang. Dan Street Fighter 1 pernah liatkah elo gamenya seperti apa? Tapi setelah Street Fighter 2 booming, semua developer game ikut-ikutan menggunakan formulanya. Dan sebelum Street Fighter 2, masih ada titel yang berjudul Street Fighter 2010.

Baca juga pembahasan soal Minecraft dan Notch yang udah gue beberkan diatas.

Di Industri film, tau Blair Witch Project? Film yang dibikin dengan gaya kamera amatir supaya terkesan lebih realistis. Genre horror “found tape”, dimana filmnya bertingkah seolah-olah yang diputar itu rekaman amatir yang ditemukan dan disusun ulang. Bisa kasih contoh clone-clonenya?

Untuk Bruce Lee bisa nonton film Dragon : A Bruce Lee Story buat liat kisah perjalanannya dia. Seinget gue ini cukup keren ceritanya. Udah cukup lama.

Sisanya, silakan coba lo liat sendiri list film di IMDBnya Bruce Lee :

http://www.imdb.com/name/nm0000045

Enter the Dragon gue rasa puncak film yang bikin dia terkenal di Hollywood.

Jadi sekitar 20-30 tahun kerja keras, setelah melewati puluhan role ecek-ecek di film yang ga sukses di pasaran. Bukan rumusan gotlek ato mambo jambo yang lainnya. Berapa banyak sebelum film Enter the Dragon yang titlenya lo familiar? Misalnya film Ci mu lei? Gue sendiri kagak pernah denger, nonton apalagi. Sedangkan kalo Enter the Dragon beberapa kali.

Entah deh kalo soal Lady Gaga. Gue kagak ngefans sama doi. Dan kalo menurut gue Lady Gaga lebih ke “attention whore” dibandingin “keren”.

She-Kind-Freaked-Out-Eminem-While-Accepting-Her-VMA

Ya mungkin ini memang definisi “keren” yang dimaksud bersangkutan. Dunno. Sah sah ajalah. Definisi keren buat tiap orang kan beda-beda.

Tapi yang jelas, berani tarohan, bukan setelah ikut seminar Lady Gaga langsung melejit. Ada kisah-kisah panjang dibelakangnya, yang mungkin sebagian besar pahit sebelon dia mencapai popularitas kayak sekarang. Itulah gue lebih prefer baca buku non-fiction, terutama biography. Supaya gue bisa comot hal-hal yang emang bisa diaplikasiin di dunia nyata.

Ngomongin soal musisi, kayak yang gue udah sebutkan gue waktu awal lebih banyak fokus ke night game, clubbing, pub, bar dan semacamnya. Untuk menghindari biaya yang keluar terlalu banyak seringkali gue dateng pada hari biasa yang seringkali kebanyakan venue ga pasang cover charge di hari biasa. Di beberapa venue yang gue datengin kadang suka ada live bandnya. Karena hari biasa (weekdays), pengunjung sepi, dan kadang malah ga ada pengunjung sama sekali.

Band yang manggung tetep nyanyi, all out sama performance mereka. Lu tau kah betapa sucksnya ngerasain hal seperti itu? Tau betapa beratnya rasa malu, rasa ga dihargai ketika venue kosong dan mereka tetap all out? I know. Karena gue pernah ngerasain jadi pembicara tapi pengunjungnya sedikit. Gue percaya, sebagian besar musisi tingkat dunia pernah ngerasain hal ini. Mungkin ada beberapa pengecualian.

Jewel misalnya, https://en.wikipedia.org/wiki/Jewel_(singer) sempat tinggal di mobil. Keliling ke bar-bar, pub-pub dan semacamnya. Dia berusaha keras sampe akhirnya jadi bintang.

Itu yang menurut gue KEREN.

Mereka sebagian besar bukan jadi dalam semalam. Apalagi cuma menggunakan visualisasi bahwa mereka tenar dan ngerasa keren.

Whoever have that kind of thought… bener-bener ga mengapresiasi kerja keras dan perjuangan orang lain.

“Calibration”

Sekarang selama gue kerja di kantor yang terakhir, gue bisa secara konsisten naik terus. Kenapa? Kantor tersebut bukan kantor tempat kerja gue yang pertama kali.

Di beberapa tempat kerja yang sebelumnya, saking idealis, saking keras dan saking menggebu-gebunya gue, gue bahkan sempat bikin atasan mau nangis. Dan ini atasan gue ini ownernya lho. Sumpah gue kagak boong.

Dari situ gue pindah ke kantor lain, gue mulai mengadjust diri gue, gue perhalus cara gue ngomong, gue coba lebih kedepanin empati. Begitu dan seterusnya.

Gue introspeksi diri, gue juga melihat apa yang menurut gue salah dari mereka, apa yang dari mereka bikin gue dongkol apa yang dari mereka bisa gue ambil gue coba pelan-pelan aplikasikan ketika gue udah mulai punya team. Gue mulai paham posisi atasan itu banyak ga enaknya juga.

Apa jadinya kalo gue tutup kuping? Ga introspeksi diri? Idealis bagus. Tapi tetap aja lo hidup di tengah masyarakat. Ada hal-hal dimana lo harus nge-blend in, dan ada hal-hal dimana lo harus berpikir sendiri sesuai dengan nurani lo.

Salah satu contohnya begini, Orang tua gue seumur hidup itu karyawan. Mereka terus-terusan main aman. Mereka maunya gue kerja kantoran yang stabil, kalo bisa jadi karyawan bank, accounting atau semacamnya. Kalo gue ikutin omongan mereka, apa jadinya. Bukan berarti jelek, tapi karir semacam itu simply bukan buat gue. Tapi gue sadari juga, bahwa kemauan mereka ga lebih dan ga kurang cuma nurani orang tua yang mau anaknya tetap aman dan bahagia. Baca lagi soal ini diatas.

Dan kemaren sempet partner gue ngritik gue. Gue agak dongkol, tapi terus dia bilang ke gue :

“Gue kalo ga peduli sama lo gue ga bakalan ngomong begini. Apa untungnya buat gue. Ya terserah lo aja lo mo terima ato engga, ini juga buat perkembangan lo”

Dan percaya atau engga, kritikan yang bagus itu susah sekali didapat. Ada kalanya lo harus memilah, mana kritikan yang membangun, dan mana kritikan yang mengenyek elu. Bukan terus ngerasa keren dan tutup kuping total.

Sekarang coba pikir deh. Kenapa perusahaan-perusahaan besar ada customer service/supportnya?

Untuk nerima KRITIKAN. OPINI. ANJURAN dari para customernya, tentunya, supaya service/layanan mereka lebih baik.

Gimana kalo company-company tersebut tutup kuping sama kritikan/opini/anjuran customernya? Company tersebut semata-mata jadi keren gitu?

SmileySignroflmao

Ga ada bisnisman yang semalem ikut seminar terus besokannya langsung jadi tajir mampus.

Yang ada mereka coba terus, berkali-kali, tapi terutama ngeliat feedback yang masuk, situasi dan lingkungan, reaksi sekitar mereka, dan menyesuaikan langkah mereka berikutnya.

Kalo satu bisnisnya ga jalan, mereka liat langkah mana yang salah dan bisa dibenahi kelanjutannya, atau langsung buka bisnis baru.

Baiklah, mungkin lo bermimpi buka bisnis sendiri, jadi boss buat diri sendiri. Ga mau jadi karyawan, punya atasan, jadi “budak” katanya.

Fuck the society and all its rulez. YOLO. Katalo dalam hati.

Tapi pernah terlintas ga lo bahwa buka bisnis sendiri lo bakal punya lebih banyak atasan dari berbagai macam kalangan? Yaitu customer elo, client elo. Dan lo tetep harus memenuhi ekspektasi/harapan mereka. Kalo engga, ya good luck aja deh sama usaha elo.

“Pembuka Realita”

“Ferrari… ferrari… ferrari”… ntar bakal ada ferrari muncul di dekatlo, katanya.

Walo dia ga bilang ferrari itu jadi miliklo.

Tapi gimana kalo kita coba fokus “ane punya 10 ferrari… ane punya 10 ferrari… ane punya 10 ferrari”.

Apakah realita 10 ferrari miliklo bakal muncul?

Gimana kalo “Gue tajir mendadak… gue tajir mendadak… gue tajir mendadak”.

Of course, sanggahan yang kemungkinan bakal dilontarkan adalah gotlek ga bekerja dengan cara begitu!

Ini bukan hal yang baru. Lagi-lagi liat post gue soal pheromone.

Parfum pheromone “works” katanya… tapi dengan rentetan syarat.

“Engga gitu cara kerjanya”

“Bukan begini”

“Harusnya begitu”

Kalo ga works, berarti lonya yang salah dan ngaco. Atau mungkin it works di paralel universe, tapi di dimensi kesepuluh.

Apple

Contoh dari satu company favorit gue, Apple.

Beberapa kali Apple bikin disaster :

  • Newton
  • Pippin
  • MacIntosh
  • Lisa

Dan sebagian besar produk gagal itu adalah sewaktu Steve Jobs menjabat. Silakan google sendiri ya. Gue yakin lo cuma pernah denger MacIntosh doang. Steve Jobs sendiri pernah ditendang dari company yang dia bangun pake darah dan keringatnya dia sendiri.

Inget juga ketika iOS membuang Google Maps dan pakai aplikasi mapsnya Apple sendiri?

Apple jadi bulan-bulanan :

http://www.techradar.com/news/software/applications/ios-6-maps-what-went-wrong-1118121/1

Apa jadinya kalo Apple tutup kuping tentang kritikan aplikasi maps ini?

“Mapsnya Apple keren cong! Apple itu hipster, kagak ikut-ikutan trend! Lunya aja yang bego kagak tau cara makeknya!”

Companynya jadi tambah keren gitu?

SmileySignroflmao

Di sisi lain, Nokiyem kelewat bebal, emoh ngikutin trend, emoh ngeliat situasi dan ngerasa keren dengan handset mereka, pakai OS sendiri (Symbian), kemudian beralih ke Windows Mobile. Mentang-mentang produsen ponsel nomer 1 di dunia. So hipster, much wow. So keren banget. Pada akhirnya company handphone terbesar di dunia ini dicaploq sama Mikocok, dan nama Nokiyem dibuang, sekarang Mikocok cuma pake nama Lumia. Akhirannya Nokiyem lenyap ditelan waktu.

Andaikata Nokiyem mengadopsi Android, apa jadinya pasar smartphone sekarang ini? Mungkin Nokiyem tetap jadi produsen ponsel nomer 1 di dunia.

Lumia535hero1jpg_1418810778

Sedangkan Samsung sedikit lebih smart, setidaknya mereka punya flagship yang bisa head-to-head sama iPhone, yaitu seri Galaxynya mereka. Dan ini jelas-jelas ngejiplak desain iPhone.

Kalo ditanya apa formula sukses?

Ntahlah. Gue sendiri belon sukses, gue cuma ngamatin orang-orang sekitar gue.

Tapi ini quote dari Charles Darwin :

“It is not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent that survives. It is the one that is most adaptable to change.” – Charles Darwin

Bukanlah spesies yang terkuat atau yang terpintar yang bertahan, tapi yang paling mampu beradaptasi terhadap perubahan.

Problemnya, tau darimana apa yang harus dirubah untuk dapat beradaptasi? Ya dengan mata, telinga dan pikiran tentunya. Pertimbangkan feedback, input dan kritik yang masuk. Liat perubahan sekitar. Nokiyem jangan ditiru. Dunia itu berubah tiap mikrodetiknya.

Analogi TK

Kalo ada anak TK yang berani lompat ke SMA, BELUM TENTU dia bisa, tapi SEMUA akan salut dengan KEBERANIANNYA, termasuk GURUnye, termasuk ORANGTUAnye, termasuk SEMUA yang skillnye diatas anak SMA.

Analogi yang aneh, dan membuat kesimpulan berdasarkan asumsi. Anak TK belon ngerti apa itu fisika, biology, kimia, geografi dsb. Kalo ada anak TK yang baru masuk sekolah dimasukin SMA, kemungkinan besar yang ada itu anak malah bingung, frustrasi, cengo, ini orang yang di depan kelas ngomong ape?

Anak TK masih memiliki keinginan bermain yang sangat kuat. Belum bisa dicekokin macem-macem. Jangankan TK, SD aja masih suka ga fokus atau malah main melulu. Gue tau, karena gue pernah ngelatih/ngajarin anak SD (bukan seduction lho ya).

Itulah sebabnya kelas TK biasanya berwarna-warni, cerah. Seiring waktu dia akan diberikan pelajaran yang baru atau tingkat kesulitannya ditambah seiring ketika kelasnya naik, ke SD misalnya.

Tentu, gue ga nyangkal, ada anak umur 10 yang udah dapet gelar S2. Michael Kevin Kearney, namanya. Atau Alia Sabur yang umur 19 udah dapet gelar profesor. Gue yakin orang-orang ini ketauan sifat prodigynya setelah pengamatan terhadap mereka. Bukan karena ketika TK mereka ngerengek mau langsung loncat ke SMA.

Dan alangkah ngaconya melakukan tindakan bodoh untuk sekedar mendapatkan salut/pengakuan dari orang lain. Berani lo nyuruh adeklu, sepupu atau siapalah yang masih TK untuk langsung loncat ke SMA, supaya orang-orang salut sama dia? Engga kan? Kenapa? Karena itu bodoh. Jangankan cuma loncat ke SMA, ingetkah ketika lo TK, mungkin ada darilo yang pengen jadi astronot. Tapi realitanya jadi astronot itu bukan sesuatu yang mudah. Sebagian besarnya banyak direkrut dari pilot yang sudah berpengalaman bertahun-tahun. Dan sebelum jadi pilot, mereka harus melalui berbagai jenjang pendidikan, dan jam terbang sekian puluh ribu.

Nah, problemnya bukanlah salut atau engga. Problem utama, inti permasalahannya adalah orang-orang yang kesulitan dengan wanita, punya masalah yang lebih SERIUS dibandingkan cuma masalah cinta/ngegebet cewek doang. Ada penyebab/sumber utama yang menyebabkan orang tersebut menjadi kesulitan dengan wanita.

https://lakitulen.wordpress.com/2014/10/22/review-buku-johnnys-journey-dan-refleksi-komunitas/

Oke, kita sepakat salah satunya MINDER. Tapi minder itu banyak penyebabnya. Gue sendiri lebih menyarankan, perbaiki dasarnya dulu dibandingkan ngotot cold approach apalagi nargetin ribuan approach selama rentang waktu tertentu. Kenapa? Cold approach bukan obat sakti yang ajaib nan mujarab.

Ketika elo masih memiliki masalah-masalah tersebut, lo ga membenahinya, dan elo menumpuknya lagi dengan cold approach, itu yang namanya menyusahkan diri. Masalah-masalah ini tidak akan selesai apabila elo mengacuhkannya, dan mungkin malah akan berkembang biak serta merembet ke aspek kehidupanlo yang lain.

Dan masalah-masalah ini seringkali bukan masalah yang bisa dispelekan, silakan lihat contohnya di buku Johnny’s Journey, dan apa yang dijabarkan disitu, gue temui di komunitas-komunitas seduction lokal. Yang orang-orang ini perlu cari, adalah pertolongan profesional yang memang diakui masyarakat. Psikiater atau psikolog. Bukan dating coach atau memohon kekuatan alam semesta agar semuanya menjadi baik-baik saja.

Anyway, gue baca-baca lagi kalimat terakhir paragraf diatas, gue keinget sama Goku pas bikin spirit bomb (bola semangat)?

SmileySignroflmao

Memohon kekuatan alam semesta terus kemudian dijadikan sebuah bola besar yang bisa dilempar untuk menghancurkan masalah.

Sayang DragonBall Z, planet namec, piccolo, krilin, gohan, goku, bejita, super saiyan dkk itu cuma ada di dalam anime/kartun.

Make the World a Better Place

Gini aja, kalo gotlek itu emang mujarab, kenapa ga ajarin ke para pengangguran, kriminal dst?

Setidaknya tingkat kriminalitas di Indonesia bisa tertekan jumlahnya.

Dan mungkin kalo mereka (pengangguran, kriminal, dsb) bisa dapet cewek hot tajir dan bisnis dengan keuntungan berlipat ganda, begal, rampok, jambret, pemerkosa ga akan lagi beraksi, toh mereka udah digebet sama tante hot yang tajir kan?

Nga ngapa-ngapain, cukup pesta pora, hura-hura aja. Ntah darimana cipoqan dari artist shitnetron pun bakal nyangsang ke bibir mereka. Ngapain ngejambret, merkosa dan ngebegal lagi?

Terus kenapa stop disitu? Anak-anak di Afrika sana banyak yang kelaparan. Mereka juga tentunya merindukan sentuhan wanita hot atau bintang shitnetron.

Yaaa sukur-sukur, kalo emang bekerja siapa tau bisa jadi pemimpin PBB, karena metode ini udah mengatasi permasalahan kemiskinan di dunia.

Anyway, coba dilihat sendiri, berapa kali yang bersangkutan menggunakan kata “orang cupu” di artikel yang gue kutip disini?

Kalo ente YAKIN sama diri ente, ente GA PERLU ngerendahin orang!

*ahem*

Yang BULLSHEEEIIITTT dan FAKTAP banget dari PUA dan antek-anteknya adalah, mereka ngajarin SUPAYE ENTE PUNYA VALUE, ENTE HARUS NGERENDAHIN ORANG!

*ahem*

Of course, yang bullshit dan fucked up banget dari orang yang ngajarin bahwa sesuatu itu jelek, adalah bahwa mereka sendiri melakukannya.

kalo ente YAKIN sama diri ente, ente GA PERLU PAMER-PAMER!

Lebih mantab lagi yang memakai istilah-istilah scientific seperti “dopamine”, “serotonin”, “lymbic system” dalam produknya supaya terlihat keren. Yang mana gue yakin doi bukan ahli biochemistry, boro-boro apalagi dokter.

Gue yakin doi sekarang lagi dilema, karena pada artikelnya yang bilang orang keren itu ga suka pamer, dikasih link instagram yang bersangkutan, disandingkan sama akun instagram Dan Bilzerian dan orang-orang sejenis. Di satu sisi doi emang perlu jualan khasiat metode luar biasa ini sih. Jadi ane emang maklum.

Yang paling ironis, orang-orang yang nyangsang ke IndoPUA terus pamer foto approach itu kebanyakan murid-muridnya doi. Satu grup bahkan spesial buat ajang pembuktian/pamer hasil cold approach mereka. Prinsip mereka kira-kira seperti ini :

“Wajar kalo pamer, karena ga semua orang bisa”

Grup ini pake namanya doi pula. Beberapa alumninya juga ada yang dongkol, karena dikatain “pejuang mal”.

Keren sekali Anda!

Nah kalo yang fanatik apalagi yang lagi jualan ditanya apa rahasia suksesnya? Ya jelas dia promosiin obat ajaibnya. Kayak pheromone :

https://lakitulen.wordpress.com/2015/10/16/kerang-ajaib-ulululululul/

However, trend ini mulai mereda belakangan, dan akun instagram tersebut berbulan-bulan jarang diupdate. Why? Realitanya, hal-hal seperti ini nguras banyak resources, ya khususnya uang dan waktu. Terlebih lagi, kalo mau “seimpresive” akun instagram tersebut resourcenya ga sedikit, yang mana gue yakin beberapa diantaranya model bayaran.

Dan Bilzerian lain kasus. Sekali main poker doi bisa menang jutaan dolar, klaimnya sebulan dia menang 50 juta dolar setahun, atau 4 juta dolar setahun. Selain itu ada isu bahwa dia dapet warisan dari bokapnya juga. In short, he can afford it.

http://www.complex.com/pop-culture/2015/08/dan-bilzerian-father-make-money

Apakah situasilo sama dengan Dan? Of course not. Lo itu unik, ga sama dengan Dan. Jadi kasus dan situasi Dan Bilzerian ga bisa 100% diaplikasikan pada dirilo.

Diluar pembahasan soal keren dan gotlek ini, ada muncul beberapa testimonial. Kalo gue perhatiin, isi testimonial-testimonial ini ga beda jauh sama kesimpulan yang gue dapet disini :

https://lakitulen.wordpress.com/2015/07/01/gotlek-yang-fenomenal/

Read between the lines, baca judul artikelnya dengarkan dengan teliti testimonial-testimonial tersebut. Maka lo akan paham maksud gue.

Jika ente TIDAK BERUNTUNG dilahirkan didalam lingkungan sosial tinggi yang memiliki banyak awewe untuk kamu jadikan teman. Itulah fungsinya GOTLEK.

Bagaimana mungkin seorang cowok biasa nga ngapa-ngapain tapi wanita cantik malah datang dan tergila-gila sama doi?

Yang paling bulshit dan faktap adalah mengiming-imingi orang untuk tidak berbuat apa-apa, menjanjikan hasil fantastis, tapi testimonialnya “buka bisnis, dapet kerjaan, kuliah, dst”. Masih ngotot ini termasuk “nga ngapa-ngapain”? Buka bisnis, kerja, kuliah itu nga ngapa-ngapain?

Nga ngapa-ngapain apanya?

SmileySignroflmao

Sisanya, produk baru “caranye punya banyak pacar” akan segera rilis. Mungkin perlu lu tanya, pacarnya sekarang ada berapa?

Ditanyain dan dibecandain Sarah Sechan beberapa waktu lalu doi gelagapan dan ngamuk-ngamuk curhat di blognya kok.

Kalo belon jelas apa yang pengen gue sampaikan, sekali lagi silakan liat post sebelumnya, “kerang ajaib”.

Apakah elo emang sedemikian lugu dan desperatenya sehingga mengabaikan “what works” dari awal peradaban manusia muncul di muka bumi? Itu hak elo.

It’s up to you. Lo mau menggunakan gotlek atau metode-metode PUA atau ikut seminar Hotguy System, itu terserah lo banget. Gue ga untung apa-apa, apapun yang lu pilih. Lo pilih PUA, metode yang dibeberkan secara gratis di internet bejibun. Lo bisa mulai dari http://www.pua-zone.com atau Maniac High’s Pickupguide http://pickupguide.com

Perlukah topik gotlek ini diangkat lagi nantinya? Ga perlu lah ya. Udah males guenya. Ga berbobot.

Sisanya, argumen doi ga berdasar dan kebanyakan cuma asumsi dan kesimpulan yang didapat entah darimana.

Dan kalo gue baca lagi post gue ini keknya cuma ngulang-ngulang post gue yang sebelumnya.

Mau bilang secara final, terserah… mungkin metode tersebut bakal works for you, ya silakan pakai. Karena kondisi dan situasi tiap orang itu beda-beda.

Bagi gue ini masalah menggunakan akal sehat aja. Argumentasi ga ada gunanya.

4 comments on ““Keren”

  1. lutfi
    November 2, 2015

    Cadas bang…
    Bener bnget kata abang (walaupun saya bukan ade abang)..
    Hehe..
    Gesekan dalam lingkup kehidupan dan sosial emang pasti ada untuk soal karyawanpun sama ..
    Cman segimana bisa bertahan aja..
    Mngkin itu yg saya tangkep bang..
    Thank berat bang.. Membangun banget artikelnya, ..

  2. Wildan Cuy
    November 3, 2015

    mungkin yang dimaksud “KEREN” itu adalah player “NATURAL”

    • exorio
      November 13, 2015

      Ga ada yang jadi “natural” dalam sehari. Semuanya butuh proses.

  3. Anonymous
    November 4, 2015

    Keren cuk..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 2, 2015 by in Opini and tagged , , , .
%d bloggers like this: