Laki Tulen

Reclaim Your Manhood Today!

“Mesin Uang”

Asli gue tercerahkan baca blog lo bro.
gue dulu pernah ikutan seminar salah satu dari kompani yg lo maksud tapi ternyata ga sesimpel teorinya. Terus di setiap sel juga gitu, gue kira mereka bakalan open dan ngebimbing kita yg baru2 ini ternyata ga juga. Bahkan gue aja belum pernah ngobrol secara personal sama founder2 nya.

Seperti yang berkali-kali gue bilang : seduction is a bad business.

Bukan dalam konteks baik atau jahat tapi lebih kepada sisi profitablenya atau engga. Silakan dibaca :

https://lakitulen.wordpress.com/2014/12/11/placebo-effect/

https://lakitulen.wordpress.com/2014/01/24/kecap_nomer_satu/

Praktek emang ga pernah sesimple teori. Itu bukan cuma di seduction aja.

Untuk mengubah seseorang, itu engga memakan waktu yang sedikit, apalagi cuma dalam itungan hari. Mungkin bisa bertahun-tahun.

Bisnis yang harus ngurusin clientnya selama bertahun-tahun udah jelas engga menguntungkan.

Dan kalau dipaksain dicramp hingga itungan hari, yang elo dapat ya cuma segelintir. Pas awal kali komunitas ini dibuat, cukup banyak yang mengutarakan kekecewaannya.

Tapi, dalam kasus ini jelas gue bakal ngebela company yang dimaksud. Kaget?

Tadinya gue mo reply langsung di komen, tapi gue rasa perlu dibahas panjang lebar disini.

Dan gue ga akan ngebalut artikel ini dengan gula-gula manis. Gue beberkan apa adanya aja.

“If you’re good at something, never do it for free.” – The Joker

76e4e34ec77ff38a4213f12d603b0f66

Skill/keahlian itu juga bukan sesuatu yang mudah didapat. Untuk ngebangun skill lo perlu persistensi dan kegigihan.

Silakan baca post ini :

https://lakitulen.wordpress.com/2013/07/15/way-to-the-mastery/

Suka main game?

Untuk bisa jadi jago main game apa yang perlu lu lakuin? Tentunya main game tersebut secara kontinu. Lo coba, lo coba dan lo coba lagi. Mati berkali-kali ulang lagi. Sampe elo nemu salahnya dimana dan elo perbaikin ketika elo main game itu lagi. Rinse and repeat, sampe elo jadi mahir. Bener ga?

Nah sekarang keliatan jelas, memang cold approach dan seduction itu bukan sesuatu yang mudah. Gue udah angkat ini dari awal gue mulai nulis blog ini. Tentunya untuk memiliki skill dan knowledge yang mereka punya juga bukan sesuatu hal yang mudah. Mereka menginvestasikan waktu dan energi untuk hal ini. Tentunya elo udah paham akan hal ini.

Kalo gampang, ya semua orang udah jadi player sekarang kan? Dan sekarang elo memerlukan bimbingan dari mereka untuk menjadi player yang sehebat mereka.

Coba deh, kalo misalnya elo udah kuliah atau kerja, dan ada anak TK/SD butuh bimbingan pelajaran karena mereka kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah.

FYI bimbingan belajar itu banyak yang nyari. Jangan salah. Kasian kan mereka kesulitan dengan pelajaran di sekolah. Dan itu sangat penting banget buat mereka dan orang tua mereka. Tentunya materi pelajaran TK/SD udah bukan hal yang sulit lagi buat elo kan?

Jadi kenapa elo belum menawarkan jasalo secara gratis untuk membimbing adik-adik generasi penerus bangsa ini? Of course, gue tau elo ini orang yang sangat sibuk, waktunya ga ada, elo ga kenal mereka, elo punya kepentingan sendiri dan seterusnya. Karena gue orangnya pengertian, gue bisa memahaminya.

Jadi tentunya elo yang udah dewasa juga harus memahami, waktu dan kegiatan orang lain itu juga cukup berharga. Di luar itu kepentingan semua perusahaan dan bisnis itu cuma 1 : keuntungan. Kalo mereka ga ngambil untung, mau survive darimana? Kalo misalnya lu mengharapkan service gratis, ya cari panti/dinas sosial.

Gue tau sendiri, karena blog ini udah 2 tahun gue jalankan. Permintaan meetup ke gue juga cukup mengalir. Seringkali gue ga sanggupi, karena requestnya juga cukup aneh. Gue diminta dari ujung ke ujung nyamperin yang bersangkutan ke rumahnya salah satunya. Dengan berbagai alasan seperti “menambah teman” atau “memperluas pergaulan” atau semacamnya.

Nah, kutipan yang ini :

Belom lagi kalo ada konsultasi apa2 duit. Ya memang si sah2 aja, tapi ujung-ujung cuma jadi mesin uang mereka.

Oke, gimana sekarang kalo dibalik. Sekarang kalo kata-katanya gue balik jadi begini :

Belom lagi kalo ada masalah dikit-dikit minta konsultasi gratis. Sah-sah aja, tapi ujung-ujung jadi mesin konsultasi gratis elo.

Yaaa, mungkin elo cuma mau konsultasi barang 1-2 jam. Kok kesannya pelit banget ya? Tapi elo ini baru satu orang. Gimana kalo ada 10 lainnya yang meminta hal yang sama ke mereka? Atau 20? Atau 100?

Kalo ada 100 orang dan setiap orangnya minta sekedar 1 jam aja, 100 jam mereka harus korbankan. 100 jam itu bukan waktu yang sebentar. Dalam bisnis, waktu adalah uang. Lo sendiri mau ga membuang 100 jam elo untuk orang lain secara gratis?

Stuck mentok dan buntu

Soalnya gue ga ada temen yg bisa diajak share begituan jadi bingung sendiri dan kalo stuck, udah deh mentok dan buntu.

Nah, ini akar permasalahannya. Elo bingung, stuck, mentok dan buntu. Sehingga elo MEMBUTUHKAN konsultasi.

Tapi satu hal yang elo entah gimana caranya kayaknya lo sendiri ga paham : itu masalah elo.

Semua orang punya masalah masing-masing dan ga membutuhkan tambahan masalah baru dari orang lain.

Tenaga kerja profesional itu ada karena ada orang atau entiti yang membutuhkan profesional untuk mengatasi masalah mereka. Gue ga sekedar ngomongin company sebelah aja. Tapi perusahaan manapun.

Gue kasih beberapa contoh kasus analogi.

Kasus 1 :

Misal perusahaan IT consultant, mau bikin app, tapi sayangnya mereka stuck, mentok dan buntu di programming, jadi mereka sewa programmer.

Ada gitu perusahaan yang minta ketemuan/kontek-kontekan programmer dengan alasan “sharing” atau “menambah teman” tapi ternyata programmernya diminta memprogram software mereka secara gratis? Dengan alasan perusahaannya bingung, stuck, mentok dan buntu?

Misalnya elo seorang programmer dan perusahaan IT tersebut mau menggunakan jasa elo, dengan alasan mereka bingung, stuck, mentok dan buntu. Mereka juga ga mau membayar elo karena alasan mereka engga punya uangnya atau engga mau jadi mesin uang jadi orang lain? Apa tanggapan elo?

Kasus 2

Misalnya perusahaan kurir. Si Tomi punya masalah karena dia BUTUH mengirimkan barangnya ke daerah lain. Itu masalah dan kepentingan Tomi, bukan masalah siapa-siapa. Mungkin dia bisa nitip barangnya ke teman dia yang berencana mengunjungi daerah tersebut. Tapi kebetulan urgent banget nih dan semua teman dia ga ada yang bisa dititipin.

Untuk itulah perusahaan kurir semacam J*E dan T*KI itu ada kan? Coba kalo si Tomi minta kurir T*KI/J*E dateng ke rumah dia dengan modus “mau sharing” tapi sebenernya dia cuma minta barangnya dianterin gratis. Dengan alasan dia ga ada teman buat dititipin atau ga mau jadi mesin uang buat kurir T*KI/J*E?

Kasus 3

Gimana kalo jasa kita ganti dengan materi. Lo lapar, lo perlu makan. Semua orang perlu makan tentunya, dan kalo ga makan koit dong. Jadi elo beli beras di warung.

Lo bikin nasi, tapi lo komplen nasinya hambar, kurang ngegigit gitu. Lo balik ke warung tersebut, minta lauk gratis. Kira-kira bakal dikasih ga?

Nah kemudian elo curhat ke orang lain kenapa warung itu ga mau ngasih lauk gratis, dengan alasan “memang sih jualan sah2 aja, tapi ujung-ujungnya kalo begini mah cuma jadi mesin uang itu warung”. Bersyukurlah kalo elo ga disambit timbangan beras sama si penjaga warung atau dikatain orang gila.

Dan ya ga usah elo yang bilang, gue tau prakteknya ga sesimple teorinya dan itulah sebabnya elo membutuhkan bimbingan. 

Sama dengan adik-adik generasi penerus bangsa kita, sekolah itu ga gampang. Mereka juga butuh bimbingan. Kenapa elo belum secara sukarela membimbing mereka membantu mereka melewati masalah sekolah mereka? Apakah itu berarti elo orang jahat/ngawur? Tentu engga. Posisilo salah atau benar?

Value taking-value giving

entitlement

Gue share dikit trik di kasus nyata :

Pengalaman gue pribadi gue. Partner gue rela jauh-jauh dari ujung ke ujung sekedar ngeprospekin target gue. Memang gue minta secara langsung. Tugas udah dibagi dua, dan marketing itu tugas gue. Tapi beberapa hal terlebih dahulu :

  1. Gue sama yang bersangkutan udah kenal sejak lama, dia tau gue luar dalem, seringkali gue dikatain kelewat idealis : value gue nambah 1
  2. Gue menunjukkan niat  serta keseriusan gue ngejalaninnya, bukan sekedar NATO : value gue nambah 1
  3. Kalo target gue dapet, gue dapet bonus, partner gue juga dapet, sama-sama untung : value gue nambah 1
  4. Gue juga mau mendengarkan yang bersangkutan secara tulus : value gue nambah 1
  5. Gue ga kemaruk, setelah dibantuin, gue tetep jalan sendiri tugas yang memang jadi tugas gue dalam kesepakatan kita : value gue nambah 1

Jelas, ketika gue minta bantuan partner gue, dia langsung penuhin. Walau udah malam dan jalanan macetnya minta ampun dia bela-belain dateng ke lokasi. Tapi intinya : gue punya sesuatu untuk dioffer kembali, walau tidak berbentuk materi sepenuhnya jadi yang bersangkutan ga keberatan melakukan hal tersebut. Bahkan dengan “value-value” yang gue tawarkan tersebut, gue tau dan sadar secara penuh bahwa sebenernya partner gue ga wajib melakukannya. Itu yang namanya MUTUAL; saling memberi.

Jadi saran gue, pikirkan baik-baik kenapa sel elo ga open dan ga mau membimbing elo?

Gue bantu dikit, kalo gue lihat, problemnya simple aja. Ini asumsi gue, CMIIW :

  1. Elo dateng setelah ikut seminar sekali, elo bayar jasa seminar mereka dan elo merasa self-entitled untuk mendapatkan service mereka secara gratis, mendapatkan bimbingan gratis seumur hidup dari orang-orang di selnya. Oke ini hiperbola, tapi you get the idea.
  2. Elo dateng ke pertemuan sel tersebut dengan pola pikir self entitlement seperti itu, bahwa mereka wajib membimbing elo. Ya udah jelas mereka ga ada yang mau open atau ngasih bimbingan ke elo.
  3. Dalam kasus ini, elo yang membutuhkan bantuan mereka. Apa yang sudah elo OFFER, atau setidaknya TUNJUKKAN ke mereka bahwa elo pantas dibantu dan dibimbing oleh mereka?
  4. Apa benefitnya buat mereka dalam membimbing elo? Yang elo bayar hanya seminar aja. Jadi ya mereka sudah deliver apa yang elo bayarkan ke mereka. Service tambahan seperti sel itu bonus. Dan yang keputusan untuk ikut seminar tersebut itu elo sendiri.
  5. Kalo sekedar bilang karena elo stuck, mentok dan buntu, itu masalah elo, dan setiap manusia di dunia ini pasti punya masalah, termasuk founder-founder serta orang-orang di sel tersebut. Sedangkan lo sendiri melihat orang-orang di sel tersebut sebagai potensi pembimbing gratis tanpa pamrih.

Nah, jadi bisa ga lo pikirkan apa yang membuatlo berpikir mereka mau menempatkan masalah elo sebagai prioritas mereka? Apa yang bisa elo tawarkan untuk mereka? Sama-sama alumni? Elo telah membayar seminar?

Cara kerja sel sebenernya gue udah tau garis besarnya. Inget business model dating coach indonesia itu menggunakan business model yang sama dengan dating coach di luar. Sel (atau “affiliate”) yang elo maksud disini itu independen. Mereka cuma sama-sama alumni sama elo. Mereka sebenernya ga wajib memberi lo apa-apa.

Mungkin beberapa petingginya dapat bagian atau gimana, entahlah, yang jelas supaya grup bisa bertahan harus ada pemimpinnya kan, setidaknya yang mengatur pertemuan rutin. Dan kalo lo pernah memimpin team lo pasti tau gimana beratnya memaintain keutuhan team, ngejaga morale mereka dan sebagainya. Kalo pemimpin selnya ga dapet bagian, I dare to say they’re stupid. Still, yang ngebayar (kalo memang mereka diupahi) mereka bukan elo, dan mereka dibayar bukan untuk jadi konsultan pribadi elo.

Facepalm

Nah membernya kemungkinan besar engga dapat bagian. Mereka orang-orang yang sama seperti elo.

Gue kasih analogi lainnya :

  1. Kalo lo dateng ke rumah seseorang yang baru lo kenal, apa yang bakal elo lakukan? Sebagai tamu?
  2. Lo keluar negeri sebagai turis, belanja disana, income negara disana bertambah dengan kedatangan elo, apakah itu berarti lo mendapatkan hak untuk diperlakukan lebih spesial dari turis-turis lainnya?
  3. Beberapa bulan lalu gue liat banyak post soal puncak gunung tujuan wisata dalam keadaan kritis karena sampah dari kertas ucapan buat selfie. Post di facebook tersebut juga ngasih komentar “Kan udah bayar, mana bayar mahal lagi. Seharusnya pengurus sana yang ngurusin sampahnya dong!”
  4. Lo dateng ke club dan mengharapkan pengunjung lainnya bakal otomatis memperlakukan lo sebagai raja, meskipun lo udah bayar cover charge dan beli minuman, tetap lo harus bergerak. Elo ga lebih spesial dari pengunjung lainnya.

Dalam kasus ini posisi dan pola pikir elo self-entitled lo yang sangat-sangat ga tepat. Sense of self entitlement itu artinya elo merasa pantas mendapatkan perlakuan spesial.

Terus terang aja, masalah ini bukan masalah bisnis aja, tapi masalah interaksi antar manusia yang paling dasar. Kalo hal-hal seperti ini lo ga paham, please, ga usah mimpi HB-HBan deh.

Coba baca post gue yang ini : https://lakitulen.wordpress.com/2014/04/19/wingman-value-revisited/

Bagian “value revisited”

Pahamin baik-baik.

Ehm

Btw lo ada kontak atau apa yg bisa dihubungi bro? Gue mau sharing2 aja dan mau tau lebih dalem lagi tentang pua dll.

Gue rasa sampe sini elo udah tau jawaban gue. Blog ini ga ada yang ditutupi. Semua knowledge yang gue post disini itu semua yang gue tau.

Cuma elo perlu paham. Blog ini sekedar hobi. Alasannya uda gue buka juga kenapa gue jalanin blog ini.

Kalo gue diminta lebih jauh dari itu maaf aja gue ga bisa menyanggupi.

Gue udah bilang : gue ogah terjun ke bidang ini professionally.

Kalo lo minta gue secara sukarela jadi konsultan pribadi seseorang yang ga gue kenal dari internet maaf aja gue bakal jawab dengan TEGAS : no thanks.

Diluar itu gue punya kepentingan sendiri, punya kesibukan sendiri, tapi yang terutama gue ga kenal elo secara pribadi.

Untuk masalah “sharing” sendiri, mohon maaf gue saat ini masih belum membutuhkan teman curhat/sharing baru, dan belum siap dicurhatin atau disharingin orang baru😛

Dan kalo memang mau tau lebih dalem lagi tentang PUA, dari awal blog ini sudah disebutkan : resource yang free udah bertebaran di internet. Buanyak. Bertebaran. Google juga udah canggih beud. Sayang aja, teknologi search engine udah secanggih hari gini masa ga elo manfaatkan? Ga bisa inggris? Ya belajar. Ga ada waktunya? Tapi begini begitu? Duh masalah elo banyak sekali ya?

Gue beberapa kali dapet tawaran private coaching dan yang bersangkutan siap ngebayar. Itu aja gue tolak. Kenapa sekarang malah banyak orang yang berpikiran gue mau melakukannya secara gratis?

FYI lo bukan satu-satunya aja, gue kasih contoh beberapa :

Screenshot 2015-06-19 02.59.29

Screenshot 2015-06-19 03.00.10

Setelah PM, minta ketemuan dan semacamnya, biasanya mereka menghilang. Tanpa ada usaha sendiri sama sekali. Masih banyak yang lainnya, tapi gue males nyarinya. Lah untuk dirinya sendiri ga ada usaha, ngapain gue bersusah payah buat mereka? Maunya didatengin terus disuapin, sedangkan you got nothing to offer? Please, GROW UP, dan yang lebih penting : MAN UP.

Mungkin ini salah satu problem utama elo dengan cewek : mentalitas self entitlement (poor/poverty mentality) ini. Sebelum kepikiran ngegaet cewek supermodel, ini dulu dibenahin. Cewek itu rata-rata lebih terkalibrasi secara sosial dibandingkan cowok. They can smell your intention miles away. Lo ga punya apa-apa untuk dioffer ke mereka, tapi lo mengharapkan mereka menjadi pendamping pribadi elo. Um ya jelas lah udah ngawur dimananya. Di luar itu elo belum bisa bertanggung jawab untuk well being elo sendiri, gimana elo bisa dipercaya menanggung well beingnya calon pasangan elo? Elo malah menyalahkan orang lain?

Konsultasi

Kalo  elo sangat membutuhkan konsultasi-konsultasi atau jawaban-jawaban instan dengan delivery supercepat kapan saja elo membutuhkannya, ya itulah peran services yang ditawarkan company sebelah. Tapi jangan menuntut siapa-siapa jadi konsultan pribadi elo tanpa pamrih, kemudian ngomel kenapa mereka ga mau melakukannya.  Dan jelas, ga ada satu orangpun di dunia ini tahu jawaban akan semua pertanyaan-pertanyaan elo.

Well being dan perkembangan diri elo adalah tanggung jawab dirilo sendiri. Bukan tanggung jawab company sebelah, atau siapa-siapa. Tapi tanggung jawab dirilo sendiri.

Mindset dan mentalitas seperti ini cukup umum gue temui di komunitas indo. Baik seduction maupun non seduction. Entah sadar atau engga.

Ga usah cewek, bahkan gue udah bisa smell your intention : lo cari pelatihan/konsultasi gratis.

Nah, permasalahan lainnya, bukan cuma being cheap tapi minta service luar biasa doang.

Gue kasih analogi lagi, ini ibarat lo beli motor Yamaha, tapi lo komplen ke bengkel Honda, dan minta service gratis. Lucu ga?😛

Sukur-sukur kalo lo ga diketawain sama montirnya atau diusir dari tuh bengkel.

Gue ga tau jelasnya mereka ngajarin apa di seminarnya mereka. Kalopun gue mengiyakan konsultasinya, gue ga tau jeroannya kayak apa. Jadi ya memang mungkin kalo elo perlu banget konsultasi, ya silakan refer ke mereka lagi.

Lo bawa motor Yamaha ke bengkel Yamaha aja lo tetep dicharge untuk service. Ya kan? Ga mau bayar? Ya ga usah konsultasi.

“Tapi kalo motor gue ga diservice nanti rusak”

Again, itu masalah elo.

Kaskus Lair & IndoPUA

Dari gue sendiri udah gue bikinin Kaskus Lair dan IndoPUA. Cuma, gue lebih condong menuntut usaha dari elo : keluar dan post FR. Dan kalau sesuai dengan kapasitas gue untuk menjawab atau komentar, pasti gue komentarin kok. Masih kurang?

So far, grup yang dibuat sebelah memang rame, tiap hari pasti ada post. Tapi yang gue liat sih sebagian besar dari mereka kebanyakan profesor cinta. Di IndoPUA sendiri cukup sepi, karena tuntutan FR ini. Ya mungkin malu kalo nulis FR, kalo emang di background mereka menjalankan semua post dan artikel gue, gue udah cukup senang.

Kalo lo kecewa sama seminarnya, sebenernya lo bisa research dulu sebelum ngambil produknya. You have all the time in the world sebelum memutuskan mengambil produk mereka. Google udah ada, alumni udah ada, testimonial dan semacamnya udah ada. Teliti sebelum membeli. 3-5 juta gue tau itu bukan uang yang sedikit. Nah tapi mereka juga ga nipu, bisnis mereka legal kok. Demandnya ada. Mereka menyediakan servicenya. Elo membutuhkannya, elo mengambilnya. Yang mengambil keputusan tersebut elo. Jadi ya kesalahan bukan sepenuhnya kesalahan mereka. Satu-satunya orang bisa disalahkan disini yang cuma elo.

So kesimpulannya sih, business wise, posisi mereka udah benar dan naluri bisnisnya mereka memang keren, itu gue acungin jempol.

Gue tau juga, bahwa ketika gue start mereka udah ada. Mungkin baru sekitar 1 tahun setelah buku The Game terbit (The Game terbit 2005, company tsb kira-kira 2006-2007), mereka mulai bergerak. Kayak topik soal ahli game yang gue angkat diatas, masa iya 1-2 tahun udah jadi expert? Coba lu pikirin baik-baik, pelan-pelan.

Gue mulai baca The Game sekitar tahun 2007an.  Ketika awal gue memang tergoda ambil servicenya mereka, tapi gue cari tahu dengan teliti. Terlebih lagi gue juga, ya sama, ngerasa butuh konsultasi dan “teman sharing”. Beruntungnya gue, ada yang ngeguide gue juga waktu itu. So, pada akhirnya gue ga minat ambil servicenya mereka. Best. decision. ever. Tapi ya itu kan pengalaman gue.

BTW selamat menunaikan ibadah puasa bagi semua yang merayakannya!

Cheers.

2 comments on ““Mesin Uang”

  1. Silenthowler
    June 19, 2015

    nge jleb banget T_T saya suka artikel yang ngebahas kesalahan-kesalahan kaya gini. Jujur susah banget sadar akan kesalahan sendiri.Saya sendiri melakukan hal diatas. keren bro, membantu banget artikelnya *Big thumb*

  2. Pingback: Guru kencing berdiri murid kencing berlari | Laki Tulen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 18, 2015 by in Opini and tagged , , , , .
%d bloggers like this: