Laki Tulen

Reclaim Your Manhood Today!

Altruism

Kebenaran selalu memiliki dua sisi

Dari kecil kita diajarkan untuk menjadi orang yang “baik” dan engga egois. Ini tertanam dengan sangat kuat hingga kita dewasa. Realita dunia sesungguhnya “baik” atau “jahat” dan “benar” atau “salah” itu sangat relatif, dan sebenarnya orang yang merasa dirinya yang terbaik biasanya menjadi jahat di mata orang lain.

Al Capone, seorang gangster di Amerika yang namanya mendunia merasa dirinya berbuat kebaikan dan bertanya-tanya mengapa justru orang mengganggapnya sebagai penjahat, dan merasa kecewa setelah apa yang dia lakukan untuk orang sekitarnya.

Al_Capone

Contoh lainnya, Jerman yang mengalami kekalahan di perang dunia, menjadi pihak “bad guy”, namun pernah ga elo berpikir kenapa Nazi bisa memiliki pengikut sedemikian banyak dan bahkan hampir mendominasi dunia? Gue yakin para pengikut Nazi beranggapan bahwa mereka mengikuti pihak yang benar. Apabila Nazi memenangkan perang dunia, apakah kita akan tetap menganggap pihak axis sebagai pihak yang jahat? Ada yang mengatakan bahwa sejarah ditulis oleh pemenang; “History has been written by the victors”. Jadi ga heran dengan propaganda barat terlebih lagi film-film Hollywood yang menggambarkan Nazi sedemikian sadis dan jahatnya.

Atau mungkin film-film perang Vietnam seperti Full Metal Jacket atau Tour of Duty dan Platoon, menggambarkan para serdadu vietnam yang haus darah sedangkan para tentara Amerika sebagai pihak yang penuh belas kasih, simpati dan empati terhadap lawannya. Kalau saja Vietnam mendominasi kultur popular, tentunya kita akan melihat penggambaran sebaliknya.

Atau mungkin para extremis agama yang memaksakan kehendak mereka. Bagi mereka tindakan mereka itu baik, mungkin malah menginginkan orang lain ikut masuk surga sama mereka tapi ya itu kan “baik” dari sisi mereka sendiri. Sisanya bakal melihat mereka sebagai orang gila, maniak dan semacamnya.

Altruism dan Selflessness

Kembali ke masalah egoisme dan kebaikan. Tindakan-tindakan yang selalu dipuji oleh sejarah biasanya merujuk kepada sikap altruistis, yaitu tidak memikirkan dirinya sendiri sama sekali, namun selalu mengedepankan kepentingan orang lain diatas dirinya.

Sewaktu gue masih socially damaged, sikap ini mengakar kuat ke dalam diri gue, dan seringkali gue sangat kecewa apabila tindakan “altruis” ini tidak mendapatkan balasan yang setimpal. Singkatnya gue menjadi benci dengan orang yang gue tolong. Mirip seperti Al Capone.

Ketika gue bekerja di luar, gue selalu bolak-balik naik pesawat, dan tentunya elo membaca kartu instruksi keselamatan penumpang pesawat yang dikeluarkan oleh FAA dan menjadi standard untuk semua maskapai penerbangan di dunia, termasuk di Indonesia. Ada satu instruksi yang menarik banget bagi gue dan menyebabkan gue bertanya-tanya lebih jauh, dan instruksi ini ditujukan khusus untuk para orang tua yang membawa anak-anaknya.

Ketika tekanan kabin menurun dan masker oxygen dikeluarkan dari atas kursi, instruksi penting adalah menggunakan masker untuk diri sendiri terlebih dahulu, sebelum berusaha menyelamatkan anak yang bersangkutan.

Dan inget, ini sudah menjadi standard prosedur FAA buat semua maskapai penerbangan di dunia, sudah diformulasikan semenjak pertama kali penerbangan komersial muncul di dunia.

Dibawah ini instruksi 3 maskapai penerbangan yang berbeda, dari negara yang berbeda :

3 1 2

Sebagai orang tua, tentunya insting melindungi para anak-anaknya sangat kuat. Logikanya, seharusnya anak-anak, apalagi balita dan bayi yang engga berdaya diselamatkan lebih duluan kan? Tapi kenyataannya instruksi tersebut memerintahkan untuk menyelamatkan diri terlebih dahulu sebelum berusaha menyelamatkan orang lain, termasuk anak-anak yang dibawa dalam penerbangan tersebut.

Dulu gue ga terlalu mikirin hal tersebut. Tapi setelah gue bolak balik naik pesawat, terlebih lagi belakangan gue mulai dimentorin oleh partner dan client gue, ada satu hal yang mirip mereka ajarkan juga : selamatkan diri dulu. Beberapa artikel soal business dan leadership yang gue baca (sebagian besarnya dari HBR, linknya lupa semua), juga mengajarkan hal yang sama : selamatkan diri dulu.

Kalo menggunakan analogi penerbangan, it all make sense to me now. Sejernih kristal. Kalo tekanan kabin menurun, ada kemungkinan penumpang pingsan dan berlanjut ke maut. Sekarang kalau orang tua menyelamatkan anaknya terlebih dahulu, sedangkan dirinya terlantar, apa akibatnya nanti? Atau karena orang tua panik, menelantarkan dirinya dan karena panik si anak tidak dapat terselamatkan dengan benar, bisa berujung maut bagi keduanya. Yang artinya tindakan seperti ini justru membahayakan lebih banyak nyawa. Dua nyawa.

Kalopun si anak terselamatkan di penerbangan tersebut, tapi orang tuanya meninggal, siapa yang bakal mengurus dia nanti? Masuk akal ga?

Baik is Good, dalam Kadar Tertentu

Ya gue tetep setuju, bersedekah, atau menolong orang lain tanpa pamrih itu memang sebaiknya dilakukan.

Yang perlu dihindari, misalnya elo sedang nyasar di kota yang baru elo datangi dan uang elo pas-pasan. Kemudian elo didatengi oleh orang miskin, memohon-mohon kepada elo, dan elo menyerahkan semua uang elo ke dia. Uang tersebut yang mana bagi elo aja udah termasuk pas-pasan, tidak akan banyak merubah hidup si miskin tersebut.

Si miskin tetap kesulitan, dan ditambah elo stuck in a deep shit. Elo ga tau harus kemana lagi, dan mungkin elo jadinya terpaksa ikutan ngemis sama dia. Sama-sama apes kan jadinya, niatnya mau menolong, sekarang malah elo membuat kesulitan satu orang baru lagi : diri lo sendiri.

1024px-BillMelindaGatesFoundation

Lain halnya seperti Bill Gates, yang sekarang membangun yayasan Bill & Melinda Gates, ya ga masalah, pasangan ini udah tajirnya minta ampun. Yayasannya sendiri kini punya income yang besar, mencapai 60 milyar dolar. Kalo ga ada income sama sekali ya yayasan ini ga bakalan bisa bertahan lama, sama-sama ancur dengan yang mau ditolong.

“Selfless Good Deed”

Menurutlo ada ga kebaikan yang benar-benar murni tidak egois dan murni tanpa pamrih?

Nyinggung agama sedikit lagi, misalnya pendeta yang hidup terisolasi, menjauhi harta dunia, menolong orang banyak, itu mereka lakukan untuk diri mereka sendiri juga. Mereka mungkin menemukan kebahagiaan dengan hidup sederhana, menjauhi kompleksitas hidup modern dan duniawi. Mereka juga bertujuan untuk mencapai pencerahan yang lebih tinggi, untuk diri mereka sendiri.

Atau mungkin elo bersedekah dengan alasan sedekah itu ibadah. Artinya elo mengharapkan balasan, yaitu jalurlu ke surga akan lebih dimudahkan. Bener ga?

Okelah, misalnya ketika seorang ateis menolong orang lain tanpa pamrih, dia setidaknya akan mengharapkan orang tersebut lebih bahagia karena pertolongan tersebut, which is yang artinya membuat dirinya merasa sedikit lebih baik dengan menolong orang lain, bener ga?

Atau mungkin baik karena tuntutan masyarakat?

Selfless good deed is nonsense. Ga ada orang yang melakukan kebaikan murni untuk menolong orang lain.

Makanya gue inget banget dulu ada yang nge-pm, “kok ga ada yang tulus ngajarin seperti situ?”.

Balasan gue ke dia cuma satu “yakin lo gue tulus?”😀

1287666826226

Be Good, But Be Genuinely Good

Agak sulit memang mendefinisikan kata “baik”. Tapi yang jelas, gue banyak nonton film-film dokumenter. Gue sendiri suka nonton film dokumenter soal binatang. Gue rada ogah ngerefer ke penelitian scientific, tapi jelas ada riset yang jelasin bahwa “moral” itu sebenernya udah tertanam dalam insting.

Buktinya? Pernah lo liat serigala makan serigala lainnya? Pernah lo liat beruang ngebunuh binatang lain tanpa alasan? Pernah lo liat kucing membunuh anak-anaknya tanpa alasan? Simpanse bahkan punya sistem moral yang lebih kompleks dibandingkan binatang lain dan sepertinya mereka sadar akan sense of fairness, reward-punishment, justice dan semacamnya.

Manusia berlagak sombong dengan mengatakan dirinya lebih tinggi dari hewan. Sayangnya seringkali kasus kejahatan itu lebih karena alasan sepele atau bahkan cuma karena ego yang terluka. Atau mungkin malah mengejar hal-hal semu seperti status dan sejenisnya.

Hubungannya ke Seduction

Kira-kira keseluruhan artikel ini ada hubungannya ke seduction ga?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 25, 2015 by in Inner Game, Opini and tagged , , , , .
%d bloggers like this: