Laki Tulen

Reclaim Your Manhood Today!

Pede aja lagi

“Pede aja lagi!” biasa advice yang gue dapet waktu dulu, khususnya selagi gue masih terpuruk di bawah. Banyak orang yang bicara soal rasa percaya diri, atau mungkin malah pake kata “confidence”, seolah-olah ini udah jadi sesuatu yang alamiah buat mereka.

Mungkin mereka memang udah pede, tapi ngelontarin advice seperti itu ke orang yang socially damaged kayak gue dulunya won’t be helpful at all.

Gue bukan Sigmund Freud atau semacamnya, tapi ini pengamatan gue kepada orang-orang sekitar… rasa percaya diri itu banyak wujudnya, dan banyak definisinya menurut tiap-tiap orang yang melontarkannya. Tapi kalo menurut gue sih, percaya diri itu lebih kepada keberanian bertindak. Optimisme itu juga termasuk rasa percaya diri kalo menurut gue.

Sebagai individu, jujur aja kemampuan gue ga luar biasa. Baik dalam bidang pekerjaan gue maupun bidang seduction yang dibahas di blog ini. Beberapa mungkin bahkan melampaui gue, tapi problemnya adalah mereka enggan kalau disorot. Dan ini termasuk rasa percaya diri, bener ga?

Yang jelas rasa percaya diri itu penting dan krusial, tapi ga ada yang bisa mendefinisikannya secara pasti. Ada teori textbook psikologi, soal self-esteem, self actualization dsb. Tapi praktek ga pernah semudah teori.

Yang jelas juga, rasa percaya diri itu krusial banget di bidang seduction, dalam hal ini memikat lawan jenis. Ga usah aneh-aneh yang teori evolusi atau lymbic system, negging, atau semacamnya. Ketika lo deket sama orang yang peraya diri, mereka belum tentu aware sama hal-hal seperti itu.

Dan ini berlaku di cewek dan cowok. Orang percaya diri bakal menarik orang lebih banyak lagi. Ngaku lah, lo-lo yang mana mau deket-deket orang yang suka ngomel, ngeluh, atau minderan, baik cewek maupun cowok.

Nah, karena rasa percaya diri ini begitu abstrak, banyak metode juga yang mengclaim dapat memberikannya ke elo secara instan. Ya, mayoritas orang emang doyan yang instan dan cepat, entah kenapa.

Martial art juga diclaim bisa menumbuhkan percaya diri.

Mountain biking juga bisa diclaim bisa menumbuhkan percaya diri.

Yoga, pilates, dsb… you name it. Semuanya mengclaim bisa membantu elo meraih rasa percaya diri.

Atau mungkin malah metode seperti tapping (lulz) :

Yang katanya bakal memberi elo hasil instan tanpa susah payah buat mendapatkan rasa percaya diri.

Jawabannya? Gue ga tau. Karena gue ga pernah nyobain hal-hal seperti itu.

Dan baru-baru ini ada yang nanya soal self hypnosis.

Which is, ya sama juga diclaim bisa memberikan elo rasa percaya diri secara instant.

Mungkin semua itu works, tapi untuk orang-orang tertentu.

Flappy Bird

Masih inget soal game mobile yang jadi fenomenal ini? Kok ngomongin game lagi?

Jadi gini, setelah Flappy Bird booming di pasaran, banyak clone-clone game ini bertebaran, karena game ini relatif mudah dibuat, apalagi oleh developer yang udah pengalaman ngedevelop game selama bertahun-tahun. Mungkin bukan cuma 1-2 clone aja, puluhan atau bahkan ratusan jumlahnya baik dari lokal maupun luar.

Yang jelas, clone-clone ini keliatan banget bahwa mereka ingin ngedompleng kesuksesan Flappy Bird. Tapi kenyataannya 2 tahun setelah Flappy Bird original buatan Dong Nguyen, ada ga yang sampe fenomenal kayak Flappy Bird? Padahal ada beberapa titel yang 100% sama, 100% feelnya sama, 100% grafiknya sama, bahkan gue liat ada beberapa app yang namanya 100% sama.

Tapi yang mengkopi kesuksesan Flappy Bird? None, alias : NIHIL.

Dunia ini berubah setiap nano detiknya, dan satu kondisi ga bisa dilakukan dua kali dengan cara yang sama, untuk menghasilkan output (hasil) yang sama.

Dong Nguyen sendiri setelah kesuksesan Flappy Bird masih menjadi orang yang pemalu, Terbukti ketika Flappy Bird meledak dan banyak komentar negatif yang diarahkan personally ke dia, dia malah narik gamenya dari appstore. Stupid? Ya kalo gue bilang sih haha.

Mungkin kalo gue di posisi dia gue bakal cuekin semua komentar negatif n just go with it. Tapi ya itu decisionnya dia, dan dia sudah memutuskan. Why? Ya jelas, karena gue bukan Dong Nguyen dan Dong Nguyen itu bukan gue.

So. Misalnya ada orang yang sukses dalam satu hal, dan elo pengen sukses juga dengan ngikutin 100% cara dia, gue rasa lo malah bakal kecewa berat.

“Success”

Beberapa hal yang ditawarkan program-program seperti martial art, misalnya karate.

Lo akan mendapat “status” berupa sabuk berwarna tertentu kalo sudah menyelesaikan latihan selama beberapa waktu. Yang paling tinggi, itu ban hitam garis 2 (Dan 2) kalo ga salah. Dunno, udah lama, dan gue ikut karate pas waktu gue masih bocah.

Ketika gue naik tingkat dan dapet sabuk warna baru, it feels really goooood. Gue bahkan membual sama temen-temen gue di sekolah, pamer jurus dan sebagainya. In short : I gain confidence. Gue meraih rasa percaya diri.

Pengalaman gue yang lainnya, adalah gue dapet rank tribe elder di mASF, dan ya gue meraih rasa percaya diri baru lagi. Walaupun sebenernya rank itu ga banyak berarti di kehidupan nyata.

Ditambah lagi dari cerita-cerita gue yang sebelumnya soal tempat kerja gue dulu, dimana gue selalu naik pangkat dan jadi pemimpin.

Ditambah lagi kesuksesan gue ngegaet cewek target gue di lapangan dari hasil cold approach.

Belakangan gue disupport oleh bos gue yang mengangkat gue jadi partner.

Dan baru-baru ini client gue menawarkan diri untuk ngasih bimbingan (coaching) bisnis gratis sama dia. Prolly ada udang di balik batu, tapi entahlah. Gue lebih milih untuk mikir positif dan benefit kedua pihak.

Liat polanya ga? Coba simpulkan sendiri.

Self Hypnosis

Salah satu metode yang ditanyakan di grup IndoPUA. Bekerja ga? Dan seberapa dashyat teknik ini bekerja?

Honestly, kayak yang gue bilang, gue ga pernah nyoba teknik-teknik ini apalagi secara disiplin dan rutin. Jadi entahlah.

Tapi my take on this tho : it works, tapi ga sedashyat yang elo kira.

There is no such thing as magic pill.

Gue percaya, self hypnosis itu bukan cuma lo ngaca terus ngoceh tentang dirilo, tapi pemilihan kata-kata yang positif untuk hal-hal yang lo bicarain setiap hari.

Misalnya dulu sering anak buah gue yang ngomong “ga bisa”. Tapi gue bilang “udah dicobain belon?”. Pas waktu dia bilang “belon”, pengen gue jitak rasanya. Coz tau darimana ga bisa sedangkan elo cobain juga belon?

Ketika gue dapet tantangan baru, biasa gue jawab “siape takut”. Kalo gue sedikit bimbang minimal gue jawab “gue cobain deh” atau “I’ll do my best”.

Walo beberapa kali gue stuck in a very deep shit dengan attitude seperti itu. Lol.

Nah, sisanya, biasanya gue suka dengerin lagu-lagu yang upbeat yang banyak pakai kata-kata “I”, “Me” dan sejenisnya.

Contohnya Titaniumnya David Guetta
“You shoot me down, but I won’t fall, I am Titanium”

Atau Top of the Worldnya chumbawamba
“I’m on top of the world, I’m on top of the world”

Atau Princess of the Universenya Queen
“I’m a man that will go far, Fly the moon and reach for the stars, With my sword and head held high,”

Ketika gue mulai carried away sama lagu-lagu yang gue dengerin, gue mulai ikutan nyanyi. Dan yeah ini mungkin termasuk affirmasi juga.

Jadi sebisa mungkin hindarin lagu-lagu cengeng yang sok galau dan sok tragis apalagi yang pake lirik aku, saya, I, me, plus film-film cengeng kayak j-dorama atau k-dorama. Hadeh… itu engga banget deh.

Walo gue ga bilang 100% haram ya. Salah satu film “cengeng” yang gue suka banget itu “Les Miserables” nya Anne Hathaway dan Wolverine (Hugh Jackman maksudnya).

Again, bukan berarti sekali lo dengerin Chumbawamba terus lo berubah jadi superman besokannya. Ini semua tetep perlu waktu.

Deep Shit Ain’t So Bad

Gue ceritain satu kisah gue waktu kerja di luar negeri.

Waktu itu ketika manajemen ngasih tugas mission impossible. Manajemen ngegampangin dan dibilang udah sign deal sama client. Supervisor gue nyerah. Gue bilang ok gue yang handle. Dan pada akhirnya supervisor gue ga mau urusan sama sekali, boro-boro ngebantuin.

Gue pernah ngerjain proyek 4 bulan dengan kru sekitar 5 orang. Proyek ini ga masalah waktu deliveri dan client sangat puas.

Sedangkan proyek ini 1 bulan, dengan skala mungkin 10x lipatnya dan kru 3 orang. I’m not even kidding. 1 orangnya supervisor gue yang udah ogah-ogahan, males urusan sama proyek ini.

Selama berhari-hari tiap hari gue selalu mengingatkan manajemen, “don’t expect too much, we have lack of time and people working on this”. Dan setiap permintaan gue untuk memfasilitasi proyek ini ga bisa dipenuhi oleh manajemen. Walau beberapa diantaranya dipenuhin, tapi sisanya gue puter otak terus. Pertengahan bulan, gue keringet dingin, what should I do.

Ketika hari Hnya, boss ngedobrak masuk kantor. Langsung duduk disamping gue dan bilang.

“what is this?”

“that’s the project”

“that’s not what the client asked for”

“yeah and I’ve told you don’t expect too much, this is all what we can do”

“you should’ve said you cannot do this”

“I’ve told you but you don’t listen, (supervisor gue) told you too, but you still said we can do it”

And then, let the blame game begin. Boss gue semakin menaikkan suaranya, dan gue juga menaikkan suara gue. Temen gue narik gue “it’s not worth it”.

Pada akhirnya gue bilang “ok, I’m sorry, I admit it, It’s my fault”. Tangan gue kepal kenceng-kenceng dan gue udah siapin kuda-kuda seandainya gue diserang secara fisik.

Dan setelah gue bilang  “it’s my fault” bos gue berlagak paling benar “You should have said that earlier so we don’t have to argue like this!”, ngedobrak pintu dan teriak-teriak “IDIOTS!”

Gue marah besar, gue ga bisa ngomong. Dan gue juga ga berani bertindak apa-apa karena gue di negeri orang. Kalo gue bikin masalah di negeri orang, I’ll stuck in a deeper shit than this.

Ga lama setelah kejadian itu, temen dan supervisor gue resign. Gue milih bertahan, karena gue mulai berpikiran bahwa kalo misalnya gue ikutan resign, berarti gue kabur dari masalah.

Sedangkan temen dan supervisor gue yang resign dibilang dipecat semua. Mereka berdua marah besar. Beberapa hari kemudian gue ngedenger gosip bahwa gue mo dipecat. So… ya kebetulan deh. Gue ngajuin resign dan gue cabut secepatnya dari tempat itu.

Gue pindah kantor, dan belakangan hal ini terjadi lagi. This time I’m far more than ready. Mission impossible juga.

Bedanya, kali ini deliveri tanpa masalah dan client sangat puas.

Dan bukannya cuma sekali ini gue stuck in a deep shit. Gue cukup reckless dan nekad.

Yang jelas, orang yang sempurna dan ga pernah berbuat kesalahan, justru itu tipe-tipe orang yang perlu lu curigain. Either dia ini ngebullshit, atau dia ga pernah bertindak sama sekali.

But one thing for sure… if you never get stuck in the abyss, you’ll never learn how to get out from one *wink*

NYE

Ini juga salah satu kisah gue beberapa tahun lalu waktu rutin cold approach. Mungkin udah ratusan kali keluar, tapi gue ga dapetin hasil yang gue inginkan. Tahun udah mulai berganti, tapi gue ngerasa progress gue kok gini-gini aja.

Pas NYE, gue keluar, dan gue bersumpah ga akan balik sebelum satu venue terbesar semuanya gue approach. Tempatnya penuh sesak, mau countdown soalnya. Guess what, sebelum teng jam 12 gue make out sama satu target gue. Gue jalan in-relationship sama dia selanjutnya, walaupun ga bertahan lama.

Selanjutnya ketika keluar lagi it all make sense to me. Things got much easier, tapi yang terutama gue ga needy lagi setelah kejadian tersebut.

Makanya waktu NYE kemaren admin yang baru nantangin NYE challenge gue rasa lucu kalo ada yang ngarepin reward.

Persistence

Satu contoh lagi. Gue suka nulis, bahkan dari kecil. Ini salah satu hobi gue. Dulunya gue pernah mimpi bikin novel sekelas Lord of The Rings dan Star Wars. It never happened.

Tapi sekarang silakan liat page produk. Gue mulai dari blog ini, perlahan mulai ngereply pertanyaan-pertanyaan, dan akhirnya gue start dengan nerjemahin Debunking the Seduction Community nya Aaron.

Hasilnya? Intro to Pick Up Art itu tulisan gue sendiri 100%.

Jadi total sekarang ada 3 yang udah online (satu bukan bidang seduction) dan kira-kira bakal ada banyak lagi yang mendatang, beberapa diantaranya soal seduction, tapi sebagian besarnya engga. Like I said, gue ogah terjun ke bidang seduction 100% professionally.

Buku gue bukan New York Times bestseller, but who cares? Perlahan gue mulai nelurin produk gue sendiri, dan mungkin someday gue bakal balik ke novel yang gue kerjain waktu gue kecil, dan pelan-pelan gue berjalan menuju kesana.

Sukses dan Percaya Diri?

Ini menurut gue.

Ga perlu tapping, ga perlu self hypnosis, atau teknik-teknik norak yang ngejanjiin jalan pintas semu dan janji-janji tai kebo sejenisnya.

Percaya diri itu bisa lo dapetin kalo lo mendapatkan sukses.

Gimana caranya supaya dapetin sukses?

Ya jangan berhenti sebelum lu dapetin sukses.

“Sukses” juga bukan berarti lo jadi supertajir, nyaingin Bill Gates dan Mark Zuckerberg, tapi ketika elo menyelesaikan sesuatu, achieve something dan semacamnya.

Yang simpel aja lah. Kayaknya ini udah gue masukin di page 1 kaskus lair kan?

Kesimpulan?

digging-for-diamonds

2 comments on “Pede aja lagi

  1. lintang
    January 11, 2015

    Sip, thx for your advice ,,\m/

  2. Jas Merah
    January 12, 2015

    Thanks… Sangat mencerahkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 11, 2015 by in Opini and tagged , , , , .
%d bloggers like this: