Laki Tulen

Reclaim Your Manhood Today!

Placebo Effect

PUA dan Prankster

Ada dua pernyataan/pertanyaan yang salah kaprah tentang apa yang gue tulis. Karena jawabannya cukup panjang sekalian gue post disini :

bener kata om Joe Exorio, kalo udah biasa approach biasanya pua suka usil main prank

Dari awal gue berpendapat : seduction/percintaan is a bad business. Kenapa? Seductionnya sendiri itu sangat simple. Ketika seorang berusaha mencari shortcut secara terus menerus yang ada hal yang sesimple dengan ngobrol dan mengarahkan interaksinya ke sexual menjadi hal yang rumit dan terkesan scientific.

Dan jangan lupa, kita berhubungan sama manusia, yang ga logis. Jadi kalo lo mencari exact science untuk berhubungan sama manusia lain, ya lo salah jalur.

Player yang beneran player ga lain dan ga bukan mereka sekedar keluar dan berexperimen. Itu aja. Bahan yang mereka dapet ya dengan cara mengamati sekitar. Kalopun ga ada, tetap mereka keluar dan berexperimen.

Boot camp, metode dan sejenisnya sebenernya malah bakal merusak elo dibandingkan memperbaiki dirilo.

Waktu jaman awal pickup booming, banyak video cold approach beredar di situs semacam Youtube. Tapi belakangan, bisa lo liat sendiri, trend ini mulai mereda. Kenapa? Karena ga ada yang luar biasa dari video-video tersebut.

Di Indonesia juga ada beberapa, tapi belakangan mereka juga udah stop.

Ketika hal ini dijadikan bisnis, karena mereka harus tetap makan, mereka tetap harus menjual sesuatu. They left themselves jobless. Jadi, supaya “tetap menarik” mereka beralih menjadi “prankster” atau alih-alih dilabeli dengan “social experiments” buat ngeraup view + subscribers = youtube ad = $$$.

Setidaknya itu pengamatan gue sendiri sih.

Kalo bukan prankster, biasanya mereka bikin video “social experiments” yang mengeksploitasi orang miskin atau semacamnya. Dan memang biasanya video-video social experiments ini banyak dishare di social media karena terkesan “menyentuh”.

Kenapa? Mereka beralih dari video pickup/seduction ke pranks/social experiment? Because, there’s nothing left to it to discuss. Ga banyak yang bisa diexploitasi lebih lanjut.

Jujur aja, saat ini gue sendiri kesulitan angkat bahan soal seduction lagi. Teknik (outer game) itu ga berarti banyak kalo dirilo belon sepenuhnya beres.

Diluar itu, ya cuma go out and talk to the girls. Itu aja kok. Sure, elo bakal direject berkali-kali. Problem untuk menjalankan tahap ini cuma satu : approach anxiety.

Giacomo Casanova, player terkenal sepanjang masa masa iya belajar soal teori evolusi dan sejenisnya?

No dude. Jelas engga. Seringkali juga playboy yang gue temui banyaknya mereka bukan orang yang “pintar”. Dalam arti mereka ga banyak melatih otak mereka, tapi mereka lebih banyak mengasah intuisi. Dan kebetulan kita emang tinggal di masyarakat pemuja otak.

Dengan beberapa pengecualian yang gue kenal, ada yang rajin ngebaca buku. Tapi sisanya, pengetahuan mereka cenderung lebih sempit.

Ini juga terjadi di bidang bisnis, kalo lo perhatiin biasanya businessman itu sebenernya ga banyak ngerti soal bidang yang dia jalanin, makanya dia ngehire orang buat ngelakuin hal tersebut buat dia. Dia cuma punya passion ke bidang tersebut. I know, karena gue banyak bergaul sama business owner, walopun bukan business gedean.

Bahkan saudara dekat gue membuka bidang bisnis yang 100% terbalik dari karir dia dulunya. Dan nyatanya, businessnya dia bisa berjalan amat lancar.

Kenapa gue menggunakan “Pick Up Artist” atau PUA di sini? Ya salah satunya gue emang belajar dari komunitas (mASF). Tapi harap inget gue ga pernah ngakuin diri gue sebagai PUA. Kedua, kalo ada yang milih untuk cari produk-produk PUA misalnya semacam “canned routines” mereka bisa dengan mudah searching di google. Beberapa emang jujur aja, cukup membantu perkembangan gue. Silakan cari sendiri.

So… kalo memang elo perlu seminar/pengetahuan tentang seduction, udah banyak bertebaran di internet. Ga perlu dari gue.

Tapi ini lagi-lagi ya elo mesti mencari tahu sendiri, what works for you, and what’s not.

Untuk alasan-alasan tersebut, gue ogah terjun ke bidang ini 100% professionally. Beberapa yang gue tau dari yang lokal, ada yang lagi kerja, dan nyambi buka business di bidang ini… selain dua yang terbesar, ya lu tau sendiri yang mana.

Awal-awal gue liat materi mereka lumayan bagus, tapi belakangan… it’s nothing but mental masturbation.

Salah satunya ajaran yang terkonyol yang pernah gue denger : kalo keluar kenalan sama cewek, lo harus bawa 3-4 orang rame-rame supaya ga dicap loser.  Dan “kebetulan” company tersebut lagi santer ngepromosiin soal “brotherhood” dari alumni mereka.

Gini, coba deh elo ke pusat-pusat keramaian. Liat sekeliling elo. Masa iya lo ga pernah nemuin satu orang pun yang sendirian jalan? Jujur aja gue sering. Dari bocah SD, sampe nenek-nenek. Rule macem apa itu HARUS bawa 3-4 orang?

Gue selalu tekenin satu hal : cari wingman itu bakal buang-buang waktu elo. Dan sekarang, terbukti ga? Gue tau pasti, karena gue udah ngelewatin fase kebelet cari wingmen. Cari satu orang wingman aja sulitnya setengah mati, apalagi 3-4 orang?

Bootcampnya sendiri, seriously… lu ga perlu bayar jutaan sebenernya. Cukup ngenalin apa itu approach anxiety, dan coba mengontrol rasa takut elo, itu aja.

Unless emang lo punya duit dan ga keberatan disuruh-suruh ngelakuin hal yang bisa lu lakukan sendiri.

Total produk yang beredar kira-kira 20+ kalo yang dari lokal punya. Memang belon ngalahin rekornya RSD yang spanning sampe 60 DVD segala. But I’m pretty sure we’ll get there sooner or later.

Intinya semua produk dan seminar itu mengacu ke satu point yang general. Tapi yang lebih penting lagi : PRAKTEK.

“Sleazy Method”

Setelah gue sebar buku Debunking the Seduction Community, reaksinya macem-macem. Salah satunya yang baru-baru ini :

Tentang methodnya si aaron sleazy kalo ga salah terakhir2nya ada “not fuckin’ up with receptive girl”, itu maksudnya gimana ya?, kali ada yang bisa jelasin how to not fuckin up?

Pertanyaan ini jujur aja, generik banget, segenerik “gimana caranya jadi kaya raya?”

Mau yang struktural, step-by-step instruction, lo harusnya baca “Minimal Game” punya Sleazy. Dan waktu pertama kali pegang ini buku gue sebenernya cukup kecewa. Karena yang gue dapat itu sebagian besar advice-advice cliche. Padahal gue mengharapkan struktur super sistematis step-by-step kayak Mystery Method.

Gue sendiri ga bakal mengatakan Mystery Method itu sepenuhnya sampah, tapi ada beberapa bagian yang emang masih kepake sama gue sampe detik ini. If it works for me, then I’ll use it. Gitu aja. Dan ga bisa 100% elo baca satu buku langsung jadi womanizer dalam sehari.

“Not fucking it up” maksudnya apabila prosesnya berjalan dengan lancar. Ini dia maksudkan dengan kondisi. Bukan instruksi.

Kenyataan di lapangan, YOU’LL FUCK UP A LOT. Kenapa? Karena gue yakin elo dan semua orang di dunia ini ga ada yang mampu membaca pikiran orang lain, dalam konteks ini, target elo.

Kalo gue sarankan, baca keseluruhan bukunya. Di buku tersebut disebutkan juga soal Paul Janka, Yang mana rasionya 10%, dalam arti dia bakal fuck up (kacau) sama 90 cewek lainnya, tapi 10 sisanya bakal memberikan respon yang positif.

Most of the time, Paul cuma masuk, minta nomer telpon dan get out. Disini juga dia ga bakalan terlalu terfokus buat menyenangkan cewek yang ngasih reaksi negatif ke dia gue rasa.

Dari situ mungkin dia dapat sekian nomer telpon yang mana ketika difollow up cuma 11%nya lagi yang ngasih respon bagus ke dia, dan sisanya 11% dari situ lagi yang bisa berlanjut jadi serius.

There’s no such thing as perfect approach.

Nah, pendapat gue sih gini… karena elo udah diluar sana, kenapa ga sekalian all out aja? Kenapa cuma ngejer nomer telpon doang?

Baca soal “flake dichotomy

Lucunya gue inget banget, waktu nulis artikel itu, ada yang baca soal “1% of the battle”. Ada yang pernah nanya “99%” nya lagi apa?

Itu cuma ungkapan bro. Intinya cuma kalo cuma nomer telpon doang it means nothing. Lo masih harus melakukan follow up dan seterusnya.

Contohnya kalo lo dah dapetin target elo, dan elo mimpi ke jenjang pernikahan, ya lo masih ada temen-temennya, sodaranya, keluarganya yang perlu lu raih hati mereka.

Dijabarin secara mendetail dari step 1, step 2, step 3, dan seterusnya? Ga bisa.

Placebo Effect

placebo-1

Aaron Sleazy banyak gue sebut di blog ini. Sebagian besar gue setuju sama pandangannya dia. Tapi yang gue berseberangan sama dia juga ga sedikit.

Pertama, karena dia anti-PUA banget. Sebenernya gue ga anti dating coach atau PUA, it’s fine.

Beberapa hal yang bener-bener keren, congruence dan calibration. Jangan lupa flake dichotomy gue juga dapat dari komunitas tersebut.

Nah, sekarang, permasalahan utamanya sebagian besar orang, adalah dengan membayangkan bahwa menggunakan teknik semuanya beres.

It doesn’t work like that. Teknik itu MEMBANTU elo, BUKAN buat MENGGANTIKAN diri elo.

Apalagi sempat ada yang ngepost “hasil tangkapannya”, tapi ternyata dia diguide kata-per-kata lewat handphone. What’s the point? Seriously?

Ga semua teknik itu sampah, dan beberapa emang works. Contohnya beberapa gimmick dari Mystery yang gue pakai sampe sekarang, tebak angka dan pertanyaan ke hired guns. Both are fun to use, dan emang works. Eye contactnya Jeans Joe, menurut gue emang oke. Atau peacocking, yang bisa lo baca disini :

https://lakitulen.wordpress.com/2014/01/25/fashion

Sisanya entahlah, gue lupa kalo disuruh mikir apa aja yang gue pake biasanya, tapi biasanya juga di lapangan keluar sendiri nantinya.

Nah problem utamanya adalah, placebo effect.

Pernah denger soal placebo effect?

Jadi suatu hari ada pasien yang punya keluhan sakit parah. Dokter pun memberi “pil ajaib” yang diharuskan diminum secara teratur. Beberapa hari kemudian si pasien datang lagi berterima kasih karena sakitnya sembuh. Si pasien nanya “ini obat apa dok?” dokternya ngejawab “ini cuma permen”.

Nah, seringkali, kalo di seduction community jawaban terakhir dokternya jarang diangkat. Sehingga tercipta pengikut-pengikut fanatik yang mengagungkan teknik.

Sekali lagi, bahkan routine based method seperti Style dan Mystery, menyarankan buat ngebuang routinenya satu-per-satu, sampe elo bisa mandiri tanpa menggunakan canned routine sama sekali. Intinya, ngebangun rasa percaya diri elo, bahwa elo ini ga cupu-cupu banget kok.

“Marketing”

Latar belakang gue memang bukan marketing, dan jujur aja posisi gue sebagai sales manajer itu cuma temporary (sementara) dan ga sampe 3 bulan. Tapi ini common sense aja. Yang jelas gue juga ngamatin cara kerja para sales senior di bawah gue. Sekarang :

Bad product + good marketing = good sales

Good product + bad marketing = no sales

Setuju ga?

Contohnya? Apa ya… snack-snack yang ga punya nilai gizi sama sekali, yang mana banyak bocah doyan banget, cuma karena iklannya gencar di prime time TV pas waktu kartun pagi ditayangkan.

Atau minuman soda cola, yang sebenernya parah banget setelah gue ngeliat kadar gulanya yang tinggi banget. Mereka tetep ngejual karena iklannya gencar sekali.

Sedangkan makanan bergizi, yang buatan rumah, seringkali ga dianggep sama sekali, cuma karena kalah marketing.

Ada konsep yang namanya GIGO = Garbage In, Garbage Out. Jadi, kalo misalnya elo mau ngebuat produk, bahan-bahan yang elo gunakan itu jelek, tetep mo sekeren apapun prosesnya produk yang dihasilkan itu tetep jelek.

Atau mungkin air putih yang dibotolkan, yang mana sebenernya ya… ga lebih dan ga kurang, cuma air putih. Yang sebenernya lu bisa masak sendiri di rumah, asal kayak konsep GIGO diatas, kalo airnya butek dan bau, lo masak kek apapun juga ga bakalan pengaruh, bakal tetep butek dan bau.

Jujur aja, gue emang gencar promosiin blog ini di kaskus. Karena gue juga pengen tulisan gue ada yang baca.

Oke balik soal topiknya… intinya bayangin deh, dirilo sebagai “produk”. Kira-kira elo sendiri mau ga “mengkonsumsi” produk elo itu?

Nah, kalo misalnya pun elo ganteng dalam arti inputnya udah oke, elo ini keren, tapi elo ga pernah “memarketkan” dirilo, kira-kira bakal ada “sales” ga?

Problem sebagian besar orang simple sekali. Ga pede, dan takut sama rejection (approach anxiety).

Aaron sendiri di buku “Minimal Game” ga pernah mengangkat soal approach anxiety. Karena menurut pengakuan dia, dia ini orang yang “sehat” secara sosial. Jadi sebenernya kalo sekadar ngobrol sama cewek cantik dia ga masalah.

Kalo yang memulai seperti gue, dengan kelainan gynophobia, ini jelas memang lebih sulit. Ga segampang membalikkan telapak tangan.

Tapi Dale Carnegie juga bilang. Misalnya lo punya rumah di pinggir jalan raya yang rame mobil berseliweran disitu. Terus suatu hari lo beli kuda, dan lo lepas di pekarangan elo. Si kuda jadi takut sama mobil yang banyak lewat disitu. Yang perlu lu lakuin, ya ga lain dan ga bukan perlahan-lahan biarin si kuda menjadi terbiasa sama mobil yang lewat di depan rumahlo. Ga ada cara lain.

Beberapa perawatan soal phobia juga sama. Misalnya arachnophobia. Pernah gue baca artikel ada inovasi baru buat nyembuhin phobia ini. Ga lain dan ga bukan dengan virtual reality. Di dalam virtual realitynya, si penderita disuguhin animasi laba-laba yang semakin lama semakin mendekat. Setelah si penderita udah mulai terbiasa, dia mulai disuruh mendekati laba-laba beneran. Disuruh megang laba-laba, dst. Sampe dia terbiasa dan rasa takutnya hilang.

Inget juga, bayi yang belajar berjalan, masa iya lo cekokin soal teori gravitasi, teori momentum, dan sampah-sampah lainnya supaya dia bisa secara ajaib berjalan secara perfect keesokannya? No dude. Yang ada si bayi jatoh berkali-kali dan dia tetep berusaha belajar berjalan. Sampe akhirnya lu sekarang berjalan kayak nafas kan, udah ga lu pikirin lagi?

Atau mungkin ketika lo belajar naik sepeda, masa iya lo diajarin gaya sentrifugal/sentripetal, derajat kemiringan dan lain-lain? Yang ada lo diajarin, kasih tendangan sekali, terus langsung naikkan kaki ke pedal, dan gowes. Of course, lo tetep jatuh. Dan mungkin ga sekali dua kali, sampe lutut benjut-benjut. Tapi kalo lo ga alamin itu mungkin lo ga bakalan bisa bawa sepeda sekarang kan? Kalo lo belon apa-apa dicekokin soal teori yang ngebablas kek diatas, yang ada lo malah kagak naik sepeda sama sekali. Kebanyakan mikir soalnya.

Anyway, konsep-konsep yang diajarin PUA itu mirip dengan konsep sales juga. Cuma herannya ada beberapa orang yang ngaku “guru” dan “nomer 1” sepertinya ga ngeh dengan hal ini. Contohnya :

Kalo basicnya sales/marketing dunia nyata lo bisa nangkep, harusnya ga banyak adjustment yang perlu lu lakukan kalo lo mo melakukan internet marketing. Kebetulan temen gue ada yang belajar internet marketing. Beberapa psikologi dan hal-hal semacam NLP dipake juga di internet marketing rupanya. Tapi waktu gue ngobrol sama dia banyak hal yang ternyata udah in-sync sama dia. Khususnya ketika gue ngebangun blog ini. However, dia masih baru belajar, jadi dia keliatan excited banget sama gimmick, tools dan sejenisnya.

Sama ketika gue ngobrol sama temen gue yang player pas waktu gue rajin-rajinnya ke lapangan. Bedanya waktu ini terjadi gue yang excited sama gimmick, tools dan sejenisnya, sedangkan temen gue yang player ga lain dan ga bukan jawabannya selalu ngeselin “ya ajak jalan aja”, “ya telpon aja”, “ya ajak bobok aja”, dst.

Figur Otorita

Kita semua udah makan bangku sekolah. Jelas.

Dan dari situ kita diajarin buat nelen semua “fakta” yang disampaikan sama guru kita sebagai kebenaran absolut. Dan dari situ kita juga diajarin untuk mengharamkan kesalahan. Misalnya soal pilihan ganda, kalo salah ya nilailo jeblok, dan ga ada jalan keluar dari situ sama sekali.

Di sekolah lo diajarkan 1+1 = 2

Di dunia nyata 1+1 bisa bermacam-macam hasilnya. Tergantung “1” itu mewakili apa, tergantung situasi dan kondisinya ketika 1+1 itu terjadi.

Sekali lagi, gue ga mengatakan sekolah itu ga penting ato ngaco. Penting BANGET. Kalo lo ga sekolah dan ga bisa itung-itungan matematik 1+1 sama sekali ya susah.

Yang ngaco kan pandangan soal “keamanan” yang diberikan oleh sekolah dan ijasah. Jadi biasanya orang sekolah/kuliah itu cuma ngejer gelar dan ijasah.

Namun faktanya, Bu Susi yang lulusan SMP aja bisa jadi bisniswoman kelas kakap?

Komentar yang muncul di twitter : “mana konseptor maritim jokowi, oh si susi similikitik yg lusan SMP itu yak…buahahahaha….:))”

Sayangnya masbro, kalo dibandingin sama Bu Susi, you’re nothing.

Inget dunia itu abu-abu. Dan posisi “benar” cuma didapat sama orang yang mendapatkan SUKSES.

Dan justru seringkali orang yang ga kedoktrin sama sekolah, biasanya bisa berpikir out-of-the-box. Ini biasanya kekuatan mereka. Cara mereka ga lazim.

Nah sekarang problemnya adalah, tata-cara yang berlaku di sekolah masih dibawa ke dunia nyata. Contohnya beberapa produk perusahaan sebelah yang ditelen bulet-bulet karena dianggap sebagai kebenaran yang absolut. Ini yang gue rasa kurang tepat.

Manusia itu bermacam-macam, termasuk wanita. Ga bisa dipukul rata semua. Dan karena alasan ini gue setuju sama Aaron. Kalo ada satu metode yang works for you, silakan gunakan. Tapi jangan memaksakan kehendak atau berpikir bahwa caralo yang paling benar.

Sama kayak agama, kalo menurutlo agamalu yang paling benar, ya udah gue ikut senang. Tapi kalo sampe lu maksa dan bikin rusuh karena agamalo, ya gue ogah urusan sama elo.

Pikir juga deh, apa untungnya ngumpulin musuh?

Yang terakhir lo perlu inget juga, ini bukan masalah kompetisi dengan siapa-siapa. Tapi namanya pengembangan DIRI, ya artinya elo cuma bersaing sama dirilo yang dulu.

Ini bukan exact science. Sebagian besar literatur yang beredar adalah opini. Termasuk blog ini.

Jadi kalo lo nanya hal-hal “berapa lama tepatnya buat follow up dia lagi?”

atau “kalo lagi ngedate, siapa yang bayar, dia atau gue?”

“harus ngomong apa sama dia setelah A, B, dst”

Ga ada jawaban yang exact soal hal-hal tersebut bro.

Orang lain (termasuk gue sendiri) cuma bisa memberi SARAN. Dan saran itu belum tentu tepat untuk kasus elo.

6 comments on “Placebo Effect

  1. aliasjojoz
    December 12, 2014

    hey, I’m just arrive here, karena artikel drama queen. menarik, gue bakal baca-baca postingan lo dari awal nantinya.

    dan postingan tentang “brotherhood” di atas, gue tau yang lo bahas hahaha. karena gue ngikutin mereka selama setahun ini (meskipun belum ikut seminar mereka karena masih belum bisa nyari duit sendiri) dan perubahan personality gue emang kerasa banget, tapi karena belum ikut workshop mereka jadinya gue gak merasa kemampuan gue meningkat. dan lo sepertinya menggratiskan hal ini, jadi terimakasih dan rencananya gue bakal belajar ulang. jadi dimulai dari freebies?

    • exorio
      December 12, 2014

      Mulai dari starter’s guide. Bacaan itu nomer 2. Eksekusi nomer 1.

      But… kalo emang mau knowledge lebih banyak lagi silakan ke Kaskus Lair atau IndoPUA.

  2. Pingback: “Mesin Uang” | Laki Tulen

  3. Pingback: Gotlek Yang Fenomenal | Laki Tulen

  4. Pingback: Kerang Ajaib ulululululul | Laki Tulen

  5. Pingback: PUA dan Spiritualisme | Laki Tulen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 11, 2014 by in Opini and tagged , , , , , , , .
%d bloggers like this: