Laki Tulen

Reclaim Your Manhood Today!

Review Buku : Johnny’s Journey dan refleksi komunitas

Johnnys.Journey.Thumbnail

Buku yang free, dari Aaron Sleazy lagi. Silakan download di :

http://aaronsleazy.com/files/Johnny.Anti-PUA.Aaron.Sleazy.Johnnys.Journey.pdf

Still, buku Aaron terbaik itu Debunking the Seduction Community

Diluar itu, Sleazy Stories : Confession of a Modern Seducer of Women. Ini juga keren.

Aaron dan kritiknya tentang PUA secara general, tapi khususnya tentang para dating coach memang seringkali mengena. Setelah gue baca Johnny’s Journey, gue penasaran, Aaron masih aktif ga di blognya.

Dan gue menemukan ini, tertanggal 18 Oktober 2014, so yeah, yang bersangkutan masih aktif menulis.

http://aaronsleazy.blogspot.com/2014/10/can-sean-stephenson-even-have-sex.html

Lately, dia banyak bashing self-help industry. Yang mana, well, gue sebenernya agak kecewa, kenapa engga bikin gebrakan baru kayak yang dia bikin di mASF.

Anyway, siapa itu Sean Stephenson? Bisa lu liat disini :

https://lakitulen.wordpress.com/2013/07/23/mitos-mitos-umum-yang-beredar-mengenai-cewek-part-1

Atau kaskus lair page 1 yang lebih updated.

http://www.kaskus.co.id/thread/51ebd4926012437a73000000/pua-kaskus-lair

He met a “nice girl” on his journey, Mindie Kniss.

199354_10152095642900394_258635628_n

But still, $15,000 to $30,000 per peformance, itu angka yang fantastis. Dan gue yakin, itu angka melebihin gaji/income sebagian besar orang yang dateng ke blog ini.

Can Sean Stephenson Even Have Sex? Apakah mungkin Sean Stephensen melakukan hubungan badan?

Pertanyaan yang sangat intrusif, kurang ajar… tapi legit.

Honestly, gue berpikir : engga.

Mungkin terdengar lucu bagilu, tapi gue bener-bener puter otak, gimana caranya dia ngelakuin hubungan badan. Sean pengidap kelainan tulang rapuh, dan sebagian besar tulangnya patah waktu dia dilahirin.

Silakan baca soal kelainan yang diderita sama Sean dari wikipedia :

http://en.wikipedia.org/wiki/Osteogenesis_imperfecta

I’m gonna be very honest, gue rasa Mindle Kniss bukan menikahin Sean karena dia bener-bener cinta sama diri Sean.

I mean, Nic Vujicic masih masuk akal. Selain tanpa tangan dan kaki, secara keseluruhan Nic masih keliatan fit walau minus tangan dan kaki, dan setidaknya tampangnya ganteng.

Gue ga mengatakan orang dengan kekurangan fisik ga berhak mendapatkan apa yang orang “normal” dapatkan. Ini cuma kekurangan minor. Contohnya Hyperhidrosis yang ada pada diri gue.

Dan gue ga mengatakan orang jelek ga berhak dapet cewek cakep ato sejenisnya. But still, gue skeptis Kniss nikahin Sean karena dia tertarik sama orangnya. Dalam subjek ini, gue setuju sama Aaron.

Diluar semua itu, dalam beberapa hal gue setuju sama Aaron. Siapapun bisa terjun ke dunia self-help. Tapi, Sean bisa mengubah kekurangannya jadi asetnya yang paling berharga. Itu aja yang mungkin perlu ditiru.

Well, he made $30000 per appereance, for fuck sake.

Dan tiap kali tampil, dia selalu mengeksplotasi kekurangannya dia :

yang mana secara ga langsung dia bilang “liat nih gue yang kayak gini aja bisa, masa lu orang ga bisa?”, walaupun dia menolak dibilang “disabled” atau “cacat”, tapi itulah yang gue tangkep dari speech-speech dan seminar dia yang gue tonton. Sama juga dengan Nic Vujicic.

Apa yang mo gue angkat disini?

Ini jadi pecutan yang hebat buat orang-orang yang “normal”. Which is a very good thing. Dia lahir dan divonis dokternya ga bakal bertahan hidup lama. Dan bisa lu bayangin gimana dengan penampilan dia yang seperti itu, hidup selama puluhan tahun, orang-orang melirik dia waktu sekedar jalan-jalan atau nongkrong di pusat-pusat keramaian.

Maaf aja, tapi emang ini keadaan sesungguhnya, dan Sean sendiri emang mengeksplotasi kekurangannya dia dalam seminar-seminar dan speech-speechnya dia. Secara confidence, orang ini punya tingkat percaya diri yang sangat tinggi, bahkan lebih tinggi dari lo dan gue.

Kalo ini gue harus berseberangan sama Aaron, gue menolak menyebutnya “scam”. Because it’s not. Apa yang dia sukses lakukan adalah mengubah kekurangannya dia menjadi sumber kekuatan utamanya dia. Kalo ngomong blak-blakannya sih, ya jadi sumber income utama mereka. N I don’t think that’s wrong at all, justru sebaliknya, ini smart banget dan patut diacungin jempol.

Sooo, elo-elo yang mengeluh atau mengasihani dirilu sendiri, shame on you.

Sadar aja, lu bukan satu-satunya orang yang memiliki seluruh permasalahan di dunia ini, dan dunia ga berputar mengelilingi elo.

Sexual wise, gue masih setuju sama Aaron. It’s a legit question afterall. But whatever the reason behind Kniss menikahin Sean, cuma Kniss aja yang tau.

Secara insting, kita semua ingin pasangan yang fit dan sehat, supaya punya keturunan yang fit dan sehat juga. It’s not being picky, tapi jujur aja, that’s how the world works.

FYI, Kniss juga jadi motivational speaker, terjun ke self-help industry. Sebelum atau sesudah menikahin Sean, entahlah, gue ga terlalu ngikutin kisahnya.

http://mindiekniss.com/

So, pikirkan dengan baik-baik aja deh. Pelan-pelan dan dengan keras.

Why?

Tapi, dibalik semua itu, gue yakin lu-lu pada yang ngunjungin blog ini juga mimpi pake jas dan gandeng cewek dengan gaun nikah yang walaupun bukan supermodel, tapi masih enak diliat, dan elo terlihat bahagia sama dia. Bener ga?

Komunitas PUA

Gue mulai sebagai orang yang minderan, menutup diri. Mungkin gue pengidap 2 kelainan mental : inferiority complex dan gynophobia. Ngerasa diri ga bernilai dan takut sama cewek. I feel like I’m a loser dan gue bener-bener takut berinteraksi sama cewek.

Gue ga nyangkal, ada yang ngedampingin gue pas waktu gue di dasar. Dan dia nyampein satu hal yang sangat critical banget : “jangan ngimpi deketin HB kalo ngobrol sama orang lain aja ga bisa”

So, dia fokus ngebantu gue ngefix permasalahan dasar yang gue punya. Bersosialisasi. Itu aja. Simple.

Nah sekarang soal komunitas, blog ini udah berjalan selama setahun lebih, dan komunitasnya udah cukup berkembang. Thread Kaskus Lair udah punya 1400 replies dan 100.000 views.

Dari sini gue ketemu berbagai macam orang, tapi kayanya satu alumni dating coach company sebelah yang paling banyak. Alumni H*.

Salah satu pertanyaan absurd yang dilontarkan gue sama alumni tersebut adalah

“Gue udah beberapa kali keluar, tapi kok masih belum berasa nyaman ya?”
“Beberapa kali tuh berapa kali?”
“10 kali”

Em, honestly…? Gue bingung mau ngejawab apa. Dan instead of ngepost pertanyaannya di grup/thread, dia ngePM gue secara pribadi. Which is very selfish attitude kalo menurut gue.

Di kasus lain, ada yang ngitung secara detail, 1000 kali melakukan cold approach, selama hitungan 5 tahun.

Juga pernah ada yang nanyain cara senyum yang benar itu gimana?

Di kasus lain, ada yang pernah nanya “kata company sebelah ga boleh nembak cewek buat jadi pacar, jadi gue harus gimana?”

Dan pertanyaan-pertanyaan seperti itu, bener-bener masih terngiang di kepala gue. Apa yang ada dipikiran orang-orang ini?

In this case, gue sepaham sama Aaron. Gue ketemu beberapa alumni company tersebut, dan gue berasa aneh berkomunikasi sama mereka. It’s not natural. Walo ga semuanya.

Beberapa hal lain, gue cukup kaget, dengan dikelilingi sama media-media barat, entertainment dari dunia barat, film, serial, dsb, masa iya bahasa inggris itu begitu sulitnya buat mayoritas orang Indonesia?

Gue bukan memuja dunia western, tapi tetep, bahasa Inggris itu minimal lah harus dikuasain, kalo menurut gue ya. Ini juga gue rasa penyebab kurangnya informasi dari para alumni tersebut. Termasuk kurangnya kebiasaan membaca buku. Pada akhirannya, jelas sudahlah, gue berkali-kali dituduh plagiat dari blog ini.

Satu lagi pernah dapet pertanyaan seperti ini

“Tolong kasih sedikit masukan, dapet pertanyaan seperti ini 1) Apa tujuan lu app dan follow up? 2) Kenapa para HB mau dengan lu? Tapi gua belum bisa jawab. . Karena mindset gua juga belum seutuhnya bener kayaknya”

Those are very good questions, honestly. Dan ga selayaknya dia nanya lagi ke orang lain, seharusnya dia jawab kedua pertanyaan itu sendiri, sejujurnya, dari diri dia sendiri. Tapi sayang dia ga mau sekedar mikir dikit, cari jawabannya sendiri. Entah karena males atau takut salah jawab, atau apa ntahlah. Akhirannya gue ga jawab.

This guy, definitely have issue. Dan jelas dia bingung sama tujuan dia join grup-grup ginian.

Anyway, di buku Johnny’s Journey, diceritain pengalaman Johnny waktu ikut seminar, lair-lair dari para dating coach commercial. Orang-orang yang join lair-lair tersebut punya banyak masalah sosial atau psikologis yang jauh lebih parah dari sekedar kesulitan ngomong sama cewek. Gue akuin, gue termasuk di dalam kategori tersebut dulunya.

https://lakitulen.wordpress.com/2014/05/04/pick-up-artist-indonesia/

Dan orang-orang ini berharap solusi atas semua pertanyaan mereka yang bener-bener jitu dan tepat sasaran, untuk mereka.

Gue beruntung banget ketemu mentor gue, dan dia paham basis permasalahannya itu cuma satu : gue minder. Dan ketika orang tau gue dulunya minder, muncullah pertanyaan-pertanyaan baru : “gimana caranya mengatasi minder?”. Gue udah mengatakan berkali-kali, gue melewati proses yang ga sebentar. But still, pertanyaan yang meminta jawaban superpraktis dan instan seperti itu tetap bermunculan.

Mentor gue ga bisa dampingin gue secara kontinu, gue paham. Jadi gue research sendiri dan ketemu yang namanya mASF (sekarang pua-zone.com). Dan ya, terkadang muncul orang-orang super aneh, yang dia sendiri gue rasa bingung, tujuan dia join komunitas-komunitas seperti ini untuk apa? Kayak yang ngelontarin pertanyaan diatas itu.

Ada Mystery wannabe yang ingin mempromosikan “method” nya dia di forum itu.

Ada juga yang ngepost FR palsu.

Ada juga yang ntah kenapa tau-tau ngajak ribut member lain, debat kusir dan sebagainya.

Ada juga yang berlagak kayak dewa karena dia nidurin puluhan cewek, dan ada juga yang nanya pertanyaan-pertanyaan aneh seperti yang gue beberkan diatas.

Dan ini ga beda jauh sama apa yang gue alamin di kaskus lair. Jadi cukup gue tiru aja gimana para senior mASF nanganin tipe-tipe orang seperti ini.

Yang paling banyak sih, tipe hit n run, nanya sekali, dapet jawaban terus ilang entah kemana.

I don’t mind.

Problemnya sekali lagi, orang-orang ini punya problem yang lebih besar dibandingin sekedar kenalan sama cewek, yang seharusnya mereka benahin dulu. Problem ini menjadi lebih besar kalo mereka ga mencari pertolongan profesional beneran, psikolog, psikiater dan sejenisnya, sedangkan mereka berharap bisa jadi womanizer setelah keluar dalam itungan jari. Dan gue rasa mereka enggan mengakui bahwa mereka punya disability atau kekurangan, yang harusnya mereka benahin terlebih dahulu. Atau setidaknya, mereka akui.

Yang mereka mau, cewek supermodel secara instan tertarik sama mereka. Tanpa syarat. Despite all the problems they have.

I really don’t get it.

Sure, pernyataan diatas cuma hiperbola. But… you get the idea.

Common sense, pikir sendiri, orang dibawah ini punya problem ga? Bisa kah dia ngegaet cewek supermodel dengan ikut seminar 1-2 hari?

Weird-Guy

Dan no, ini pertanyaan serius, gue ga mengejek elu. Dan problem yang elu punya mungkin bukan hal yang patut jadi bahan tertawaan. Lebih mudah nunjuk kekurangan orang lain, dibandingkan melakukan introspeksi diri, n that’s why gue kasih itu foto. Silakan pikir jawaban yang pertama kali keluar dari otak elo.

Nah, dalam hal ini, gue setuju banget sama Aaron khususnya di Debunking the Seduction Community.

In this case, it’s a borderline scam. Apalagi dengan claim-claim, ga peduli tampang lu kayak apa, ga peduli lu gembel atau semacamnya, lu bisa ngegaet cewek supermodel kalo lu beli produk kami, atau ikut seminar kami!

Ketika hal-hal yang terkesan remeh engga mereka benahin, muncullah tipe-tipe orang yang melontarkan pertanyaan-pertanyaan diatas. Kenapa 10 kali keluar gue belon berasa nyaman cold approach? Well, lu pengen jadi jago gitar bisa ga metik gitar 10 kali dan elo secara ajaib jadi pesaing terberat Santana?

In this case, gue angkat lagi soal “teknologi baru” yang gue angkat disini :

https://lakitulen.wordpress.com/2014/10/16/bocoran-deitylike-method

Yang mana gue menemukan tanya-jawab soal “metode” baru ini. Jadi dengan metode ini, lo ga harus ganteng, ga harus punya temen wanita yang banyak, ga usah jadi pede, ga usah jadi pria berkualitas, lingkungan sosial yang 0, ga pernah keluar dan semacamnya, untuk tipe-tipe inilah deity method bakal memberikan solusi. Hell, mungkin bisa juga bekerja untuk orang-orang yang punya penyakit sosial, atau malah keterbelakangan mental. Bisa jadi Sean Stephenson menggunakan metode ini buat ngegaet Kniss. Who knows?

Sounds AWESOME isn’t it? Sebuah solusi instan untuk masalah romance yang elo derita. It works like MAGIC.

Padahal sering gue liat ucapan lain : “sayangi dirilu sebelum lu mencoba menyayangi orang lain” dari sumber yang sama.

Konsepnya mirip kayak The Secret, dan entahlah gue ga pernah baca buku The Secret, tapi gue pernah nonton videonya. Intinya ketika elo menginginkan Ferrari, no problem, cukup visualisasikan dirilo mengendarai Ferrari tersebut, nantinya cepat atau lambat itu bakal kejadian, kekuatan-kekuatan jagad raya akan membantulu mendapatkan Ferrari tersebut.

Katanya beda sama Law of Attraction, karena elemen yang digunakan beda. Ya I dunno lah, elemen-elemen yang dimaksud seperti apa, apa bedanya dan detail-detail sejenisnya. I don’t know about you, tapi pendapat gue soal metode ini udah gue paparkan di artikel sebelumnya.

Good news, ada yang lebih canggih dari kedua metode diatas. Punya masalah approach anxiety, gampang, ketuk-ketukkan aja bagian bawah telapak tangan elo. Katanya tubuh kita ini terdiri dari aliran listrik yang mengalir di sekujur tubuh kita, dan yang perlu kita lakukan adalah “mengubah sedikit” behavior aliran listrik tersebut dengan tapping. Dan ini bakal berguna untuk permasalahan hidup lu yang lainnya. Mungkin bisa dipakai buat meningkatkan karir dan sukses elo dengan wanita.

In all fairness, metode-metode absurd seperti ini yang diserang sama Aaron. Dalam hal ini gue setuju sama sikapnya dia.

However, dalam kasus komunitas (dalam hal ini, mASF dan The Game) pada kasus gue sendiri, kalo gue ga menemukan buku The Game dan mASF, entahlah gue jadi apa sekarang. Setidaknya gue terpicu untuk keluar dan memoles diri gue sejauh mungkin.

Johnny’s Journey lebih mengedepankan why it doesn’t work for him. Kenapa komunitas ga bekerja buat dia. Dan ya, dia punya alasan-alasan logis. Tapi gimanapun juga terkesan dia lupa, ada satu hal yang dia ga aware, dia keluar dan mencoba karena komunitas juga.

Gue sendiri, mulai belajar baca sinyal dari cewek setelah gue rutin ke lapangan. Jelas, bukan karena gue membaca metode atau karena gue punya kalimat super ajaib. Dan ketika gue dapetin sukses di lapangan, gue mulai menghargai diri gue sendiri, ternyata gue ga cupu-cupu amat, dan emang tetep ada cewek yang tertarik sama gue. Dan gue ga menyangkal, Debunking the Seduction Community yang micu gue untuk lebih jauh dan jeli ngeliat sinyal-sinyal tersebut.

Mungkin gue juga ga bakalan bisa jadi salesman dadakan ketika gue diperlukan, karena gue masih ketakutan ngomong sama orang yang ga gue kenal, dalam arti gue masih menyangkal kalo gue punya approach anxiety.

Ini karena komunitas, setidaknya gue jadi kenal apa itu Approach Anxiety” atau secara general… “social anxiety”

Social_Retard_by_kelp134

Sekarang saat gue mencoba berdiri sendiri, dan gue mengerjakan banyak hal sendiri ga masalah gue melakukan semisalnya, telemarketing sendiri. Yes, ini masih gue kerjakan sendiri, gue belon berani ngambil orang. Tapi ga masalah, cari sumber data, angkat telpon, ngobrol panjang lebar, diputusin secara kasar, ditolak ato semacamnya I don’t mind. Yang mana, dulu sekedar SMS cewek atau ngontek temen cewek gue pun gue gemeteran dan biasanya begitu diangkat sama yang bersangkutan langsung gue tutup.

Bahkan ketika gue bertemu tatap muka sama client dalam 1 hari, walaupun client gue ini udah punya usaha gedean, dia bilang dia nyaman sama gue, dan langsung kalo ngobrol ngomong “lu, gue” dan “bro”. Ini juga ga bakalan bisa kejadian kalo gue ga nemuin seduction community dan ngepush diri gue sekedar keluar dan kenalan sama orang baru.

Di company gue yang sebelumnya, manajemen tetep menuntut gue tetep bersikap pro, walaupun email kadang gue selipin joke-joke ringan, dan kesannya udah akrab. Jadi ya gue kena mental blok lagi.

Jadi ketika gue dapet email dari client yang ini dia pake bro, lu dan gue, gue jadi bingung. Gimana ngebalesnya? Ntar kalo gue pake lu gue juga kesannya ga profesional. Tapi gue berasa sayang koneksi gue sama dia udah segini akrabnya gue balikin lagi ke formal. Akhirnya gue konsultasi sama partner gue.

Ni gimana kalo klien udah ngomong lu gue? Masa dibalikin formal lagi? Esnya udah meleleh?

Partner gue bilang, ikutin aja, kecuali kalo bikin surat penawaran atau sejenisnya, baru balikin ke formal. Walo udah terlanjur gue balikin ke formal lol. Gapapalah.

Lucu… kalo diinget-inget lagi. Dulunya gue bingung kalo mo follow up cewek, sekarang gue bingung cara follow up client.

Di lain pihak, gue setuju. Kalo lu merasa butuh baca buku segabruk atau ratusan video untuk sekedar ngobrol sama cewek, kemungkinan lu punya permasalahan yang jauh lebih besar di belakangnya. Masalah kehidupan cinta elo cuma tip of the iceberg.

images

Pernah ga lu bertanya, kenapa banyak “PUA” sekarang beralih jadi prankster? SimplePickups, sekarang buka channel SimpleMisfits. Atau Vitaly, dua contoh yang udah gue beberkan sebelmunya.

Mungkin tinggal tunggu waktu aja sampe para prankster lokal bermunculan LOL.

Seductionnya sendiri simple, dan kalo dicariin shortcutnya lagi, malah jadi amburadul. Yang perlu lu bereskan bukan cara ngegondol cewek ke tempat tidur, tapi permasalahan-permasalahan pribadi elo diluar spesifik interaksi dengan wanita aja.

Nah, dari sini kesimpulannya apa?

Lu ga bakalan bisa dapetin semua jawaban-jawaban seperti ini secara instan dari siapa-siapa. Tapi pelan-pelan lu bakal paham dengan sendirinya kalo lu mau mencari tahu sendiri.

Untuk konsultasi gue sama partner gue… jelas gue ma partner gue udah kenal tahunan, dan dia cukup ngerti posisi gue, gue ini orangnya seperti apa, gimana pemikiran gue, dll.

Mentor gue juga kenal gue orangnya seperti apa, jadi dia bisa adjust diri dia kepada diri gue. Dia secara spesifik membantu diri gue dan fokus terhadap permasalahan utama diri gue yang perlu dibenahin. Kita masih jadi sahabat sampe detik ini, walopun udah jarang ketemu.

So… yang mau gue mo sampaikan :

Lu salah sasaran kalo lu konsultasi ke seorang yang ga pernah lu kenal dan cuma ketemu tulisannya di sebuah blog gratisan. I don’t know you. You don’t know me. Bisa aja blog ini juga punya tujuan yang engga-engga dibelakangnya kan? Bisa jadi gue nargetin jadi motivator komersial, atau buka dating coach juga sama seperti yang udah-udah. Who knows?

Dan emang ada yang ngomong hal begini ke gue, “saya heran kenapa ga ada yang tulus mau ngebantu kayak situ?” Gue semplak aja : “yakin lu kalo gue tulus?”.  Dia jawab “ga tau bang!”. LOL.

suspicious-fry

Dan kalo lu berharap sebuah company komersil bakal 100% peduli sama permasalahan elo, jelas lu bertanya ke pihak yang salah. Apalagi dengan para “guru” dengan kualifikasi yang sangat rancu, tanpa standard yang jelas, dan mengaku punya jawaban instan terhadap semua permasalahan dirilo, dalam kasus ini masalah cinta.

N that is why, kenapa, gue minta FR di IndoPUA. Dari situ keliatan dikit-dikit elo ini orangnya seperti apa, apakah elo punya permasalahan yang lebih besar dibandingkan berinteraksi sama cewek doang?

Dengan FR juga yang belum berpengalaman bisa ngeliat FR yang lebih berpengalaman dan bisa “steal” beberapa movenya dia. At least itu yang gue lakukan setelah gue gabung sama mASF dan dapet buku Sleazy Stories. Posting FR itu konsep yang berjalan selama tahunan di mASF, dimana tiap orang bisa saling ngasih input atau “minjam” move orang lain. Dan it works really well.

However, pas waktu gue nyobain “teknik-teknik”nya Sleazy, gue udah jauh berubah dari pertama kali mentor gue nemuin gue. Gue udah fix sebagian permasalahan gue khususnya masalah minder dan gynophobia.

Gue ga pernah bermimpi jadi the next Cassanova yang menggebrak dunia romance dengan ribuan cewek yang gue tidurin. Gue udah cukup puas, karena gue udah gampang ngobrol sama cewek dimanapun juga. Itu aja yang gue mau. Dan itu aja yang gue perlukan.

Selain itu gue juga menerima diri gue apa adanya. Yang mana gue ini orangnya introvert murni, gue lebih suka di pengasingan. Otak gue sering berdialog sendiri, dan ada kalanya gue perlu “meditasi”, Bukan kayak biksu ato pendeta shaolin, tapi sekedar jalan-jalan tanpa tujuan di malam hari supaya gue bisa berpikir dengan tenang. Tapi ketika gue dituntut untuk bertemu dengan orang baru, ga masalah, dan kadang gue jenuh dengan dunia gue sendiri gue tinggal keluar dan bersosialisasi. Simple kan?

Sisanya, liat Sean Stephenson aja deh. Even gue ga tau intention dari Kniss yang sebenernya, bisa jadi dia tulus sama Sean. Gue ga menyangkal kemungkinan ini. Like I said, you simply can’t predict people. Gue juga ga bisa baca pikiran dia. Gue ga kenal dia. So, ini salah satu possibility yang mungkin terjadi kalo lu mau positif thinking.

Kesimpulan Johnny’s Journey?

Tulisan diatas udah terkesan keluar jalur banget, tapi masih berkaitan kok. Debunking the Seduction Community, masih masuk akal bagi gue. Dan gue setuju, gue ga mengharamkan lo mengambil workshop, seminar atau sejenisnya yang ditawarkan company sebelah, silakan banget.

However, Johnny’s Journey ketika gue baca, ini isinya bashing the community lebih jauh lagi, dan kalo gue liat, Johnny itu punya posisi yang sama dengan gue dulunya. Jam kerja yang gila-gilaan, sehingga dia harus rutin keluar tiap weekend, itupun dia ga banyak sukses sama cewek.

Masalahnya, dia ga ngeliat, ga giving the credit back, ketika dia mulai lancar kenalan sama cewek itu ga lain ga bukan karena dia dipush terus untuk keluar dan ngelakuin cold approach.

Same thing, di posisi gue, gue mulai berpikir banyak “metode” yang bullshit. Tapi gue ga mengingkari tanpa community juga gue ga bakalan bisa berakhir di posisi ini. Gue ngelawan approach anxiety gue, dan jelas gue juga jadi semakin berani mengambil tindakan.

Kita semua cari “father figure” alternatif atau “figur otorita” yang bisa memberi jawaban ke semua permasalahan kita. Apalagi orang-orang yang mencari solusi di internet, yang mana ngebawa mereka ke seduction community. Dengan memiliki jawaban, kita seengganya merasa lebih aman. Seabsurd apapun jawaban yang diberikan.

Baca Johnny’s Journey supaya lo bisa lebih kritis lagi ngeliat permasalahan para guru dan dating coach company yang ada. But ga lebih dan ga kurang. Kalo lo tetep decide mengambil program-program dating coach tersebut, it’s not a problem. Dan itu tetep keputusan yang berada di tangan elo. It might works for you, it may not.

Gue ga tau jawaban pastinya.

Find out yourself.

Cheers.

5 comments on “Review Buku : Johnny’s Journey dan refleksi komunitas

  1. Pingback: All about Passion : Instant gratification VS Delayed gratification | cotulen.com

  2. Pingback: Seduction dan Inferiority Complex | cotulen.com

  3. Pingback: Men These Days | cotulen.com

  4. Pingback: Gotlek Yang Fenomenal | Laki Tulen

  5. Pingback: “Keren” | Laki Tulen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 22, 2014 by in Review Buku and tagged , , , , , .
%d bloggers like this: