Laki Tulen

Reclaim Your Manhood Today!

The Amazing Spider-Man 2

Baru-baru ini gue nonton The Amazing SpiderMan 2. Overall filmnya lumayan menghibur, tapi kalo nurutin selera gue film ini scorenya cuma 5/10. Means so-so bagi gue. Seinget gue sih The Amazing Spiderman 1 juga ga begitu impresif bagi gue. Fight sequencenya waktu VS Lizard okelah, tapi diluar itu ga membekas. Dan gue udah lupa sama sebagian besar karakter pendukungnya. Ga ada yang memorable.

Jujurnya, gue lebih suka original trilogy yang dibintangin sama Tobey Maguire. Kenapa? Mungkin karena lebih masuk akal, humornya ringan dan mengena, tapi yang terutama gue bisa relate sama Peter Parker yang diperanin Tobey lebih daripada Peter Parkernya Andrew Garfield.

Overall, waktu gue masih bocah emang karakter Spiderman ini pun tenarnya bukan main. Kadang gue beli komiknya yang asli, tapi itupun ga ngikutin secara kontinu, dan beberapa waktu pernah terbit bahasa Indonesia, termasuk Batman dan Superman. Timeline dari komik barat gue ga pernah ikutin secara serius. Tapi kayaknya kalo baca-baca review yang ada, timeline Spiderman itu emang ada beberapa, bahkan ada Spiderman Noir dan Spiderman 2099. So agak ribet juga ngikutinnya. Kalo bukan hobiis atau enthusiast, pasti bakal bingung sendiri.

Pada dunia yang modern (bukan futuristic, bukan masa lalu atau dunia alternative) setau gue sih Spiderman juga ada beberapa versi komiknya. Dan The Amazing Spiderman ini salah satunya. Dunia Spiderman lebih gue kenal itu yang sama kekasihnya yang Mary Jane, dibandingkan dengan Gwen Stacy. Gwen Stacy sendiri baru gue tau setelah nonton versi Andrew Garfield dan usut punya usut, Mary Jane itu keluarnya harusnya belakangan.

Benernya gue cukup kecewa waktu nonton Spiderman 2. Beberapa hal sih, satu, karakternya ga ada yang memorable. Dua, Green Goblin terkesan dimasukin for the sake of being in the movie. Rada maksa gitu. Beda sama versi Spidermannya Tobey Maguire, Green Goblinnya memorable, dan karakter-karakternya gue inget semua. Gue juga lupa penggambaran tokoh Harry di Spiderman 1. Atau dia ada ga di film yang pertama. Yep, segitu shallownya nih film kalo gue liat. Apalagi Peter sama Harry itu harusnya jadi sahabat yang baik, tapi kurang diangkat di film ini. Persahabatan dan konflik Peter-Harry di versi Tobey lebih keliatan. Tiga, ini film bener-bener cuma jualan action dan CGI (Computer Graphic Imagery), tapi dari cerita dangkal abis. Action sequencenya emang keren berabis, gue akuin, but… that’s it.

Film yang masih mengena di diri gue untuk tahun ini jelas, The Wolf of Wall Street. Bukan film action, minim VFX, tapi beneran waktu nonton di bioskop itu sampe bulu kuduk berdiri dan adrenaline gue terpacu olehnya. I think this is how movies should be done.

Anyway, ngomongin soal SpiderMan 2, ada beberapa hal menarik yang bisa diangkat disini. Satu kasus Max Dillon/Electro.

ASM-banner-6-12

Ini penggambaran tokoh AFC (Average Frustrated Chump) yang tepat banget. Begitu dia mendapat perhatian sedikit (waktu Gwen inget namanya) dia senengnya bukan main. Sikap approval seekingnya yang sangat berlebihan dan rasa dendamnya terhadap perlakuan yang diterimanya bener-bener mengena. Kalo gue tanya, karakter electro tercipta salah siapa?

Engga lain dan ga bukan karena Max Dillon sendiri. Inget, apa yang elo broadcast dari dirilo itulah yang bakal elo terima. Ketika elo begitu haus akan perhatian, begitu haus akan penghargaan, dan sebagainya, yang elo terima adalah sebaliknya. Ya, inilah cara dunia bekerja.

Analogi lainnya adalah para keyboard warrior di internet, yang biasanya di forum-forum entah kenapa tiba-tiba cari gara-gara sama orang yang ga dikenalnya, cuma karena dia ngerasa untouchable di dunia maya. Di dunia nyata, biasanya orang-orang seperti ini adalah kebalikannya.

Pernah gue ketemu orang yang persis seperti Max Dillon di dunia nyata. Begitu dia dapat rank moderator di sebuah forum komunitas yang sering gue kunjungi, wataknya berubah total.  Tapi namanya status dunia nyata, emang bisa dipake buat apa di dunia nyata?

Max Dillon bisa elo liat sendiri, dia ini karakter yang sangat merasa inferior, dan menganggap semua orang lebih tinggi darinya, serta merasa dia harus membuktikan dirinya. Hasilnya dia berbohong (waktu si gwen nanya soal kartu ucapan ulang tahunnya) atau berulang kali menyampaikan bahwa power grid itu ciptaannya dia.

Ketika dia tidak mendapatkan perhatian yang dia inginkan, dan sampai titik terendah yang pernah dia capai, electro tercipta. Dan begitu dia merasakan hebatnya kekuatan Electro, diapun menjadi karakter yang jahat, haus akan kekuatan dan pengakuan. Makanya ketika layar display beralih dari dia ke SpiderMan dia pun ngamuk ga karuan.

Hal seperti ini terjadi di dunia pembunuh berantai :

http://en.wikipedia.org/wiki/Westroads_Mall_shooting

Dalam surat bunuh diri milik Robert Hawkings terdapat kutipan :

I’m gonna be fuckin famous”.
“Gue bakal jadi terkenal”

Ya… rasa frustrasi bisa mendorong orang berbuat nekad sampai sejauh itu. Beberapa pembunuh berantai bahkan begitu hausnya akan kekuasaan sehingga beberapa dari mereka dikategorikan sebagai “Power Killer”

http://people.howstuffworks.com/serial-killer.htm

Seperti yang gue katakan sebelumnya. Makan adalah kebutuhan dan tidak jahat. Lapar itu adalah dorongan alami. Tapi rasa lapar dapat membuat orang menjadi jahat. Contohnya dengan cara merampok, menjambret, mencuri, dsb.

Inilah penggambaran yang lumayan mengena dari karakter Max Dillon di SpiderMan 2.

Analogi lainnya yang cukup mengena gue rasa soal hubungan Peter dan Gwen. Gwen minta putus, walaupun Peter melakukannya untuk kebaikan Gwen. Ada kalanya orang yang baik niatnya disalah artikan dan diberikan response yang tidak diharapkan.

6976462368_aed88865d0_z

Tetapi, salah ga si Gwen?

Waktu dia diterima di Oxford, si Gwen dijatuhkan pada 2 pilihan. Menetap atau ke Inggris, meninggalkan Peter.

Lagi-lagi, salahkah si Gwen?

Pernah ga dengar ungkapan ini : “when you love somebody you gotta let them go”

Ketika elo mencintai seseorang elo harus membiarkannya pergi. Lucu memang kedengarannya, tapi kecuali dia emang masih bocah… dia punya pemikiran, dan harus membuat keputusannya sendiri. Kalo elo bukan menjadi pilihannya, ya hargain aja keputusannya.

Kisah-kisah seperti Peter Parker dan Gwen Stacy ini yang membuat dunia romance bener-bener terdistorsi. Peter Parker kalo gue liat cenderung needy banget di film ini. Sayangnya kenyataan di dunia nyata, semakin elo mengejar cewek, semakin dia bakal menjauh dari elo. Semakin elo melepas cewek, dan memposisikan dirilo pada posisi MEMILIH, semakin eratlah cewek ke elo. Contoh kasus, si B yang gue ceritakan disini.

Penggambaran karakter yang NEEDY ini menyebabkan pandangan yang ngaco soal “romantis”, apalagi film hollywood kayak SpiderMan 2 ini menjangkau milyaran orang di dunia. Beberapa cewek mulai tergila-gila sama kisah Gwen-Peter, dan cowok-cowok pada mulai berusaha berlaku kayak Peter di film tersebut.

Nih, salah satu teknik yang masih gue gunakan adalah meng-cut semua interaksi sama target, sehingga si target merasa kehilangan. Dan ini masih bekerja sampai detik ini, baik dalam skala mikro, maupun makro. Mikro dalam arti ketika elo cold approach, elo berinteraksi sama target, coba test dia. Elo rubah sikap elo ke dia, anggep interaksi yang elo lakuin ga pernah terjadi sama sekali, dan lihat bagaimana reaksi dia. Paling bagus ini dilakukan ketika interaksinya sedang hot-hotnya. Skala makro, ya coba deh diinget baik-baik sikap cewek-cewek yang bikin elo jengkel, penasaran, dll. Biasanya si cewek tiba-tiba menghilang atau ga ngebales SMS/message elo atau semacemnya. Atau tiba-tiba dia muncul sama cowok lain, sehingga elo mulai ngerasa takut kehilangan dia. Bener ga?

It works both way. Dan sayangnya kalo cowok yang ngelakuin hal-hal tersebut, biasanya dibilang NEGATIF.

Satu ucapan yang gue masih inget : “Gue ga cinta SpiderMan, tapi gue cinta Peter Parker”

Bener kah itu?

Sayang di film reboot ini tokoh Peter Parker kebanyakan ngumbar identitas aslinya, apalagi di film The Amazing Spiderman 1, yang bikin gue agak sebel sama filmnya.

Tapi gini, Kalo misalnya Peter Parker bukan Spiderman, kira-kira Gwen bakal tetep sama dia ga?

Yang lebih ngena sih Mary Jane & Peter di Spiderman 2 versi Tobey Maguire. Mary Jane itu plin plan, pindah pindah mulu antara Peter dan Harry. Ya itu lebih cocok buat gambarin sifat cewek yang sebenernya. Tapi di Amazing Spiderman 2 ini Peter Parker udah kebanyakan ngumbar identitas aslinya, jadi si Gwen jelas udah tau Spiderman itu Peter. Omongannya bener atau engga, ya ga tau.

Honestly speaking, Peter sebagai Peter ga punya masa depan yang jelas. Bayaran foto-foto Spiderman yang didapatnya sedikit. Tapi Peter sebagai Spiderman jelas punya VALUE buat si cewek. Misterius, terkenal, pembasmi kejahatan, dst. Of couse kalo si Gwen jadian sama Spiderman, dia bakal jadi headline dan spotlight buat masyarakat.

Anyway, mungkin gue cuma satu-satunya yang prefer original trilogynya Spiderman. Lebih masuk akal, lebih mengena, lebih relatable. Gue ga ngerasa begitu excited nungguin Spiderman 3, walopun endingnya Spiderman VS Rhino lumayan keren. But… this movie is all about eye candy, no essence.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 11, 2014 by in Opini and tagged , , , , , .
%d bloggers like this: