Laki Tulen

Reclaim Your Manhood Today!

Invisible War

“Men, lu tuh orangnya terlalu DIRECT” itu ucapan mentor gue, ke gue. Yes, gue akuin itu kekurangan gue, SEKALIGUS kelebihan gue.

Yang mana sekarang belakangan ini kalo gue perhatiin banyak mentalitas cowok yang terlalu lembut, terlalu kemayu dan terlalu nurutin feminisme.

Pernah denger istilah “beating around the bush”? Lengkapnya elo bisa baca disini : http://www.phrases.org.uk/meanings/beat-around-the-bush.html

Jadi jaman dulu para pemburu binatang liar di barat itu punya kru khusus untuk bikin suara berisik, mukul-mukulin sekitar semak, supaya binatang-binatang liar keluar dari persembunyiannya. So… instead of directly ke topik yang mau diangkat, yang menginisiasi percakapan itu muter-muter di topik yang ga bersangkutan duluan.

Di adat timur, beating around the bush atau menjadi indirect itu memang masuk dalam norma sopan santun. Tapi begini deh, pernah ga sih lu dapet message seperti ini :

“Yo man apa kabar?”
“Baik, lo gimana?”
“Ok”

Then…? Ok sure, it’s nice to be asked of how things going on my side. Sekali-sekali oke emang ditanyain kabarnya, nandain ada yang peduli sama elo.

HOWEVER, percakapannya berputar-putar ga jelas juntrungannya, baru beberapa lama kemudian permintaan favor itu pun keluar. I don’t mind ngebantu orang, tapi cut to the chase, please? Perlu apa, mau apa, dan ada apa? Ya gue akuin, mungkin ini dampak negatif social media yang marak belakangan, orang ga perlu nanya kabar lagi sebenernya kalo ngikutin profile online yang bersangkutan. So gue berasa aga aneh ada yang nanyain kabar… tapi biasanya bener kok, yang bersangkutan ga tertarik sama kabar gue lol. Kalo mo liat kabar gue ya cukup liat updetan status gue aja toh. Biasanya kalo berbasa-basi atau becanda cukup lewat social media. Bener ga? Gue rasa ini manfaat social media yang sesungguhnya sih, dibandingkan buat ngegebet cewek. Tapi seringkali juga social media itu bikin ketagihan, hence the innovation of loneliness.

So… untuk social media sendiri, gue selalu fokus kepada hal yang terpenting : orang yang berhadapan langsung di depan gue. Selama interaksi berlangsung, handphone gue taruh di meja menghadap ke bawah atau gue kantongin. Oh iya, bbrp bulan yang lalu gue ngambil pebble. Dengan arloji ini, gue bisa cek notification, liat penting ato engga, perlu menginterupsi interaksi sama orang di hadapan gue atau engga. Cukup lirik secara subtle, ga usah motong interaksi atau sejenisnya. Nanti gue bikin ulasan lengkapnya soal pebble.

Back to topic, masalahnya dengan habit “beating around the bush” ini, like I said, engga bakal menyelesaikan masalah, dalam kasus ini, subjek yang mau diangkat.

Pernah ga ditelpon sama sales/telemarketer?

“selamat siang pak”
“ya? selamat siang?”
“dengan bapak exorio?”
“ya saya sendiri, dengan siapa ya?”
“sebelumnya saya minta waktunya sebentar ya pak?”
“oke, ini darimana dan ada keperluan apa ya?”
“bapak blablablabla”

Biasanya gue potong terus, nanya keperluannya apa, tapi mereka ngeles terus. Dan telpon-telpon telemarketer ini seringnya bad timing banget. Ya gue udah ngerasain rasanya ngelakuin telemarketing sendiri, beneran kok. Dan gue tau rasanya gimana kalo misalnya target yang mo diprospek itu kasar dan asal nutup telpon sebelon kita nyampain apa yang mau kita sampaikan. So biasanya kalo terima telpon dari telemarketer gue usahain sopan, nolak secara baik-baik. Tapi biasanya mereka malah nyemplak “boleh tau alasannya kenapa?” biasanya gue jawab “ya belon ngerasa perlu sekarang ini” tapi dianya ngotot “tapi blablabla”, kalo udah gini gue bilang “sorry ya, saya lagi sibuk, bisa telpon nanti aja?”

Jadi gini kalo menurut gue, indirect okelah. Tapi mesti BALANCE.

Kalo lu udah bisa ngebaca subliminal messages, baik dari pemilihan kata-kata, tonality dan sejenisnya, ini berasanya kayak kutukan. You KNOW they want something FROM you. Tapi demi kesopanan engga mau ngomong langsung. Ga mau terbuka, diputer-puter dulu. Walopun kemampuan membaca subliminal messages ini bisa jadi tool yang powerful untuk ngebangun relasi. Dulunya gue cukup sensitif nangkep subliminal messages ini, HOWEVER, gue masih culun dalam memberikan responsenya.

FYI gue sering meminta tolong sama temen gue juga kok. Dan gue langsung cut to the chase. “Men, boleh nanya ga?” atau seengganya gue nanya dulu “men lagi sibuk ga lo? Kalo ga sibuk gue perlu bantuan nih”. See? Cut to the chase. Gue udah minta VALUE ke temen gue, the best thing I can do is NOT asking more value from him/her which is NOT WASTING HIS/HER TIME.

Oke, ini soal indirect. Tapi judul topiknya “INVISIBLE WAR”. Perang apa yang kita bahas disini?

Gini, mentor gue itu indirect method banget. Dia tuh sangat memuja Neil Strauss/Annihilation Method. Dan di lapangan dia emang keren banget.

HOWEVER, kalo ngobrol sama dia tuh jadinya berasa lamaaa banget, dan semua orang di”patronize” sama dia. Dalam arti diperlakukan kayak cewek, diberi pesan yang indirect, menyampaikan pesannya ga direct dengan alasan takut menyinggung dan sebagainya.

Waktu dia nyuruh gue rekrut orang, test dan interview yang gue lakuin itu DIRECT banget. Gue juga ngebaca body language yang bersangkutan, termasuk tonality sang calon karyawan. Kalo gue BERASA ga enak dikit, gue bilang no. Alhasil memang rekrutmennya jadi makan waktu yang agak lama, tapi jelas, staf yang gue pilih bertahan lebih lama, dibandingkan dengan staf yang dia pilih.

Asal indirect method itu darimana sebenernya? Mystery Method, Annihilation method dan sebagainya? Mereka mengadjust diri mereka supaya bisa ngomong dalam bahasa CEWEK. Which is VERY indirect. Bukan mencemooh, gue sendiri belajar soal Mystery Method pas awal-awal, dan batu loncatan terbesar gue setelah baca The Game. However, kalo lu liat Nick Savoy, founder http://www.lovesystem.com

Berasa ga, aura GAY nya? Mungkin ga gay, tapi gue berasanya orang ini FEMININ.

Lovesystem itu awalnya dibangun sama Mystery/Erik Von Markovik dan Nick Savoy, dan Mystery hengkang dari situ bikin sendiri yang namanya http://www.venusianarts.com

Indirect method tuh begini secara garis besarnya :

  1. Membuat cewek ga merasa risih sama kehadiran elo (indirect opener) dalam arti elo cold approach ke target bukan dengan maksud yang ada di otak elo, which is, kenalan karena elo tertarik sama dia
  2. Ketika si cewek cukup nyaman dengan kehadiran elo, niat/intention tetep ga disampaikan dan elo mulai melakukan DHV dan tetep membuat si cewek menebak-nebak maksud elo apa
  3. Ketika si cewek udah menunjukkan interestnya (IOI), barulah elo memberikan SOI (Statement of Interest)
  4. Then magic happens

Bukan masalah metode ini bagus atau jelek. Kalo it works for you why not. Dan mentor gue sendiri gue liat di lapangan cewek 5 orang dalam 1 grup terlihat kayak dihipnotis gitu ketika dia ngomong.

See, masalah step pertama dari indirect method ini untuk menghindari “screening mode” dari cewek. “Screening mode” dalam arti first impression dari cewek langsung dijadikan judgement dia sepenuhnya. Mulai dari fisik elo, dari body language elo, dsb. Dengan cara indirect gini, elo menghidari screening mode dari si cewek, dan selama si cewek memberikan fokusnya ke elo, elo jadi bisa MEMANCARKAN KEPRIBADIAN elo yang MENARIK buat dia. Kalo istilahnya Mystery, Demonstrating High Value, atau DHV.

Dan indirect method ini kalo gue perhatiin MIRIP sama apa yang dilakukan sama awam pada umumnya kalo lagi ngincer gebetan. Ini terutama gue liat pas waktu di kantor gue yang dulu.

  1. Sooo, udah terbentuk satu grup. Salah satu cowok ngusulin ide berlibur ke pulau terpencil, getting a getaway gitu ceritanya dengan alasan “liburan ngelepas stress”, makan bareng, nongkrong bareng dst.
  2. Ketika udah berduaan satu persatu mulai nunjukkin intentionnya.
  3. Pas pulang dari “liburan” tersebut, semua cowok ekspresinya kayak habis dijagal gitu LOL.

Well, kadang ada pemenangnya sih. Dan ini taktik ternyata umum banget.

Ide dasarnya indirect method adalah, mengcramp up semua taktik basi tersebut menjadi step-step yang lebih efisien. Tapi tetep, indirect. Yaitu COWOK, menyesuaikan dirinya dengan menggunakan bahasa CEWEK.

Nah… disinilah perangnya dimulai. Gender Wars, yaitu PERANG GENDER.

 

FEMINISM

Baca selengkapnya soal gerakan feminis di wikipedia :  http://en.wikipedia.org/wiki/Feminism

Intinya gerakan wanita yang menuntut persamaan hak dengan pria. Ini sempat gue bahas dulu di Maslow’s Hierarchy of Needs.

Persamaan hak diantara pria dan wanita itu GA RELEVAN sebenarnya, karena pria dan wanita itu BEDA. Bukan dalam arti yang mana yang lebih baik, yang mana yang lebih jelek, tapi beda. Sama kayak kalo lu mengcompare meja dan kursi. Dua-duanya berpasangan, tapi lu ga bakalan duduk di meja atau naruh piring di atas kursi.

Sama kayak baju dan celana, dua-duanya berpasangan, tapi baju itu buat dipake diatas pinggang dan celana buat dipake dibawah pinggang. Mana yang lebih baik? Ga ada. Masing-masing punya fungsinya sendiri. Kalo celana sama baju lu samakan ini jadinya :

Mr.-Sebuyama-turkey-sweater-1-650x425

Dapet idenya? BEDA! Bukan yang mana yang lebih jelek atau lebih baik… tapi baca lagi yang baik-baik dan pelan-pelan : BEDA/DIFFERENT.

Dan dari desain alam, tubuh kita diciptakan BERBEDA, untuk mengakomodasi fungsi yang BERBEDA pula. Cewek punya rahim dan payudara, sedangkan cowok punya sosis dan telor dua.

Pola pikir, interest, dan pandangan juga beda… cara ngeliatnya yang cukup jelas sih, kalo lu liat Fakultas Teknik Mesin, biasanya MINIM cewek. Kalopun ada ya paling satu ato dua orang. Universitas APA aja yang ada jurusan teknik mesin.

Bidang gue dulunya kebetulan juga bidang yang MINIM cewek. Makanya gue agak ga betah ngeliat kelakuan para co-worker gue yang begitu ada cewek baru masuk, langsung kayak orang kelaperan.

vlcsnap-345156

Oke. So apa hubungannya sama perang segala? Kalo gue perhatikan orang sekitar, khususnya pergeseran nilai-nilai maskulinitas karena gerakan feminis ini, cowok belakangan itu cenderung kemayu, indirect, kebnayakan basa-basi dan terlalu lembek. Dalam arti sisi feminin mereka jadi lebih DOMINAN. Why? Salah satunya gerakan feminisme. “kesetaraan gender” dan “persamaan hak”. Oke, sekarang kalo ngomongin persamaan hak, gimana dengan “persamaan kewajiban”? Kok ga dibahas? Kalo cewek ganti ban mobil atau ngecek mesin, biarin aja gitu deh, nah itu baru yang namanya SETARA.

Atau misalnya membukakan pintu atas dasar kesopanan, kenapa cuma cewek aja yang wajib dibukakan pintu sama cowok, dengan alasan “chivalry” atau “gentlemen”? Atau ngangkatin barang-barang berat, pastinya elo pernah ditegor seengganya sekali “tuh bantu bawain dong kan berat, masa cewek dibiarin bawa barang segitu”?

Nahhh… kalo cewek ngeliat cowok kesulitan gimana? Ditolongin gitu? Minimal deh kalo misalnya ngeliat cowok ngos-ngosan bawa barang berat, biasanya mereka ga NGERASA wajib ngebantu, dengan alasan “ya itu kan tugasnya COWOK”.

Get the idea now? Ini masalah kecil ya. Let see it in a BIGGER picture.

Sekarang dengan pemahaman-pemahaman itu, para cowok diperbudak sama cewek. Dan ga kurangan yang jadi PBSI (Pacar Bukan Supir Iya) misalnya, dengan mengatasnamakan “chivalry” dan “being a gentlemen”. Hak udah didapat, dua-duanya boleh berkarir dalam bidang yang sama kenapa ga cari penghasilan untuk beli mobil sendiri? Feminism is BULLSHIT. Dan sekarang para cewek mulai mengeluh kenapa cowok jaman sekarang itu lebih banyak yang lembek, ga teges, atau plin plan.

Satu pengalaman anak buah gue. Waktu dia ngerjain assignment, kualitasnya dia ga sesuai sama harapan. So gue bantu, tapi dia harus mau ngebantu dirinya sendiri. Jadi gue kasih instruksi : 1. apa, 2. apa, 3. apa. Intention/niat gue ngebantu lho. Bukan ngebully ato marahin dia.

Dia bilang ga bisa. Gue tanya ga bisa kenapa? Ga tau. Lu udah jalanin belon instruksi gue? Belon katanya. Oke, gue tunjukkin caranya sekali, tapi gue minta dia nerusin selanjutnya dan gue kasih step-by-step lagi.

Pas gue tanyain udah dikerjain belon advice gue? Belon. Kenapa belon? Hasilnya dia duduk sambil terisak isak, terus curhat “saya benci sama diri saya mas”. Duuudddeee… seriously? Ini kasus terparah yang pernah gue temuin. Padahal gue ngomong juga dengan lembut, Pada akhirannya gue digosipin galak.

463px-Facepalm

 

Yes, expectasi gue TINGGI. Dalam arti gue selalu berpikir : YOU ARE WAAAYYY BETTER THAN THAT! Dan gue berusaha ngepush anak buah gue untuk MANDIRI, supaya apa? Supaya kalo mereka udah ga di team gue lagi, mereka bisa MANDIRI. Lagi-lagi ini soal long-term dan short-term goal.

Short termnya apa? Assignment dia beres. Bisa aja gue turun tangan langsung tapi itu tandanya gue ngeremehin dia. Dan gue liat beberapa team leader yang lain TAKUT dibenci. Hasilnya? Anak didikan mereka jadi super manja, dan berkali-kali ngeliat malah team leadernya itu yang ngerjain assignment anak buahnya. Kalo dia ga keberatan ga masalah. Itu hak dia. Tapi kelanjutannya teamnya dia jadi GA MANDIRI, dipindahin ke team yang lain juga minta disuapin terus. Team leader yang baru spontan dongkol juga. Itu longtermnya.

Anak buah gue yang itu adalah produk gerakan feminisme gue rasa.

 

Generation Y

Yang gue bilang lagi, feminism cuma SALAH satu penyebabnya. Sekarang teknologi makin maju, internet semakin kencang, muncullah generasi Y/generasi milenium yang ketagihan sama internet dan social media. Dalam arti semua sudah disuguhkan tepat di depan muka mereka. In your face istilahnya. So, banyak cowok yang cenderung menghabiskan waktu berjam-jam mengurung diri, stalking social media dan nonton film porno yang gampang didapat internet. In other words, they are sexually satisfied in WRONG way. Dengan onani/masturbasi.

Ngaku. Seengganya elo pernah nonton bokep, apalagi jaman sekarang. Gue bukannya mendorong free sex ya, tapi dengan menonton film porno dan melakukan onani, elo jadi MALAS mencari sexual experience yang sesungguhnya.

Ditambah lagi gerakan-gerakan garis keras yang plin-plan. Yang baru-baru ini gue heran, om Tifatul Sembiring, situs-situs yang mengencourage hatred/chaos/anarkisme/terorisme seperti tutorial bikin bom atau sejenisnya malah engga diblok. Kejadian yang udah agak lama, majalah playboy dicekal sama F*I, dan dikit-dikit asal porno pasti mereka langsung turun ke jalanan. Sedangkan permasalahan di negeri ini cukup banyak. Contoh? Korupsi di pemerintahan gimana? Dan hal-hal seperti ini yang menimbulkan persepsi bahwa SEX IS EVIL.

Wanna see the example?

http://www.kaskus.co.id/show_post/532732e6ffca17f56c8b468a/1110

Itu response gue yang diputer-puter sama orang yang nganggep sex itu jahat. Oke dia bilang dia banyak melakukan kenalan, tapi bukan buat SEX, buat diajakin MERRIED.

Head in Hands

Nih satu thread konsultasi tentang menikah :

http://www.kaskus.co.id/post/536281bdab07e769058b4635

Sooo… kalopun si cewek mau merried sama elo, akhirnya ngapain? Itu yang doi bingung ngejawabnya. Merried ya jatuh-jatuhnya buat SEX. Bullshit kalo kenalan sama cewek bukan buat sex. Kalo itu pemikiran elo, dijamin elo bakal ngalamin internal konflik, ya coz, merried itu buat bikin keturunan, yang mana dilakukan dengan SEX.

Nah dari situ gue mo tanya, 3-4x seminggu buat bikin keturunan? I don’t think so. Sex is a NEED. Dan ini fakta yang sebagian besar cowok harus terima. Kalo emang kelamin elo cuma berfungsi buat pipis doang, gue ga bakal omong lebih lanjut.

Coba buang semua akal budi, teknologi, dan liat manusia itu sebagai MAMALIA, mahluk menyusui. Secara biologis, we’re basically ANIMALS. Secara biologis, kita ini BINATANG. Ga beda jauh sama sapi, sama anjing dan sejenisnya. What I’m trying to say is, kelamin elo gantung di tengah kedua kaki elo. It’s part of you. Bagian dari dirilo. It’s there for a purpose. Accept that.

Problem sama nice guy adalah betapa terdistorsinya pemikiran mereka tentang sex. Dan engga mau ngakuin bahwa mereka butuh SEX, karena mereka beranggapan sex itu JAHAT.

Nih pengakuan gue : I LOVE SEX, I ENJOY SEX, AND I AM COMFORTABLE WITH MY SEXUALITY

Masalah moral, salah/bener atau ga sesuai dengan ajaran A, B, C, D, E sampe Z, silakan elo lontarkan disini, tapi ya… coba tengok ke bawah lagi, liat Mr. P elo. Ucapkan “Hello” ke dia.

Istilah-istilah negatif yang ada juga malah mendistorsi pemahaman ini, seperti penjahat kelamin, playboy, don juan dsb. Nah coba deh elo tanya mantannya player, mereka disakitin ga sih sebenernya? Mungkin ada yang bilang kecewa, bilang player itu jahat, begini begitu, tapi kenapa si cewek mau juga tidur sama dia? Cewek-cewek korban player yang bilang player itu jahat, itu KECEWA. KECEWAnya kenapa? Karena bukan mereka yang DIPILIH. Get it? Sama aja kan kayak para cowok member barisan sakit hati? Karena bukan mereka yang dipilih, jadinya dendam sama si cewek… ¯\(°_o)/¯

Dan gimana masyarakat memandang masalah ini? Cowok BSH itu cowok yang PAYAH, masa ditolak sekali aja udah putus asa dendam, dsb. Sedangkan cewek yang dendam sama player itu biasanya playernya/si cowok yang NGACO, the bad guy. Nah… pertanyaan gue sekarang, kenapa si cewek MAU dikerjain sama si player?

See where I’m going with this?

Nah sekarang gue ga pernah denger istilah “playette” atau player cewek. Jarang seengganya. Cewek yang hobinya ngumpulin orbiter/ekor, dan dimanfaatin sama dia. Fair-fairannya sih ya, okelah dia perlu bikin pilihan dan nantinya memilih yang terbaik buat dia. Cowok yang biasanya keluar dari orbiter inilah yang biasanya pindah jadi member BSH. Tapi itu juga yang dilakukan sama PLAYER. Sooo… kenapa yang player itu jahat sedangkan yang playette engga?

Baca lagi interview gue sama ex boss gue disini terutama bagian belakangan.

 

Bros before hoes

2014-05-02 06.39.49

Survival strategy yang tertanam dalam diri cewek secara biologis adalah mereka bakal terus mencari cowok yang ALPHA. Dan selama mereka punya koleksi orbiter atau semacemnya, mereka akan terus berpindah hati. Mungkin sempet pacaran sama cowok beta, yang nurutin semua kemauannya, tapi begitu ada cowok yang lebih kinclong, mereka akan sexually turned on sama cowok yang lebih kinclong itu.

MOST of the time, tuntutan married itu datangnya dari cewek. Kenapa? Cewek kalo udah stuck di umur mendekati 30 makin pasrah. Seorang mantan gue dulu gue lepas, coz dia jalan sama cowok lain. Tapi dia berharap mau balikan, gue bilang “but I don’t want you anymore”. Eeehhh terus lama ga ada kabar dia kasih undangan pernikahan dia. No biggie. Jujurnya gue ga takut dateng ke pestanya, coz ya ga masalah temenan sama dia. Cuma waktu itu kita lagi beda kota dan gue lagi diburu deadline. So gue bilang maaf ga bisa dateng.

Pas balik jakarta, gue denger dia cerai, punya anak. Dan berkali-kali dia ngajak ketemuan ga jelas untuk apa. Sekali waktu dia minta gue dateng ke pesta ulang tahun anaknya. Lha… buat apa? Anaknya kan ga kenal sama gue? Apalagi gue mantan dia, kalo ada suaminya ntar malah ribut sama suaminya? Males banget. Tapi alasan utamanya adalah JAUH. Gue ogah deh kesono, mana macetnya gila kan Jakarta. Beneran. Kalopun gue dateng itu cuma untuk niat baik… dalam arti gue ga mo burn the bridge. Dia message ya gue tetep tanggepin.

Nahhh… gini. Walaupun ga semua cewek itu gitu ya. Dan gue ga mau menggeneralisir. Tapi baca lagi diatas. Apalagi kalo dalam konteks masih PDKT, ga usahlah sikut-sikutan sama temen elo. Si cewek juga belon tentu milih elo. Kalo elo yang dipilih ya sukur, kalo engga ya cari yang lain. Santai, selow, selon gitu.

Inget deh, FEMINISME VS MASKULINITAS.

Dalam komunitas kaskus lair yang masih segede upil aja udah banyak ributnya. Coba cek hall of shame posts.

Sedangkan cewek itu selalu bahu-membahu di dalam grupnya mereka. Diskusi tentang cowok, strategi manfaatin cowok, cowok mana yang sucks, cowok mana yang hot, gimana langkah-langkah yang tepat dan sejenisnya.

Nah kalo cowok, itu haram kayaknya deh minta tolong minta advice soal cewek ato sejenisnya. Makanya kebanyakan silent reader di kaskus lair. Diem-diem stalking perkembangan threadnya. Tapi begitu liat cewek satu yang hot, langsung sikut-sikutan, nyebar gosip dll. Which is kampungan istilahnya. Dan dengan cara gini, si cewek semakin kedongkrak valuenya, sedangkan para cowok yang sikut-sikutan itu malah jadi terkesan murahan, karena mereka menjadikan si cewek THE PRIZE nya. Get it?

INGET satu hal, kita ini hidup di dunia yang DRIVEN by men. Dunia yang digerakkan oleh PRIA. Digerakkan pria, maksudnya apa? Nih :

  1. Pencipta mobil : Karl Benz. Yang mungkin udah keduluan sama Ferdinand Verbiest
  2. Pencipta telepon : Alexander Graham Bell
  3. Pencipta pesawat : Wright bersaudara
  4. Genius paling terkenal sepanjang masa, yang kemungkinan besar pemikirannya jadi inspirasi bagi para inventor modern : Leonardo Da Vinci
  5. Penemu listrik : Benjamin Franklin
  6. Pencipta home computing : Steve Jobs dan Steve Wozniak
  7. Penyempurna smartphone layar sentuh yang jadi trend smartphone sekarang : Apple, punyanya Steve Jobs
  8. Founder Facebook : Mark Zuckerberg
  9. Founder Microsoft : Bill Gates
  10. Pencipta pencakar langit : George A. Fuller
  11. Presiden negara adidaya : Barack Obama
  12. Para pemimpin FIFA : cowok semua
  13. Pemimpin UN/PBB : cowok semua

Sure, ada rare cases dimana nama wanita muncul sekali dua kali.

Tapi itulah kenyataannya, dan faktanya adalah PRIA DICIPTAKAN UNTUK MEMIMPIN dan MENGGERAKKAN dunia.

Yes, we fucked up too every once in awhile. Adolf Hitler itu ya cowok juga. Tapi begitu pula Churchill, Stalin dan Rooseveld.

Joseph Stalin-Franklin Roosevelt-Winston Churchill

Now, that is BROTHERHOOD.

Tapi apakah ini berarti cewek itu lebih SUCKS/PAYAH/LAME dibandingin cowok?

Nope.

WE ARE DIFFERENT.

Beda bukan berarti lebih baik atau lebih jelek.

Pencapaian wanita itu lebih berbentuk HORIZONTAL (bonding dengan sesama, merawat keluarga, membesarkan anak, menjalin relasi), dibandingkan dengan VERTIKAL yang dimiliki oleh para cowok (kekuasaan, kekuatan, reaching to the top, menjadi pertama, menjadi yang terbaik, dst)

Tapi, jelas kan sekarang apa TUGAS COWOK yang sebenarnya?

N thanks to feminism dan gerakan “persamaan hak”, makin banyak… istilah yang gue pinjem dari forum “coddled wussies” jaman sekarang. Cowok yang super sensitif, ga berani direct, plintat-plintut, basa-basi, cengeng dan sejenisnya. Karena sisi feminin mereka LEBIH DOMINAN.

Soooo… buat penutupnya gini : kalo masih ada cowok yang berantem sama cowok lain gara-gara rebutan cewek, gue liat dari jauh aja sambil ketawa. Be nice with others, terutama kalo itu temen elo yang cowok.

Cheers.

5 comments on “Invisible War

  1. Pingback: 1 Year LakiTulen Blog | Laki Tulen

  2. Pingback: Pick Up Artist Indonesia | Laki Tulen

  3. Pingback: The Amazing Spider-Man 2 | Laki Tulen

  4. Pingback: All about Passion : Instant gratification VS Delayed gratification | cotulen.com

  5. Pingback: Tipe-tipe cewek | cotulen.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 2, 2014 by in Opini and tagged , , , , , , , , , , , , .
%d bloggers like this: