Laki Tulen

Reclaim Your Manhood Today!

Calibration

Salah satu key terpenting dalam belajar seduction maupun bersosialisasi secara umum adalah “calibration” atau kalibrasi.

Interaksi antara manusia tidak lain dan tidak bukan adalah hubungan aksi dan reaksi. Ibaratnya bermain catur, misal elo membuka percakapan dengan seseorang, anggap aja ini elo sedang menggerakkan buah catur elo. Setelah lawan interaksi elo mengamati dan mencerna gerakan elo, dia memberikan reaksi, dengan menjalankan buah caturnya dia. Yap, konsepnya sesimple itu.

Jadi misalnya elo berlaku baik kepada seseorang, dia memberikan reaksi senang, elo memberikan reaksi terhadap reaksinya dia, kemudian dia memberikan reaksinya lagi. Yang menjadi masalah adalah sebagian besar orang tidak paham dengan bagaimana menjalankan “buah caturnya” sebagai reaksi terhadap reaksi orang lain. Seringkali juga reaksi negatif yang didapat adalah karena buah catur yang dijalankan tidak tepat.

Sebagai contoh, apabila ada orang yang datang mengintimidasi elo, apalagi dia berada dalam status formal yang lebih tinggi dari elo, sedangkan elo dalam posisi yang jelas benar, seringkali kebanyakan orang akan mundur dan menuruti intimidasi yang bersangkutan. Ini biasanya menghasilkan rentetan intimidasi yang berkelanjutan. Atau mungkin bisa juga, karena elo kurang kalibrasi, elo membalikkan intimidasi tersebut secara berlebihan, hasilnya elo pun mendapat hukuman/penalti.

Atau contoh lainnya, ada orang ga jelas dateng ngamuk-ngamuk ke elu tanpa sebab. Nah, buah catur yang elo jalankan apa? Apakah elo ikut marah-marah, dan mulai main bogem sama dia?

Perlu diketahui, benar atau salah itu relatif, tergantung dari sisi mana melihatnya. Dan seringkali, menjadi benar bukanlah solusi terbaik untuk kedua belah pihak. Baik untuk lawan interaksi elo, maupun untuk elo sendiri. Disinilah ego harus dibuang jauh-jauh.

Perlu contoh ekstrimnya? Inget Ricky Halim? Mungkin memang dia disakiti oleh ceweknya, tapi dia menjalankan “buah catur” yang ngaconya ga kira-kira, atas reaksi dari perilaku/reaksi si cewek (yang juga mungkin sebagai reaksi terhadap aksi yang bersangkutan juga). Pada akhirnya, semua orang bersimpati kepada Lynia, apapun latar belakang kasusnya. Jelas gue juga memihak Lynia, apapun permasalahan dibelakangnya.

Permasalahannya juga apa sih? Gue rasa ga perlu sampe ngerusak masa depan korban juga. Masalah cinta? Cewek masih di awal 20an, perjalanan hidupnya yang mestinya masih panjang, masa depannya dirusak begitu aja. Dokter udah memvonis Lynia kehilangan penglihatannya. Ricky Halim itu adalah kasus ekstrim orang yang tidak terkalibrasi. Bahkan mungkin mengarah ke psycho. Waduh, ini engga banget deh.

Contoh lainnya? Mungkin lo kenal sama Farhat Abbas.

kapanlagi.com-p-farhat_abbas_13_kl

Entah gue benernya agak males ikutin berita-berita ga penting gini, tapi keknya doi lumayan terkenal bikin “kontroversi” yang ga penting. Yang jelas banyak memaki orang lain tanpa ngaca.

Mungkin orang ini kelewat pede, itu juga masalah kalibrasi.

Kayak yang gue bilang di masalah peacocking, semuanya perlu kalibrasi. Oke, untuk berhadapan sama cewek kita perlu jadi PEDE. Tapi kalo kelewat pede, yang ada lu malah jadi orang yang nyebelin (ato jerk), yang mana kepengennya diliat jadi keren, eh malah jadi berantakan dan bikin dongkol orang-orang sekitar. Seperti yang gue bilang di artikel itu juga. Semua hal yang baik, kalo berlebihan, ya jadinya ga baik. Makanya kita perlu keseimbangan. Dan keseimbangan ini lagi-lagi hanya bisa dicapai melalui PROSES, yaitu KALIBRASI.

Anyway, kalo lu suka nonton Dog Whisperer, solusi yang diberikan Cesar Milan terhadap peliharaan yang susah dikontrol adalah sebagian besar membenahi perilaku majikannya dalam memberikan reaksi terhadap peliharaannya. Bukan anjingnya. Simplenya, you reap what you sow. Dan seringkali solusinya dia berhasil memecahkan persoalan majikannya. Ini antara hubungan manusia dengan hewan yang lebih primitif dari kita, bagaimana dengan manusia dan manusia?

Memang benar, kita punya akal budi, tapi jangan lupa lagi, kita ga lebih dan ga kurang masuk dalam kategori mamalia. Dalam arti, apabila akal budi manusia dibuang dari diri kita, kita ini gak lebih dari saudara jauh seekor anjing, yang masih punya dorongan-dorongan naluriah juga. Dorongan naluriah ini memang bisa dikontrol dengan akal budi, dan yang jelas, manusia yang dominan adalah para manusia yang bisa mengontrol insting, emosi dan naluri alamiahnya secara menyeluruh, namun tidak mengingkari dorongan-dorongan tersebut.

Contohnya, apabila lawan interaksinya terseret emosi, manusia yang dominan tetap pada posisi yang tenang. Nah semua ini tidak bisa diachieve dalam waktu sehari dua hari. Semua ini butuh yang namanya “calibration” atau “kalibrasi”.

So, coba pikir, kalo sekarang elo merasa orang-orang disekitar elo pada bersikap negatif terhadap elo. Mungkin saatnya ngaca. Bener, haters gonna hate, dan elo ga bakalan bisa ngehindarin orang-orang yang tiba-tiba membencilu tanpa sebab, apalagi elo orang yang menonjol dan selalu menjadi pusat perhatian. Tapi semua itu ada rasionya juga. Kalo mayoritas sebel sama elo, well, waktunya ngaca.

Peacockingnya Mystery pun perlu kalibrasi. Ini pas awal-awal dia menjalankan experimen sama teori peacockingnya dia :

mystery_method_neil_strauss_style_pua_peacocking

Bener-bener aneh, dan lebih mengarah ke “freak” instead of “cool” atau “keren”

Dan ini setelah beberapa lama dia menjalankan metodenya dia :

original

Get the idea?

Contoh lainnya, pengalaman pribadi. Gue bukan orang yang suka berlama-lama mikirin fashion. Satu hari deodoran gue abis dan gue dikasih sebotol parfum sama saudara gue. Lah namanya orang biasa pake deodoran semprot yang harganya 50an ribu sama anti perspirant, ya jelas awal-awal gue sangka make parfum itu cara makenya sama kayak deodoran semprot itu.

Hasilnya orang-orang disekitar gue komplen wangi gue keterlaluan. Setelah ngeliat temen gue pake parfum pas mo jalan, dia semprotin sekali di masing-masing pergelangan tangan terus diusapin ke leher, baru deh gue dapet “oh gitu” moment. Alhasil ya caranya dia gue tiru, dan parfum gue simpen buat acara khusus aja. Kalo buat harian tetep deodoran sama antiperspirant.

See, feedback negatif itu perlu. Supaya elo bisa melakukan adjustment. Tapi seringkali repotnya, kebanyakan orang itu terlalu sopan dan ga berani blak-blakan langsung sama elo. Dan instead of ngomong langsung, mereka ngomong dibelakang. Jadi, ya baiknya keep a good friend close, orang yang ga sungkan kasih feedback negatif ke elo supaya elo bisa dapet informasi yang emang elo perlukan untuk melakukan proses kalibrasi.

Untuk contoh ini, salah satu anak buah gue yang bikin dongkol, gue udah bilang ke dia, kalo ada masalah bilang aja gapapa. Tapi setiap kali dia bandel. Dan tiap kali ditanya bilangnya ga ada masalah, dan  malah ngegosip di belakang. Spontan dia gue tendang dari team gue dan gue ga mo urusan lagi sama dia.

Semua anak buah gue selalu gue suruh ngomong apa adanya, kalo ada keberatan bilang, seengganya gue juga bisa mengadjust perilaku gue yang bikin mereka sebel. Atau gue bisa memberikan pengertian kenapa gue melakukan suatu hal. Kalo misalnya ngomong di belakang, yang ada cuma asumsi, dan biasanya kalo udah gosip, dari si Budi ngomong A ke Susi, si Susi bisa jadi ngomong Z ke yang lain. Ya kalo cuma sebatas cerita yang terdistorsi ya gapapa lah ya. Tapi problemnya kan tetap ada dan subject gosipnya ga aware masalahnya apa.

Baca lagi deh soal “embrace conflicts

Sewaktu disana, team yang terkumpul dibawah gue sangat solid, dan mereka semua mo jujur ngomong apa adanya ke gue. Susah lho ngumpulin orang-orang seperti itu.

Kemarin juga sempat ngumpul bareng anak kaskus lair, ditambah anak baru. Maksudnya sekedar saling mengenal, saling ngobrol, dan sebagian besar orang yang gue temui juga baru gue ketemu sekali dua kali dan ada yang baru ketemu di real world kali itu. Gue akrab aja sama mereka. Sedangkan yang anak baru diem, bengong dan ga sadar situasi.

Kalo dia computer geek kayak gue yang dulu ya ga masalah ya. Tapi problemnya dia bilang dia udah ngejalanin cold approach selama beberapa tahun. Dan okelah kalo pas approach dia ga ada takut-takutnya. Nah tapi kalo sekedar ngumpul bareng ngobrol santai masih sekaku itu, something wrong sama metode pembelajaran dia. Jago cold approach tapi engga socially calibrated. Nah lho… jadi tujuannya dia rutin cold approach itu buat apa?

Maka dari itu, gue ngerekomen satu hal buat para newbie. Ga usah HB-HBan. Cold approach SEMUA orang dulu. Mau supir taxi, mau tukang sapu, tukang kebon, satpam, dll. Kalo itu udah lancar, dan bisa buka percakapan ngalor ngidul sekedar santai dan menghabiskan waktu, dan enjoy the moment sama mereka, barulah elo mulai cold approach HB. Otherwise, gue rasa agak lucu, kalo elo jadi mesin approach tapi secara sosial elo masih culun. Atau udah berkali-kali cold approach masih nanya, interaksi yang menyenangkan buat kedua pihak itu seperti apa. Boy, he must be fun at parties.

So far, get the idea?

Anyway kata KALIBRASI udah muncul berkali-kali pada point ini. Sekarang kita bahas secara spesifik soal kalibrasi. Apa itu “calibration?”

Analaginya yang paling pas sih menurut gue kalo elu lagi tuning gitar (walopun gue ga bisa main gitar tapi tuning bisa lah dikid2 :P)

So ibaratin gini…

  1. Tuning peg = game elu (yang elu dapet dari baca buku, dari feedback orang, dari nasihat, dst)
  2. Elo metik gitar = action elo
  3. Suara gitar = feedback dari target, orang sekitar, dll

how-to-tune-a-guitar

Nahhh kalo tuning gitar kan lu harus metik senarnya terus-terusan… otherwise, suaranya elo ga tau kan bagus ato jelek, sembari muter tuning pegnya pelan-pelan.

Kalo jelek, ya tuning pegnya diputer pelan-pelan sampe pas, tetep sembari elu metik senarnya non stop so elo tau tuning pegnya mesti diputer kemana..

Kadang suaranya ketinggian, kadang suaranya sember. Ini semua mesti berjalan bersamaan,

Awal-awal sering kali kan suaranya sember banget mungkin… nah tuning pegnya memang harus diputer agak banyakan, ketika suaranya udah mendekati yang enak baru dikurangin pelan-pelan.

However, ga bisa tuh elo muter tuning peg tapi elo ga metik senarnya.

Atau maunya suaranya instan, terus muter tuning pegnya brutal habis2an tanpa metik senarnya sama sekali. Ya jelasnya suaranya amburadul pas dipetik.

Atau elo metik senarnya tanpa muter tuning pegnya… ya ga bisa juga. Lu mau petik senarnya sampe jarilu berdarah ya tetep gitu aja suaranya.

Atau elo tuning pegnya elo puter pelan-pelan dan elo petik senarnya terus-terusan tapi elo ga dengerin suaranya… ya ga bisa juga kan.

Atau elu tuning, elo petik, elo dengerin suaranya sekali… terus udahan ya… ga bisa juga toh.

Tetep 3-3nya harus lu lakuin, muter tuning pegnya, petik senarnya dan dengerin suaranya, secara terus menerus.

Sampe suaranya indah didengar.

Calibration berhubungan sangat erat dengan Congruence. Apabila elo melakukan kalibrasi dengan benar, maka apa yang terjadi dalam internal elo, tidak akan bertentangan (konflik) atau “ideal self” dengan apa yang elo lakukan (self image).

congruence

Dengan kalibrasi yang dilakukan secara kontinu, elo lambat laun akan menemukan titik tengah yang cukup mengakomodasi feedback dari orang lain dan juga kebutuhan elo secara mental/internal.

Contoh kebalikan dari hal ini adalah orang yang selalu tersenyum, bersikap sopan dan ramah, tapi account sosial media miliknya penuh dengan sumpah serapah dan singgungan terhadap orang yang ga jelas siapa. Dalam arti, secara internal dia mengalami konflik, namun dia engga mampu mengekspresikannya secara benar.

Bacaan mengenai hal ini silakan dibuka :

http://www.simplypsychology.org/carl-rogers.html

9 comments on “Calibration

  1. Hendro
    February 14, 2014

    keren gan tulisannya. thx for sharing.

    • exorio
      February 17, 2014

      thanks bro.

  2. Pingback: Dong Nguyen | Laki Tulen

  3. Pingback: Alur Blog | Laki Tulen

  4. Pingback: Getting in Touch with Emotion | Laki Tulen

  5. Pingback: Super Ultra Pickup Artist Arcade Limited Dash Hyper EX Championship Edition | Laki Tulen

  6. Reivrei
    December 7, 2014

    Mas exorio , calibration itu ‘lebih’ dipakai sebelum (akan bersosial ) atau sesudah (introspeksi sesudah bersosial ) ? Kalo boleh curcol , gue tipe orang yang sering kemakan dengan kondisi vibe yang lagi negatif .Dan dampak nya , itu gue bisa nyinggung orang , over-confidence , ngomong asal ceplas-ceplos , karena sebelum itu vibe bikin gue lupa dengan calibartion . Setelah kejadian itu baru muncul calibration dan penyesalan (biasa nya pas nyampe rumah) Need help !

    • exorio
      December 8, 2014

      Baca lagi soal analogi tuning gitar diatas.

  7. Pingback: “Keren” | Laki Tulen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: