Laki Tulen

Reclaim Your Manhood Today!

The Wolf of Wall Street

Kemarin waktu ngunjungin anak-anak Kaskus Lair di Bandung, gue menyempatkan diri nonton The Wolf of Wall Street yang dibintangi sama Leonardo DiCaprio. Sebenernya gue udah cukup lama nunggu-nunggu ini film, karena gue sempet baca bukunya walo belon sampe selesai. Di IMDB film ini dapet score 8.5.

wolfwallstreetposter

Filmnya sendiri keren banget. Yang luar biasa, film ini bener-bener macu adrenaline, walopun menceritakan kisah tentang broker/pialang saham yang merangkak dari bawah, Jordan Belfort. Harap hati-hati kalo baca artikel ini, karena ada kemungkinan spoiler bagi yang belum nonton.

Singkatnya kalo gue bilang sih : HIGHLY RECOMMENDED. Apalagi kisah ini diangkat dari KISAH NYATA… bukunya sendiri berupa memoir, yang mengangkat kisah perjalanan Jordan Belfort dari awal dia masuk Wall Street sampai jadi kaya raya punya mobil Lamborghini dan kapal pesiar.

Beberapa point positif yang bisa diambil dari film ini kalo menurut gue sih, semua harus berdasarkan kerja keras. Bagusnya Jordan Belfort, dia ga mentingin ego, tau apa yang dia mau. Ketika company sahamnya yang di Wall Street gulung tikar, dia mulai dari bawah lagi, di sebuah perusahaan broker kelas teri.

See, permasalahan sebagian besar orang dalam berkarir adalah maunya langsung cepet naik level/pangkat, tapi usaha/kerja keras ga ada. Ogah mulai dari dasar lagi apalagi kalo udah punya gelar dan pengalaman setumpuk. Dan ini masalahnya cuma satu : ego.

Yang kedua, always appreciate the people around you. Berikan penghargaan yang layak buat orang-orang disekitar elo. Walaupun praktek bisnis company milik Jordan Belfort itu miring, tapi tetap orang yang bekerja sebagai karyawannya tetap mencintainya apa adanya.

Yang ketiga, lagi-lagi masalah congruence. Ini jeleknya Jordan Belfort kalo menurut gue. Kalo yang dikejer duit doang, tanpa mengutamakan integritas dan reputasi, naiknya mungkin cepet, tapi belakangan runtuhnya juga cepet. Dan seiring waktu malah mengoleksi musuh dari berbagai pihak termasuk dari FBI sendiri. Sampe sekarang Jordan Belfort masih terbelit hutang, bisa lo baca di wikipedia.

Company culture yang dikembangkan di Stratton Oakmont (perusahaan milik Jordan Belfort) bener-bener high pressure, dan gila-gilaan tanpa batas. At least itu yang diumbar dari filmnya. Yang luar biasa, orang yang loyal kepadanya meskipun praktek penipuan client dan praktek-praktek miring lainnya. Gue kurang paham permainan saham, dan bukunya masih belum habis gue baca, tapi yang jelas dari filmnya dan tuntutan yang dikenakan kepada Jordan Belfort adalah kasus penipuan.

Uang yang cepet masuk, cepet juga keluarnya. Pada akhirnya, walau hidupnya dipenuhi dengan kemewahan dan menikahi seorang model, tradeoffnya bener-bener miris. Kecanduan narkoba dan gaya hidup serba hedonis yang kelewatan. Semua itu ga akan gampang dilepasnya. Ditambah menjadi incaran agen FBI, apakah hidupnya bisa tenang? Pada akhirnya dia harus menikam semua orang-orang dekatnya dari belakang khusus untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

So, mirip juga kayak kasus statusisasinya Vicky Prasetyo. Naiknya cepet, tapi jatuhnya lebih telak. Ini kalo elo jadi pemuja status dan kemewahan hidup. Sekarang apa kabar yang bersangkutan?

Penipu dimana-mana akan mengalami internal konflik. Contohnya di case #1 yang gue paparkan di artikel “Congruence” gue. Mana ada penipu yang bakal mau ketemu atau bersilaturahmi sama elo kalo dia ketemu lagi sama elo? Contohnya ya kasus telpon dari penipu yang gue dapet. Setelah SMS terakhir, mana ada dia bales lagi atau telpon lagi. Yang ada mungkin sekarang dia nyari korban lain sambil menyiksa jiwanya sendiri.

See, nurani itu masalah insting juga. Coba dilihat di artikel wikipedia ini. Dimana simpanse pun dapat menilai siapa yang membantu mereka, dan siapa yang menyakiti mereka. Bahkan gue memelihara anjing semenjak kecil, gue dapat melihat rasa bersalah dari anjing-anjing ketika mereka melakukan kesalahan. Apabila perasaan bersalah itu tidak muncul sama sekali dalam diri seseorang, berarti orang tersebut tidak berfungsi dengan baik.

Seringkali juga kita saking merasa bersalahnya, kita cenderung merasa rendah diri. Jadi lagi-lagi, keywordnya adalah BALANCE.

Secara pribadi, gue menilai Jordan Belfort adalah seorang individu yang luar biasa. Tapi di sisi lain, kerugian yang dibuat olehnya terhadap orang-orang sekitar adalah tanggung jawabnya sendiri. Cuma sayang, kasus fraud/penipuan yang telah dilakukannya tidak berujung. But itu bukan urusan gue rasanya.

Kalo gue berkata sejujurnya, gue ga tau apakah gue tetap memegang teguh integritas gue sedemikian tingginya. Mungkin gue bisa jadi berubah, apabila hidup gue sudah dilimpahi harta, tahta dan wanita kayak Jordan Belfort. Karena gue juga manusia. Who knows. So far, gue cukup memegang teguh prinsip gue… so I guess it’s a good news huh?

3 comments on “The Wolf of Wall Street

  1. Pingback: The Amazing Spider-Man 2 | Laki Tulen

  2. Pingback: Film-film Wajib Tonton Buat Para Cowok | cotulen.com

  3. Pingback: Sim Lim Saga dan Janji-janji Sorga | cotulen.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 7, 2014 by in Review Buku, Tokoh and tagged , , , , , , , , , .
%d bloggers like this: