Laki Tulen

Reclaim Your Manhood Today!

Stripper Game

stripper

Bermula dari FR yang ini :

https://lakitulen.wordpress.com/2013/06/27/fr-makeout-sama-stripper-mancanegara/

Plus dari serial The Pickup Artist yang sempet on-air di VH1 dimana misinya yang belakangan itu makeout sama stripper. Sebenernya gue nonton VH1 duluan, dan pas kejadian makeout sama stripper itu gue benernya ga expect apa-apa dan ga gitu nyangka bisa kejadian. So setelah beberapa lama di Jakarta, mulai keliling-keliling night club, dan ternyata beberapa nyuguhin stripper (penari bugil).

Susahnya, mindset night game = harus punya modal gede itu susah banget didobraknya. Rekor tertinggi temen gue ada yang sampe 10 juta sehari, dia cerita itu pas dia ke strip club, habis paling banyak di LD (Ladies’ Drink). But sekarang lagi-lagi, tujuan elo ke club-club tersebut buat apa, itu yang lu harus tanyain dulu ke dirilo. Kenyataannya seringkali gue kalo night game cuma modal cover charge aja.

Pertanyaannya sekarang : ngapain ngepickup stripper? Well, so far gue punya beberapa jawaban dalam diri gue, dan sebagian besar emang gue akuin masih berupa asumsi :

  1. Profesi stripper itu kadang kala mirip terjadi sama para PSK, dalam arti mereka mengambil profesi tersebut bukan karena pilihan. Tapi salah satu pengakuan dari stripper yang sempet diangkat chivaz di group chat : “daripada jual diri”… dalam arti mereka lebih milih menari, daripada menjajakan tubuh mereka. But still, pandangan masyarakat soal profesi ini sedemikian negatifnya.
    kidsdrawing
  2. Kadangkala stripper juga ada yang sangat enjoy sama profesi mereka. Dan bayaran memang gede. Salah seorang stripper kenalan gue bisa beli Galaxy S4 sekaligus Blackberry Q10 dalam kurun waktu kurang dari sebulan. Chivaz juga sempat bilang di group chat, rata-rata penghasilan mereka Rp. 500.000 per HARI. Which is, less than a full day work hour; mungkin dibawah 5 jam setiap manggung dan ada breaknya selang-seling antar grup yang manggung.
  3. Stripper itu sudah pasti berwajah cantik, minimal enak diliat. Badan stripper itu udah pasti bagus semua, kalo lu bilang elu cuma tertarik sama “inner beauty”, ya silakan liat foto-foto rontgen. Salah satu syarat untuk bisa jadi stripper ga boleh gemuk. Harus bertubuh langsing.
    smallbowelseries
  4. Kalo belon kenal ya maka tak sayang, ga usah main ngejudge yang engga-engga sebelum saling mengenal. Baca lagi soal Binary Rating System.
  5. Kalo seandainya dia bisa stop dari profesinya yang agak “miring”, what you have is a perfectly healthy, open, confident woman who is very comfortable in her own skin and sexuality. Which equals = GREAT SEX. However, “miring” ato engganya profesi seorang stripper bukan elo atau gue yang berhak menilai kayaknya. Toh strip club selalu rame tiap weekend, so ga usah munafik lah. Orang yang ngaku-ngaku alim ternyata juga rajin jajan ke lokalisasi. Masalah dosa ato engganya biarlah Tuhan yang menentukan.
    aWZGw03_700b
  6. Even elo ga dapet date ato semacemnya, tapi lagi-lagi apa salahnya temenan sama mereka? Mereka bisa kasih info berbagai macam hal, tapi khususnya info seputar nightlife. Kadang mereka juga kerja di tempat lain, yang kemungkinan besar juga night club… jadi kemungkinan bisa dapet free entrance atau diskon di tempat lain tempat dia kerja itu.
  7. Beberapa stripper ada yang mencoba insaf dengan mencari pekerjaan sampingan, berharap bisa banting setir. So, mereka juga masih punya nurani dan conciense, bukan cuma ngejer duit doang. Seringkali pas di panggung, mereka masih suka nutupin bagian-bagian pribadi mereka. Dalam arti mereka juga masih punya rasa malu. Seperti layaknya elo dan gue.

Konsep Strip Club di Barat

Pertama-tama, kalo lu dengerin kata “strip club” pasti kebayang kayak yang ada di film-film Hollywood. Contohnya :

Di Barat, banyak pelatihan stripper (at least yang gue temuin di youtube) dan ini jadi bisnis yang lumayan kompetitif. Bahkan ada acara adu bakat seperti Indonesian Idol ato sejenisnya. Simply, profesi stripper juga cukup diappreciate disana.

Dan inovasi tariannya engga main-main. Contohnya gue suka banget tarian yang ini :

Keren abis. Coba lu liat sendiri settingnya itu seperti sebuah classroom, atau tempat gym. Jadi kemungkinan besar ya memang ada pelatihan profesional untuk para stripper.

So, boleh dibilang profesi stripper itu bukan profesi yang main-main disana. Of course, gue ga pernah ngalamin secara langsung strip club scene di barat, cuma dari youtube dan film-film Hollywood, so take those with a grain of salt.

Strip Club Scene di Indonesia

Kalo yang di indo, biasanya mereka nari dengan koreografi yang udah ditentukan, ada yang enjoy narinya, ada yang kayak robot, dengan muka datar dan selalu menghindari eye contact. Beda banget sama yang kayak di film-film. Ada kalanya elo ketemu stripper yang ngedancenya enjoy sekali, dalam arti mereka memang menikmati tarian mereka dan semua perhatian yang ngarah ke mereka. Tapi sebagian besar kayaknya mereka melakukannya karena itu memang kewajibannya mereka.

Perlu diingat, club stripper itu rata-rata masih ilegal, cuma biasanya pemilik club adalah orang yang powerful, sehingga bisa aja skip masalah birokrasi dan hukum. So biasanya strip club di indo dilakukan secara tersembunyi dan tertutup. Dan jangan sekali-sekali coba moto mereka. Respect sama staf-staf yang disitu juga. Kalo sekali ada foto yang keluar dari club tersebut, imbasnya bisa kena ke orang banyak, termasuk si penari, termasuk si bouncer, termasuk para waiter dan waitresses. So… jangan egois.

Biasanya mereka disediakan oleh sebuah agency, dan agency ini yang menyalurkan para penari tersebut ke club-club. So, seringkali satu club itu udah bekerja sama dengan sebuah agency, jadi biasanya penarinya jarang ganti orang. Which is kalo elo udah nemu target, berarti tinggal nentuin aja frekuensi elo ke club tersebut kalo mo ketemu dia lagi.

Even yang termasuk high class sekalipun, mereka narinya ga luwes, walo kadang ada beberapa stripper yang improv tarian mereka, atau kalau ada yang best friend banget, mereka biasanya tandem nari erotis berdua di panggung. So, pola pikir yang perlu elo pasang disini mirip seperti ke waitress. Kata kunci pertama : EMPATI. Kata kunci kedua : BERBEDA.

EMPATI dalam arti, coba elo bayangin kalo di posisi mereka, elo di panggung telanjang, sedangkan semua pengunjung om-om (kadang malah ada kakek-kakek) matanya mengarah ke selangkangan atau ke dada elo. Kalopun ada yang ngajak elo ngobrol, pasti ngarahnya ke sex atau hal-hal yang mesum. Lakuin ini berulang kali SETIAP HARI. Gimana rasanya?

BERBEDA dalam arti, jangan sampai elo menyatu dengan pengunjung lainnya. Lakukan hal yang terbalik dari para pengunjung umum, yaitu dibandingkan melihat mereka sebagai pemuas dan hiburan sex, elo melihat mereka sebagai MANUSIA, yang sama, equal dengan diri elo.

Coba masuki satu club beberapa kali, tapi jangan buat nonton strip clubnya, coba perhatikan tingkah para pengunjung di strip club tersebut. Kalau yang gue tebak sih, sebagian besar pengunjung sudah berkeluarga, hanya saja mereka haus dengan rasa mendominasi wanita dalam lingkup sexual. Rekor yang gue lihat 20 sloki LD, yang mana di tempat tersebut 1 sloki LD harganya Rp.50.000 – Rp.100.000. Jadi minimal beliau mengeluarkan 1 juta rupiah cuma untuk mendapatkan lap dance dan ilusi memiliki “sex slave” dalam hitungan waktu kurang dari 1 jam, memeras payudara sang dancer dan saling peluk-pelukan.

Get the idea?

Nah, sekarang bayangin lagi posisi elo sebagai dancer, tapi kali ini ada pengunjung yang ga terlalu nafsuan,  secure, dan ga terlalu pusingin masalah mendominasi orang lain atau engga. Dan dia secara GENUINE ingin berinteraksi dengan elo sebagai manusia yang normal dan sehat secara fisik dan mental. Setelah ratusan pengunjung hidung belang, orang tersebut muncul. Seperti apa rasanya?

Kalo konsep ini bisa lu pegang, pengunjung lainnya bukan masalah, dan ga usah lagi elo anggap sebagai kompetisi elo. Apa yang bakal gue paparkan berikutnya ga terlalu penting karena selanjutnya gue lebih ngebahas ke outer gamenya.

Mindset Sebagian Besar Orang Terhadap Stripper

Khususnya dari temen hangout gue, dia biasa bilang “ah cewek situ nyari duit doang”. Well, yeah, ain’t we all do?

horse tied to chair
Mungkin ato engganya ngepickup stripper itu cuma elo sendiri yang bisa jawab. Kalo menurut elo ga mungkin, ya ga bakalan mungkin kejadian sama elo.

Inget aja sekali lagi, mereka juga manusia. Ada yang punya pacar, dan kadang kala juga ada yang berkeluarga. Kalo ga mungkin, pacarnya itu darimana? Ya memang mungkin dari social circlenya dia, but however, ini menandakan stripper itu juga sama manusianya kayak elo dan gue. Sifat-sifat cewek normal juga masih ada di dalam diri mereka.

Step-By-Step

Sebenernya sih breakdown step by step kayak gini menurut gue kurang bagus, karena menimbulkan pola pikir bahwa seduction itu sistematis (kayak Mystery Method), but cukup dijadikan guideline aja. Sesuaiin sama keadaan, situasi, target dan kepribadian elo. Jangan dijalankan kayak zombie. Inget, kita dealing sama manusia, bukan komputer. Jadi yang flexible aja. Tapi kalo gue baca-baca jurnal gue sih alurnya mirip-mirip satu sama lain. So, here it is :

  1. Tentukan venue yang mo lu kunjungi, datangi pada HARI BIASA, yang mana tempat tersebut sedang kosong-kosongnya, dan pengunjung sedikit (cuma beberapa orang). Bisa aja lu datengin venue yang ramai, tapi ketika venue ramai, para stripper sedang gencar-gencarnya cari komisi dari LD. So, give them a break… they have to earn a living too. Kalo pengunjung sepi, mereka ga gitu ngejer komisi, dan bisa fokus ke elo.
  2. Enjoy the place, enjoy the music, enjoy the moment. Ini ga bisa ditawar-tawar lagi deh. Kalo lu dateng ke satu tempat dan elo menggerutu atau keliatan bad mood banget, ga bakalan ada orang yang mo ngedeketin elo, baik night game maupun day game.
  3. Strip club di indonesia biasanya punya SOP standard. Satu grup nari di panggung, kemudian setelah selesai, grup lainnya naik, dan grup yang selesai menari turun mendekati pengunjung untuk menawarkan lap dance dengan upah dibelikan LD.
  4. Mindset yang perlu elo pasang adalah : stripper itu tetap CEWEK. Manusia, yang sama dengan elo, gue dan yang lainnya. Inget lagi soal Binary Rating System. Dikit banyak mereka pasti merindukan perasaan positif dan orang yang bener-bener menganggap dan menghormati mereka sebagai orang yang normal. Bukan sebagai diva atau tontonan mesum. Sama seperti cewek yang lain.
  5. Selama mereka nari di panggung, tahan EYE CONTACT sama mereka, jangan ngeliatin yang gondal gandul dibawah leher mereka atau jepitan dibawah. Susah emang hehehe… tapi anggep aja investasi.  Tahap ini menurut gue lumayan penting, satu dua stripper bakal terus ngehindarin eye contact sama elo. Terus cari eye contact dan petunjuk body language lainnya, misalnya senyum ato sejenisnya. Elo sendiri jangan lupa senyum. Begitu ketemu, coba berinteraksi dengan gesture dan body language juga ke dia selama dia masih di panggung. Dikit banyak dia bakal ngasih clue ke elo sekilas. Elo harus jeli nangkep sinyal-sinyalnya.
  6. Satu gimmick yang paling mujarab sampe sekarang bahkan ke stripper sekalipun, biasa gue tunjuk mereka, terus gue dorong pojokan bibir gue keatas. Mereka biasanya ketawa-ketawa. Atau kalo mereka punya lesung pipit, kasih gesture kalo lu suka liat lesung pipitnya dia (tunjuk dia, tunjuk pipi, terus pasang gesture sok imut)
  7. Para stripper sewaktu berkeliling sedang dalam “mode komersil”, dalam arti mereka khusus buat nyari duit. Biasa kalo rame dan elo coba berusaha ngajak mereka ngobrol, mereka ngeladenin dengan satu kalimat dan balik minta dibelikan LD lagi.
  8. Misi elo disini adalah men switch off mode komersil mereka dan mengeluarkan kepribadian mereka yang asli lagi. Dalam arti dia ngobrol sama elo bukan sebagai sales LD, tetapi sebagai individu lengkap dengan kebutuhannya sebagai manusia.
  9. Tahan dompet elo segimanapun dia merayu elo, bahkan meraba-raba bagian sensitif elo. Tetap tatap matanya dan berikan senyuman. Tunjukkin kalo rayuan dia ga mempan sama elo. Ratusan orang tiap hari dateng keluarin duit jutaan buat beliin dia LD dan income mereka bisa mencapai Rp.500,000 sehari. Kalo lu mengutamakan uang dalam ngaproach stripper… apa bedanya elo dengan pengunjung/cowok lain yang ada disitu? Kalo lu langsung tunduk sama sisi komersilnya dia, elo secara instan berubah jadi mesin ATM pribadinya dia. Kadang kala gue beliin si stripper LD tanpa berharap apa-apa. Ya, gini deh, dia udah memberi hiburan buat elo, cape-cape nari, sekali-sekali apa salahnya. Liat-liat situasi aja. But biasanya ga lebih dari segelas.
  10. NEVER take it personally, kalo si stripper jadi kesel sama elo, ngambek, ninggalin elo secara tiba-tiba ato sejenisnya… dalam arti jangan tersinggung, marah, sakit hati, keqi ato sejenisnya… perlu diinget lagi, mereka emang lagi cari penghasilan. Dikit banyak hal-hal tersebut bakal terjadi selama elo mencoba ngegaet stripper… inget aja ga ada cara paling mujarab dalam berinteraksi sama manusia lain. You simply can’t predict human.
  11. Kalo lu manage to keep her around longer than she should be… you’re halfway there. Coba juga mengarahkan dia ke hal-hal yang simple. Misalnya cara dia duduk ato sejenisnya. Kalo dia nurut sama elo, BINGO!
  12. Untuk pertama kalinya dia minta beli minuman, tantangin dia balik. “Kalo lu gue beliin minuman, lu mo kasih gue apa?”. Biasanya gue tantangin lebih lanjut “gini deh, gue suka bibir elo, gue mo tau elo jago ciuman ga”. Kalo dia ngotot minta dibeliin minuman duluan sebelum elo ciuman sama dia, lakuin reward-punishment ke dia. Seperti apa, reward-punishment ini, nanti gue bahas di topik selanjutnya. Reward-punishment ini berlaku kok ke semua cewek. Sekali waktu target gue ngomong begini “ntar kalo udah ciuman lo ga beliin gue minuman”. Balesan gue : “ya itu resiko yang perlu lu ambil, sekarang gue tanya, elo berani ngambil resiko buat gue ga?”. Ga lama setelah itu, dia nutup mata terus siapin wajahnya ke gue. Kita makeout berkali-kali disitu.
  13. Test yang dia lempar biasanya berupa test sexual. Misalnya pas gue bilang gue suka sama bibir elo, dia tanya “boong kalo lu suka sama bibir gue, emang bibir yang bawah lu ga suka?” gue jawab “kalo gue bilang ga suka ya berarti gue boong”. Bilang apa adanya aja.
  14. Gimmick kedua yang gue pakai untuk stripper : “elo sekarang ngomong sama gue sebagai penari atau sebagai xxx (nama dia)”. Setelah elo lontarkan kalimat ini, liat reaksi dia. Kalo dia mikir sebelum jawab : BINGO! Dan biasanya kalo dia mikir, jawabannya selalu “sebagai xxx doang”, atau juga seringkali dia bilang “kalo maunya elo?”. Kalo dia tanya seperti itu ya jawab aja “gue monya ngobrol sama xxx” (credit to Mystery)
  15. Seringkali mode komersil dia keluar lagi ditengah jalan. “Beliin minum dong”. Kalo ini keluar, biasanya gue timpalin “pilih, minuman atau gue”.
  16. Kalo udah dapet target, tolak semua stripper yang dateng ke elo. Tapi tetep sopan dan tetep anggep mereka sebagai manusia. Entah ini test atau bukan, tapi seringkali kalo gue udah dapet target, ada kalanya dia pamit ke WC atau ke kamar ganti untuk waktu yang lumayan lama, dan stripper lainnya berdatangan ke gue. Ajak ngobrol stripper yang datengin elo, tapi tetep bilang “gue nungguin xxx”. Tunggu sampe dia keluar lagi (biasanya benah-benah pakai baju).
  17. Pada saat ini dia mulai cerita-cerita tentang diri dia, dengerin dengan bener, kasih response yang genuine, kasih open ended question, kalo perlu main thumb wrestling sama dia, atau sekedar cuddling sama dia.
  18. Number close dan janjian untuk ketemuan lagi sama dia. Pamit ketika elo berasa interaksinya mulai memanas dan dia mulai condong (lean in) ke elo. Cue-cue lainnya ya misalnya dia nyender ke dada elo, tangan dia di dada elo, naro kepalanya ke bahu elo ato sejenisnya. Perlu diingat juga, seringkali sewaktu mereka kerja, mereka pake nama panggung, bukan nama asli.
  19. Do usual follow ups (text game) on her. And congratulations, you have a date with a stripper.

Conclusion dan aftermath

DC (damage cost) rata-rata so far dengan date yang gue dapat dari ngepickup seorang stripper : 1 gelas LD dan cover charge = Rp. 200.000

Hasil : kiss close (makeout), number close dan date sama yang bersangkutan. Itu aja yang bisa gue reveal.

Of course, itu bukan hasil dari “1 shot 1 kill”, ada beberapa attempt lain dan ada beberapa yang gue ga follow up atau malah crash n burn juga. Kiss close dapet beberapa kali di beberapa tempat yang berbeda, dengan pola yang MIRIP. However, ga segampang itu dapetin makeout sama stripper.

Sempet beberapa kali strippernya marah dan langsung ninggalin gue. Sedangkan waiter di samping gue ngeliat kejadian langsung terkesan ga enak hati dan bersikap hati-hati dalam ngeladenin gue. Karena mood gue langsung down dan mungkin expresi wajah gue juga ikutan jadi kesel.

Attitude yang paling gue sarankan ketika di strip club adalah : ENJOY. Enjoy the place, enjoy the moment, enjoy the music. TREAT EVERYONE as your equal.

Satu kejadian yang gue inget adalah ketika gue di satu club ada seorang cowok yang bener-bener nikmatin tempat dan musiknya dengan tulus. Narinya acak kadut, tapi engga berusaha keren-kerenan atau apa. Dia ngedance dengan lepas. Dalam arti dia genuinely enjoy the atmosphere. Hasilnya semua stripper ngumpul ke dia, dan kayaknya ga minta saweran atau dibeliin minum.

Dalam kasus lainnya however, gue liat sebagian besar pengunjung kalo disamperin stripper biasanya mereka pura-pura bego atau ogah melakukan eye contact sama sekali. Berlagak arogan dan kayak bersikap jaga image, tangan tetap disilang di dada, menarik tubuh menjauhi stripper, seolah-olah mereka itu orang yang terlalu berharga untuk berinteraksi sama stripper. Lah kalo gitu ngapain ke strip club?

Yang lebih parah lagi pernah beberapa kali gue liat cowok nunduk kebawah ketika si stripper nyamperin. Begitu si stripper balik ngedance lagi, dia kembali ngeliatin susu atau serabi lempit yang jumpalitan di panggung. Definitely not the attitude you want to adopt. Ini contoh orang yang ga pedean dan ga nyaman sama sexualitynya dia sendiri. Ngeliatnya sembunyi-sembunyi.

Salah satu FR gue bisa dibaca disini. N so far, yeah… they’re pretty normal human being for me.

3 comments on “Stripper Game

  1. Pingback: Alur Blog | Laki Tulen

  2. Pingback: 1 Year LakiTulen Blog | Laki Tulen

  3. Pingback: Pick Up Artist Indonesia | Laki Tulen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 7, 2014 by in Field Report, Opini, Outer Game and tagged , , , , , , , , , , , , .
%d bloggers like this: