Laki Tulen

Reclaim Your Manhood Today!

Body Language Basics

Part 1 : https://lakitulen.wordpress.com/2013/04/28/the-power-of-body-language
Part 2 : https://lakitulen.wordpress.com/2013/07/17/body-language-basics
Part 3 : https://lakitulen.wordpress.com/2014/08/18/vibe-body-language-part-3

Kayaknya post gue tentang body language selalu muncul di bagian Top Post, dan yang udah gue janjikan berkali-kali gue akan ngebahas Body Language secara mendalam. So, inilah dia artikel pertama yang spesifik soal body language.

Sebelumnya liat dulu gambar-gambar anjing di bawah ini :

1.
angry_dog

2.
FEAR

3.
23021_14864_playfuldog_51325

Tebak emosi apa yang sedang dirasakan anjing-anjing pada gambar-gambar tersebut, apa yang sedang dikomunikasikan oleh mereka. Simpan dulu jawaban elu di dalam pikiran elu. Atau tulislah di kertas.

Kayak yang gue udah bilang, para ilmuan itu banyak meneliti soal komunikasi antar manusia. Yang mengejutkan itu adalah bahwa komunikasi antar manusia lebih didominasi oleh non-verbal (tonality/nada bicara dan body language).

Semua orang terlahir dengan kemampuan membaca bahasa tubuh, karena itu adalah insting/naluri alami yang diberikan oleh alam. Wanita secara alami dan secara kodrat lebih peka terhadap bahasa tubuh, karena mereka bertugas untuk mengasuh anak-anak.

Sebab, kalau misalnya mereka membesarkan seorang bayi yang baru lahir, dan mereka tidak mampu membaca bahasa tubuh, bisa fatal akibatnya. Bayi yang baru lahir ya jelas engga bisa ngomong, dan mereka hanya bermodalkan bahasa tubuh dan tangisan untuk mengkomunikasikan apa yang mereka rasakan.

Sedangkan pria pada dasarnya harus melatih kemampuan ini karena secara naluri dan kodrat, pria diciptakan sebagai pemburu (hunters) dan tidak terlalu terasah seperti yang dimiliki wanita.

Inilah juga sebabnya, pria memiliki kemampuan navigasi yang lebih tinggi dari wanita, karena apabila di hutan ketika para pria berburu mereka tidak dapat menemukan jalan kembali, bisa berabe.

Pria memiliki sudut pandang yang lebih sempit dari wanita, karena wanita harus menjaga tempat tinggal dan para keturunannya. Sudut pandang yang lebih sempit lebih efektif dalam berburu, sedangkan  sudut pandang yang lebar lebih efektif dalam mengawasi area sekitar.

Ini sebabnya, pria sering ketauan kalo mereka ngelirik cewek lain atau kalau lagi ngobrol mata jelalatan ke susu lawan bicara. Bukan berarti cewek engga melakukan hal-hal tersebut, melainkan mereka lebih subtle atau benar-benar tidak kentara.

Perbedaan antara wanita dan pria ini gue dapat dari buku Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps

why_men_dont_listen_20130612121534

Serta buku Men are from Mars and Women are from Venus

Men-Mars-Women-Venus-Cover

Buku ini bagus, karena menceritakan tentang perbedaan cara wanita dan pria dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Kedua buku ini sepertinya udah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, so kalo lagi ke toko buku lokal, bisa elu cari kedua buku ini.

Hanya saja, kekurangan kedua buku ini, khususnya dalam hal relationship, keduanya masih mengacu kepada sistem masyarakat, dimana para wanita diberi value yang lebih tinggi.

Mereka ga mengacu kepada value system dalam dunia seduction, which is understandable, karena gue rasa penulis kedua buku ini bukanlah seducer. Nasihat-nasihat relationship yang dibeberkan di buku ini lebih bakal kepake kalo elu udah berada dalam hubungan yang stabil (menikah misalnya).

Anyway, balik ke body language, coba bayangin kata yang simple aja, yang pendek misalnya “KAMU!” dan bayangin foto-foto orang di bawah ini yang melontarkan kata-kata tersebut, satu per satu :

angry man (5)

Sad_Man

happy_man

Udah dibayangkan? Gimana menurut elo?

Gambaran yang mau gue sampaikan adalah, kata yang simple seperti “KAMU” yang secara verbal berarti menunjuk ke orang kedua/lawan bicara saat ini, memiliki 3 arti yang berbeda.

Gambar 1 : Kalo bagi gue, apabila orang yang diatas ini yang melontarkan kata tersebut, dia mengkomunikasikah bahwa dia sedang menyalahkan gue atau memarahi/mengomeli gue.

Gambar 2 : Sedangkan ini bagi gue, dia mengkomunikasikan rasa kecewa/frustrasinya terhadap gue.

Gambar 3 : Sedangkan orang ini sedang mengkomunikasikan pujian, dengan gesture jempol yang dikeluarkan ke atas.

Gue yakin, yang ngebaca artikel ini belum pernah belajar mengenai body language sama sekali, namun kurang lebih bisa menebak dengan yakin apa emosi yang diproyeksikan dari foto-foto tersebut.

Kenapa? Karena pengenalan body language itu lebih berada kepada level insting. Ini adalah berkah yang diberikan oleh alam kepada kita. “It was hardwired into our brains” kayak kata Mystery, dalam arti program ini sudah dipasang oleh alam, untuk kelangsungan hidup kita.

Terus kenapa body language sekarang perlu dipelajari lagi? Inget aja, kita hidup di masyarakat pemuja otak. Which means, kemampuan akademik dan analitik lebih banyak “disegani” dibandingkan kemampuan-kemampuan yang lebih bersifat insting atau naluri. Padahal, kemampuan pengenalan body language itu sangat penting, untuk karir maupun dalam kehidupan sosial.

Here’s the harsh reality : orang-orang yang menjadi businessman atau memiliki perusahaan, biasanya yang prestasi akademiknya sangat kurang. Mark Zuckerberg misalnya.

Dia memutuskan untuk berhenti dari Harvard, karena dia merasa Facebook bakal jadi the next big thing. Dalam arti, gut feeling dan intuisinya bekerja. Tapi tak cukup hanya dengan modal gut feeling aja tentunya. Setelah dia memfokuskan diri ke Facebook, dia bekerja lebih keras dari semua orang yang pernah elu kenal, bahkan mungkin dari para buruh panci atau buruh pabrik sweatshop.

He took the risk, and he DID IT. Elu-elu yang baca blog ini gue yakin pasti punya facebook, atau at least udah pernah denger tentang facebook. Dan sekarang Facebook jadi kambing hitam, selalu disalahkan sebagai penyebab utama produktivitas di kantor menurun.

Seringkali juga, orang-orang yang justru jenius malah disingkirkan karena mereka tidak mendapat prestasi akademik yang baik.  Contoh : Albert Einstein yang ternyata disekolahnya dianggap bodoh.

Anyway, udah agak melenceng dari body language. Sekarang gimana caranya memanfaatkan body language? Kayak yang gue udah bilang berkali-kali, seduction is about continuous effort to build your better self. Banyak taktik di luar sana, dari Mystery Method, Juggler, Gunwitch, Sleazy dst.

Tapi semua metode outer game itu, ga akan berarti kalo inner game elu, yang mana inner game itu lebih ke apa yang terjadi dalam diri elu (seperti rasa percaya diri, believe system, congruency dan sejenisnya) masih belum fix.

However, ketika elu membenahi body language elu, efek yang bakal terasa sangat luar biasa. Terutama karena feedback yang dulunya elu terima dari orang sekitar terkesan biasa, tapi sekarang menjadi terkesan positif atau bahkan luar biasa.

Contohnya, ketika gue udah membenahi body language dan coba-coba peacocking a’la Mystery, salah seorang cewek sengaja nyegat gue khusus buat muji rambut gue. What the F. It’s true, it happened, and it’s awkward.

Anyway, kita bahas soal game lagi sedikit. Kali ini kita bahas soal Sid Meier’s Pirate.

logo

Well, game ini bagus, dan gue lumayan suka. Intinya sih game ini mirip seperti game-game Sid Meier’s lainnya (Civilizations & Railroad Tycoon) yang lebih ke sandbox game, seperti Sim City. Ga ada ending dan elu bisa bermain selama yang elu mau. Dan lumayan addictive, karena elu bermain sebagai bajak laut. Dan terserah mau ngapain di dalam game ini, mau jadi mercenary, mau ngejer cewek, mau ngejer kekayaan atau malah jadi bajak laut tulen ngerampok semua kota dan kapal laut yang elu temuin.

Anyway, gue engga bakal bahas game ini sedalem artikel sebelumnya. Kalo elu tertarik, boleh aja cari gamenya. Walo graphicnya sekarang udah termasuk ketinggalan jaman. Cuma ada satu bagian dari game ini yang bagus banget, dan bisa dijadikan pelajaran : difficulty select screen.

Game ini punya 5 tingkat kesulitan; Apprentice, Journeyman, Adventurer, Rogue dan Swashbuckler. Apprentice itu tingkat kesulitan paling mudah, sampai ke Swashbuckler yang merupakan tingkat kesulitan paling tinggi. Nah, disampingnya ada gambar tokoh utamanya yang menunjukkan tingkat kesulitan tersebut. Tiap-tiap tingkat kesulitan dipresentasikan dengan body language karakter utamanya :

Apprentice (tingkat kesulitan paling mudah) :easiest

Journeyman  (tingkat kesulitan sedikit diatas Apprentice) :abithard

Adventurer (tingkat kesulitan medium) :medium

Rogue (tingkat kesulitan tinggi) :hard

Swashbuckler (tingkat kesulitan tertinggi) :hardest

Nah, semua gambar diatas menggunakan tokoh virtual yang sama. Penggambaran karakter yang ganteng dan bertubuh ideal, typical hero-hero dalam komik, film atau game.

Tapi ketika elu memperhatikan gambar tokoh ini pada tingkat kesulitan Apprentice, apa yang elu rasakan terhadap tokoh ini? Berlanjut ke Journeyman, apa yang lu rasakan? Perhatikan kata yang gue gunakan disini, “Apa yang elu RASAKAN“, bukan apa yang elu pikirkan.

Bisakah elu membeberkan perbedaan postur tokoh ini pada tiap tingkat kesulitan? Apa yang menyebabkan gambar tiap tingkat kesulitan TERASA berbeda, ketika elu melihatnya, padahal tokoh virtual yang digunakan sama.

Udah mulai menangkap idenya?

Itu teorinya. Gimana dengan prakteknya?

Sewaktu gue baru memulai hal ini, body language gue berantakan banget. Gue berjalan dengan kepala menunduk dan postur gue cenderung membungkuk. Ketika mentor gue mendatangi gue dan mengkritik postur gue tersebut alasan yang keluar dari gue “ini postur gue yang nyaman” atau “kalo ga ngeliat ke jalan di bawah ntar kesandung dong”

Kita selalu menolak perubahan, apalagi perubahan itu terkesan “menyerang” keadaan kita yang sekarang. Inilah yang bahaya. Akibatnya, postur yang gue miliki itu bertahan selama beberapa bulan sampai akhirnya gue tersadar sendiri ketika gue mulai membaca buku-buku mengenai Body Language.

Untuk ini gue sarankan buku-buku Allan Pease. Allan Pease mengeluarkan banyak buku dan bagi gue dia ini termasuk penulis yang oke. So buku-bukunya cukup worth it untuk dikoleksi.

1d4a0a88

Satu lagi buku yang cukup bagus, “I Can Read You Like a Book” oleh Gregory Hartley, yang merupakan mantan interogator professional yang bekerja di Angkatan Darat Amerika. Profesinya sebagai interogator menuntut dia agar memiliki kemampuan mendeteksi petunjuk-petunjuk yang sangat kecil dari bahasa tubuh subjek yang sedang diinterogasi.

10851883

Buku ini membosankan, karena terlalu teknikal dan banyak teori. Tapi pelajaran-pelajaran di dalemnya bener-bener keren. So, gue rekomen banget.

Nah diatas itu mengenai pengenalan body language. Tapi sekarang gimana dengan cara memperbaiki body language?

Rule of thumbnya : orang yang percaya diri selalu berpostur tegap, memandang lurus ke depan, berbicara dengan perlahan dan JELAS (tidak harus keras, tapi JELAS), tangan selalu bebas di bawah dan posisi kaki ketika berdiri selalu lebar.

Ada dua cara memperbaiki body language :

  1. inner to outer, yaitu elu memperbaiki inner game elu, rasa percaya diri elu, optimisme dan mood hati, maka semua itu akan terproyeksikan keluar di bahasa tubuh elu.
  2. outer to inner, yaitu elu memperbaiki body language elu terlebih dahulu, niscaya karena feedback positif dari sekitar elu, rasa percaya diri elu meningkat, mood membaik yang mana pada akhirnya akan mendongkrak hal-hal seperti optimisme diri elu.

Cara yang gue pakai adalah cara yang kedua. Pertama-tama ini latihan yang gue jalankan :

smile

Jangan ketawa dulu. Latihan ini sepertinya udah jadi standard latihan senyuman untuk para hospitality professional, seperti pramugari misalnya :

chopstick_smile_training_3 pretty_service_crew_in_china_learn_to_smile_properly_with-thumbnail

So, pulpen/sumpit/pensil, taruh di mulutlu secara melintang ke dalam, sampai ke gigi gerahamlu dan gigit kuat-kuat. Latihan ini gue lakukan setiap hari, secara terus menerus. Nontstop, bahkan ketika gue kerja dan ketika gue di rumah. Udah banyak pulpen menjadi korban latihan gue. Tapi satu keuntungan utamanya adalah, orang-orang di kantor yang suka minjem pulpen tanpa ijin jadi males asal comot pulpen gue karena udah terlumuri oleh ludah gue. lol.

Salah satu kritik yang bener-bener nancep ke gue, orang-orang sering bilang “Lu tuh badannya gede, tampanglu serem, jadi orang takut sama elu” haha. Yayaya. So gue mulai melatih senyuman, supaya mengurangi tampilan gue yang sangat intimidatif. However, terlalu banyak senyum bisa berarti approval seeking juga. So hati-hati dalam memberikan kadar senyuman.

Perlu diliat asal-usul senyuman itu darimana. Pada sepupu terdekat kita, simpanse dan primata-primata lainnya, senyuman itu bisa berarti beberapa hal :

  1. “Gue bukan ancaman bagilu”
  2. “Gue submissive ke elu”

Bisa dibaca sejarahnya dari wikipedia bahwa senyuman itu berasal dari expresi rasa takut. Khususnya dari para primata lainya.

Setelah evolusi yang berlangsung selama puluhan juta tahun, senyuman itu memiliki banyak fungsi, seperti sex appeal , expresi rasa bahagia dan juga terkadang bisa menandakan dominasi.

Pernah ga elu didatengin orang yang tersenyum tapi elu masih merasa risih dengan dia? Means, elu menangkap sinyal-sinyal yang dia sembunyikan dibalik senyumannya, mungkin dia memberikan senyuman palsu dan senyuman itu karena dia ada maunya. Ada udang dibalik batu, istilahnya.

So, berhati-hati dalam menggunakan senyuman. Body language juga perlu kalibrasi secara terus-menerus sampai elu mendapatkan kombinasi yang pas. Micro Calibrations istilahnya. Dan ini bukan sesuatu yang bisa dilakukan dalam sehari dua hari.

Untuk postur sendiri, ini latihan yang gue lakukan : gue menempelkan punggung gue ke tembok, sampai belakang kepala gue juga menyentuh tembok tersebut, dan mencoba mempertahankan postur tersebut. Ya, memang awalnya berasa culun dan aneh, tapi ketika elu sudah terbiasa dan nyaman dengan postur tersebut, lama-kelamaan ini akan menjadi postur elu yang “default” dan nyaman bagilu.

Lalu waktu itu banyak iklan di TV mengenai alat yang bisa digunakan untuk memperbaiki postur tubuh, seperti gambar-gambar dibawah ini :

posture_fix posture_fix2 posture-corrective-brace

Cuma, waktu itu gue berpikir, kok mirip sama tas ransel yah? So… inilah yang gue lakukan. Gue pakai tas ransel gue, dan tarik kedua tali bahunya sampai benar-benar menarik kedua bahu gue ke belakang. Dan gue berjalan setiap hari sejauh 15 kilometer dengan kondisi ransel yang sangat ketat itu.

Setelah terbiasa, secara ga sadar postur gue pun ternyata membaik.

However, ini cara yang ga gue sarankan, karena ini alternatif murah dari alat-alat yang diatas, dan so far sepengetahuan gue, baru gue aja yang nyobain cara tersebut.

Hati-hati, karena mungkin tulang bahu bisa tergeser dan postur elu malah jadi rusak. It works for me tho, so kalo mau coba, boleh, tapi resiko tanggung sendiri, karena tas ransel bukan didesain untuk memperbaiki postur, melainkan didesain untuk membawa barang. Duh?

Nah, lalu gimana dengan tonality? Ga banyak sih latian khusus yang gue lakukan. Cuma gue rutin berlatih storytelling sama temen-temen ngerokok gue. Jadi di kantor itu ada smoking area, dan kita selalu nongkrong di tempat yang sama. Awal-awal berasa malu-malu dan ragu-ragu kalo mau menyumbang cerita dan pendapat. Tapi lama-lama, seiring waktu gue jadi mendominasi percakapan.

Ada latihan yang disarankan oleh beberapa sumber, yaitu baca buku, kalo bisa buku cerita, bayangin elu mendongeng ke anak-anak, rekam suara elu. Terus playback ulang, dengarkan sendiri rekaman suara elu. Kalo elu sendiri engga ngerti elu ngoceh apa disitu, gimana dengan orang lain?

Hasilnya bisa lu liat dari gambar di page about :

sebelumsesudahWalaupun latihan bahasa tubuh ini hanya secuil dari latihan-latihan yang gue lakukan. Semua elemen disatukan sehingga gue merasa menjadi pribadi yang lebih baik dari diri gue yang sebelumnya.

Ini salah satu manfaat body language dan ini artikel originalnya di mASF

Ini pengembangan gue soal senyum yang gue post di mASF

Oke, sekarang balik lagi ke quiz awal. Gue sedari kecil, selalu memelihara anjing. Jadi kurang lebih gue bisa mendeteksi sinyal-sinyal yang paling subtle sekalipun dari anjing. Anyway ini jawabannya :

  1. marah/siap menyerang
  2. takut/terancam
  3. senang/mengajak bercanda

Gue yakin sebagian besar orang yang baca artikel ini mendapat jawaban yang benar. So… sekarang percaya kalo body language itu bekerja pada level insting dan bersifat cross-species?

Omong-omong tentang anjing, ada satu program yang bagus di National Geographic, yang berjudul Dog Whisperer. Entah masih ada atau engga, tapi lu bisa lirik youtube channelnya.

Cesar Millan yang menjadi host show tersebut, dan dia mengatasi masalah-masalah para pemilik anjing. Entah dari anjing yang sangat agresif atau yang mengalami masalah-masalah lainnya. Apa yang dia selalu sampaikan adalah : sifat negatif anjing itu selalu berasal dari majikannya. Dan solusi yang dia berikan selalu ditujukan ke pemiliknya, bukan kepada anjingnya. Termasuk di dalamnya adalah body language para majikannya.

Show ini wajib tonton, terutama bagi yang pengen memperbaiki non-verbal communicationnya.

Contoh FR gue yang 100% ngutamain non-verbal communication bisa lu liat disini :

https://lakitulen.wordpress.com/2013/07/02/berisik/

https://lakitulen.wordpress.com/2013/06/27/fr-makeout-sama-stripper-mancanegara/

9 comments on “Body Language Basics

  1. kriz
    August 1, 2013

    keren mas..ulasannya.
    sangat membantu.

    • exorio
      August 2, 2013

      Sep bro. Seneng gue kalo bermanfaat😉. Benahin body language ga ada ruginya, malah manfaatnya dashyat banget kok.

  2. Kristyo wahyudi
    August 6, 2013

    Terimah kasih Mas ilmu body laguage-nya..jarang-
    jarang saya menemui orang yang mau membagi ilmu pada orang lain se-blak blakan kayak gini..

  3. adminzed
    January 4, 2014

    Mantab bro, kebetulan lagi cari2 tentang info tentang body language.
    eh, ketemunya disini

  4. Pingback: Artikel Pertama Tahun 2014 | Laki Tulen

  5. Pingback: 2013 Recap | Laki Tulen

  6. Pingback: 1 Year LakiTulen Blog | Laki Tulen

  7. Pingback: FR : The Power of Body Language | cotulen.com

  8. Pingback: “Vibe” – Body Language Part 3 | cotulen.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: