Laki Tulen

Reclaim Your Manhood Today!

Way to the Mastery

Kita kali ini bakal bahas soal game nih. Masa bahas soal pickup terus? Gue dulunya (dan masih) gamer. So, kita bahas yuk soal game!

Pernah main yang namanya Counter-Strike? Kalo lu penggemar PC Game (instead of console games) gue jamin pasti pernah main, atau at least pernah denger soal game ini.

cs16

Game team based multiplayer first person shooter yang meledak dan tenar sampai sekarang, menjadi game official buat berbagai kejuaran game dan e-sport tingkat internasional yang bergengsi. Termasuk WCG (World Cyber Games).

Counter-strike direlease tahun 1999an sebagai mod dari game Half-Life. Popularitas mod ini terus meningkat sampai Valve pun melirik developernya dan kemudian memutuskan untuk membeli lisensinya dan merekrut para developernya.

Counter-strike versi terakhir saat tulisan ini gue buat, adalah versi Global Offensive. Tapi Counter-Strike original (1.6) dengan engine GoldSrc (Half Life 1) tetap menduduki ranking lebih tinggi daripada versi-versi terbarunya (Counter-Strike Source dan Counter Strike Global Offensive)

Counter-Strike-1-6-Screen-Shot-

Nah, gue inget banget waktu sekolah dulu temen-temen pada keranjingan main game ini di warnet/game center. Waktu itu ramenya minta ampun dan temen-temen gue ngebela-belain nginep di warnet tersebut khusus buat dapet giliran tanding nge-LAN.

Gue lumayan suka Counter-Strike, tapi kalau sampai segitunya, sorry aja. Kayak yang udah gue bilang di page about, gue ini adalah maniak game, tapi gue lebih cenderung memainkan segala macam game, dari genre FPS, RTS, Adventure, RPG, racing dst. Intinya semua game yang bagus gue mainkan, engga peduli tipe/genre game apa.

Setelah gue bekerja, di kantor gue boleh bermain game LAN dan temen-temen kerja gue kebetulan satu grup mereka ada yang se-gang. Mereka salah satu Counter-Strike junkie yang rajin ke game center. Counter-Strike masih populer saat itu dan sudah masuk hitungan bertahun-tahun setelah releasenya.

Sewaktu udah penat bekerja kita semua ngegame, dan alangkah sebelnya kalo main counter-strike sama mereka, karena gue ga dikasih nafas sekalipun. Sekali tembak mereka pasti langsung dapat headshot. Jadi tiap kali main CS di kantor gue selalu dibully habis-habisan, frag score gue 0, dan death gue puluhan.

Ketika Steam mulai naik daun dan di Indonesia mulai populer karena diskon-diskonnya yang terjangkau sama dompet orang Indonesia, gue pun mengoleksi game-game klasik milik Valve, yaitu Half Life 1 dan semua expansion packnya, termasuk juga Counter-Strike 1.6. Counter-Strike 1.6 saat ini sudah berumur 1 dekade lebih dan masih banyak dimainkan banyak gamer di dunia.

Okelah gue mencoba online match. Kejadian yang sama gue alami seperti ketika bermain LAN dengan temen-temen kantor gue. Main CS 1.6 online gue ga sempat bernafas sama sekali. 0 frags.

Ketika gue mulai menambahkan teman dari steam, beberapa memiliki jam terbang bermain Counter-Strike 1.6 sampai 10.000 jam lebih.  Itung-itungan dikit. 1 hari = 24 jam. 10.000 dibagi 24 = 417 hari. Bagi yang punya account Steam dari awal, inget aja tracking waktu bermain baru diimplementasikan belakangan (2009). Sedangkan 1.6 versi Steam itu direlease tahun 2000an. So, mungkin pemain counter-strike 1.6 punya jam terbang lebih dari 10.000 jam.

Untuk game Left 4 Dead aja, yang keluar jauh belakangan, ada beberapa orang yang udah sampai 3000an jam lebih.

Left4Dead2

So kalo main versus sama orang-orang ini, dijamin mati kutu. Karena mereka tau sela-sela tiap mapsnya, tau sela-sela senjatanya, tau tingkah laku umum para player secara general, dsb.

Kalo baca diskusi di forum Steam tentang Counter-Strike dijamin lu bakal jadi kambing congek, sebab bahasannya udah ttg recoil, berapa ms (milisecond) begini berapa ms begitu, tentang technical stuffs yang udah bener-bener dalem yang kalo player kayak gue yang just want to have fun with it ga bakal ngerasain perbedaannya sama sekali. Ketika Counter-Strike Source keluar, again, mereka komplen mengenai hal-hal yang sangat mendetail banget. Soal recoilnya lah, soal bullet spraynya, soal berapa ms loncatannya, dst.

Ini salah satu contoh profile Steam, yang menghabiskan waktu sampai hampir 34000 jam untuk Counter-Strike. Got your mind blown yet? 34000 dibagi 24 = 1416 hari.  1416 dibagi 365 = 3.8. Which means, kalo dia bermain non-stop, dia menghabiskan waktu hampir 4 tahun secara total. Itu dari tahun 2009an (dimana fitur hours played baru diimplementasikan ke Steam). Mungkin ga murni, kadang dia perlu makan atau ke toilet dan ditinggal. But still, total jam segitu bener-bener bikin gue takjub, apalagi kalo buat bermain game.

Gimana dengan game lainnya? StarCraft misalnya. Di StarCraft ada istilah namanya APM, lengkapnya lu bisa liat disini :

StarCraft ini populer banget di korea, dan mereka bisa menghabiskan waktu puluhan ribu jam kalo diitung dari StarCraft classic yang keluar di tahun ’90an.

Inget aja, main game dengan waktu yang “agak kelewatan” begini, udah banyak memakan korban. However, untuk mencapai APM yang tinggi di StarCraft atau 100% headshot tiap kali bermain Counter-Strike, mereka memang perlu menginvestasikan jam terbang yang sangat tinggi.

Gue sendiri untuk video game, orangnya gampang bosan, sehingga kayak yang gue bilang sebelumnya gue banyak memainkan genre game yang bermacam-macam. Tapi bayangin, orang yang skillnya udah “dewa” di StarCraft atau Counter-Strike, gue rasa mereka non-stop mainnya itu-itu terus.

Mereka pasti pernah ngerasain masa-masa jenuh dan bosan. Ngerasa frustrasi, ngerasa ga bakal berkembang di game favorit mereka, ngerasa percuma latian soalnya dibully melulu in-game. Tapi mereka keep going.

E-sports itu sendiri jangan dianggep remeh, di TV satelit (lupa channel apa), ada satu channel yang khusus meliput berbagai championship gaming di dunia, kayak layaknya ESPN atau Star Sports. Industri video game sendiri udah sekelas dengan industri film Hollywood. Which means, gaming has become a very serious business.

Oke, pointnya apa sih kok ngebahas game begini?

Intinya begini, bayangin elu di posisi mereka, puluhan ribu jam, yang artinya setahun lebih dari hiduplu, elu dedikasikan bermain game. Bayangkan seberapa “dewa”nya elu sekarang.

Nah, sekarang bayangin, kalo misalnya ribuan jam yang elu invest tersebut instead of elu investasikan ke game, elu mendedikasikan dirilu untuk bersosialisasi :

Seberapa dewanya skill elu dalam bersosialisasi beberapa tahun kemudian?

Frustrasi, rasa jenuh, dan cape itu sendiri gue sempat mengalami beberapa kali, dan sempat absen hingga hitungan bulanan. Which is what a waste.

Gue ga mengatakan bermain game itu jelek, like I said, gaming has become a very serious business lately. Hanya saja, gue memberikan gambaran, how good you are, depends solely on how willing you are to invest in it.

Bayangin juga, gimana dedikasi para olahragawan tulen, kayak atlit bulu tangkis atau atlit-atlit lainnya. Gue sendiri punya kawan, dia kerja di negeri seberang (Brunei Darussalam), jadi partner berlatih Sultan bermain bulu tangkis. Bisa ga lu bayangin, berapa jam yang dia invest untuk bermain bulutangkis/badminton?

Gue tanya ke dia, lu pernah jenuh ga? Pernah pastinya dia jawab.

Kalo di bidang olahraga yang sangat populer, bola misalnya. Berapa hari sekali pemain bola professional itu berlatih? Berapa banyak kegagalan yang mesti mereka telen sampe mereka jadi bintang dan jadi rock star di iklan-iklan (kayak David Beckham atau Messi)?

Intinya; buat mencapai level mastery, ya itulah konsekuensinya. Ga bisa kalo lu hanya iseng-iseng pengen tau, atau cuma sekedar coba-coba. You have to dedicate 1000% of yourself. Elu harus persist melewati masa-masa jenuh dan masa-masa yang penuh godaan, dan keep going with it.

Baca lagi soal cara mencapai tujuan Anda. Kalo elu melihat para natural player, ga mungkin lah mereka baru lahir terus langsung ngeflirt suster-suster hot yang ada di sekitar mereka. Which means, they are doing it secara terus-menerus. Kayak contoh di artikel itu, Jimi Hendrix. Dia jadi jago gitar bukan secara ajaib. But he keep doing it, sampai merasa bosan, jenuh, frustrasi kok main gitarnya ga keren-keren, tapi he keep doing it.

So… apakah benar, elu pantas mendapatkan yang terbaik? Cuma elu doang yang tau jawabannya.

9 comments on “Way to the Mastery

  1. Pingback: PUA Basics | Laki Tulen

  2. Pingback: Body Language Basics | Laki Tulen

  3. Pingback: Artikel Pertama Tahun 2014 | Laki Tulen

  4. Pingback: 1 Year LakiTulen Blog | Laki Tulen

  5. Pingback: All about Passion : Instant gratification VS Delayed gratification | cotulen.com

  6. Pingback: “Mesin Uang” | Laki Tulen

  7. Pingback: Needy VS Persistence | Laki Tulen

  8. rudyy
    July 18, 2016

    Kalo pake metode gotlek bisa ngga jadi master??

    • exorio
      July 20, 2016

      Coba tanya si motipator cintrong deh😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: