Laki Tulen

Reclaim Your Manhood Today!

Night Game VS Day Game

night and day

Si Bee message gue lewat Facebook, terus dia komplen beberapa hal ke gue.

Pertama, menu archive bulanannya lakitulen itu musingin kalo misalnya buka per bulan semua artikelnya keluar. Sayang, archive wordpress kayaknya belum bisa dibikin menu kayak blogspot.

Gue lebih suka wordpress karena lebih clean, dan dulu sempat pakai blogspot/blogger, ternyata google ngerusak layanan ngeblog itu dengan iklan dan verification code yang nyebelinnya amit-amit.

So, pilihan jatuh ke wordpress. At least untuk sementara, kalo gue nemuin alternatif yang lebih bagus, why not.

Yang kedua, dia nanya “kok lu prakteknya ga ada yang normal sih, malem melulu, kenapa ga ada yang siang?”

Salah besar. Gue praktek siang malem. Memang, frekuensi gue ngelakuin day game lebih sedikit, coz like I said, kerjaan gue waktu itu nuntut waktu banget.

Sempat beberapa lama weekend gue harus masuk untuk mengejar deadline, so karena siangnya masuk, gue hanya punya waktu malam hari. Setiap harinya aga sulit untuk keluar sore hari.

Plus, report gue yang lebih exciting itu banyak yang terjadi di malem. Karena gue lebih berani bereksperimen, khususnya dengan style gue sendiri. Siang-siang gue berasa garing aja reportnya. Ga banyak sexual tension atau sejenisnya. Cuma jadi ge-eran aja si target. FR-FR yang gue post di blog gue ini tentunya gue seleksi.

Satu report day game gue yang lumayan interesting, percakapannya ditranslate dari bahasa inggris :

Awal-awal gue coba pergi ke Singapore sendirian, buat poles bahasa Inggris dan pengen jalan sendiri aja, biar tau tempat-tempat yang engga biasanya disarankan sama sebagian besar orang (Orchard, Marina Bay, dst). Di tengah jalan gue sempat lost, karena gue berjalan tanpa arah.

Ada satu cewek cute sama temen cowoknya (di singapore pacaran dan PDA atau Public Display Affection itu biasa banget, so gue yakin seyakin-yakinnya cowok yang barengin dia itu cuma temennya). Gue tanya dia.

Gue : “Halo, gue mau tanya dikit nih, gue nyasar, dan gue baru kali ini ke singapore sendirian, bisa ga lu bantuin gue”

Dia : “Oh iya boleh”

Si cowoknya terdiam disitu sambil mengawasi gerak gerik gue secara awas banget.

Gue : “Lu tau arah ke MRT ga?

Dia : “Um, mungkin ke arah sana”

Gue : “Kalo misalnya bus?”

Dia : “Mungkin ke arah situ”

Gue : “MUNGKIN? MUNGKIN? Kok mungkin melulu? Kalo gue nyasar gimana? Lu tanggung jawab ya!”

Gue ngebentak tapi gue becandaan dan gue masih tersenyum.

Teknik ini gue dapet dari satu atasan gue yang attitudenya playful banget, doi orang Inggris (Brit) dan dia itu suka ngebentak-bentak cewek tapi para cewek ketawa-ketawa aja gitu, dan gue suka merhatiin gerak gerik dia. Dari dulu gue admire ini orang, karena dia ga bertingkah sebagai atasan, dan selalu becandaan. Dan cewek menclok terus sama dia. Secara ga sadar gue niru tingkahnya dia waktu itu.

Dan hasilnya : si cewek blushing, cekikikan. WOW.

Gue : “Hahaha gue suka ketawa lu, namalu siapa?”

Gue sodorin tangan dia, tapi dia masih nutupin mulutnya nandain dia masih malu-malu gitu. Dia raih tangan gue, dan berasa submissive (seperti biasa, gue tahan tangan gue megang tangan dia dan gue gerakin dikit)

Dia : “J”

Tetep blushing sambil cekikikan. Gue liat si cowok tampangnya sebel banget wakakakaka. So okelah, gue si penjajah, gue ga mau cari ribut, gue ajakin cowoknya kenalan juga. Gue sodorin tangan gue ke dia, eh dia malah bereaksi kayak ngambek gitu, ogah salaman sama gue. Hahahaha. Ya udah, gue fokusin lagi ke J

Gue : “Lu ngapain bengong disini? Lagi tebar pesona yah? Nyari cowok-cowok keren kayak gue kah?”

Dia : “Engga! Gue lagi nungguin kakak gue”

Gue  : “Oh gitu, anyway, gue ke Singapore jarang-jarang, bisa ga lu kasih tau gue tempat-tempat yang interesting yang ga biasa”

Dia kasih gue beberapa tempat yang lumayan keren, misalnya Geylang (which is ga reccomended kalo imanlu ga kuat), Clarke Quay, Chinatown, dll

Dan kita discuss soal tempat-tempat tersebut. Mostly tentang tempat makan favoritnya dia atau hiburan-hiburan yang bisa diexpect dari sana.

Si cowok yang disebelahnya mulai gelisah ngeliat response si J bagus ke gue. Tapi gue tetep cuek.

Gue : “gue mesti cabut, coz gue ada janji, Lu asik orangnya kapan-kapan mungkin gue mau ketemu lu lagi”

Dia ga jawab apa-apa melainkan blushing di tempat. So seperti biasa, gue keluarin HP, kasih dia. Dia masukin nomernya, si cowoknya pasti bete abis waktu itu. Hahaha, but gue ga peduli.

Gue : “Thanks buat directionnya J, doain supaya gue ga nyasar ya! Kalo besok di koran ada berita turis nyasar, blame is on you!”

Dia : ketawa

Day game lainnya bisa lu baca disini :

Masih banyak praktek day game di jurnal gue, dan semua itu bukan yang terakhir yang bakal gue lakuin.

Nah, sekarang gue mau membahas mitos yang beredar di kalangan orang umum tentang Night Game :

Night game itu cuma buat orang yang hedonis

club

Sorry aja, bagi gue ini pola pikir sempit. Kalo gue perhatiin, temen-temen gue kalo keluar buat “having fun” ga lain dan ga bukan makan di restoran, nonton bioskop, terus pulang. Rinse and repeat. Atau paling banter karaoke. Dan gue ga suka karaokean.

Gue udah mencoba menyukai karaokean, tapi it’s just not my thing. Dan semua kegiatan ini mengurung lu dalam lingkup sosial yang itu-itu aja, serta kegiatan yang itu-itu aja.

Unless lu karaokean di tempat yang settingnya kayak karaoke di food court chinese food, means elu maju ke panggung dan membiarkan spotlight mengarah ke elu di hadapan para tamu yang lain dan elu dapat kenalan orang-orang baru. Lah ini karaoke sejenis Happy Puppy atau family karaoke yang biasanya di satu ruangan tertutup dan hanya grup grup elu aja.

Sedangkan, night game/clubbing, itu memang ratusan orang berkumpul di satu tempat untuk BERSOSIALISASI. So, ratusan kaum hawa berjoget serta nunggu untuk didekati. However, jangan cuma memfokuskan night game untuk pickup aja, coba untuk memanfaatkan tempat itu, entah untuk memperluas koneksi atau untuk melepas stress dengan menyalurkan energi ke dance elu. Sapa juga para waiter & waitress, bartender, bouncer, intinya SEMUA orang di dalam.

Night game itu buang-buang duit

Uang_Tumpukan

Oh really? Ini juga pola pikir gue semasa gue masih jadi WBAFC (Way Below Average Frustrated Chump). Nih kenyataannya : tiap kali keluar seringkali gue cuma modal buat COVER CHARGE n well, transport kesananya. Tapi yang gue sering bilang, gue jadi frequenter satu tempat yang terkenal dan ga pasang cover charge. So jatuh-jatuhnya cuma modal transport aja. That’s all.

Sebab itu kalo gue ngajakin temen gue sedangkan mereka pakai alasan “ga punya duit” itu absurd banget. Apalagi yang sehari-harinya ngeluh kesepian dan bosen. Coz, it doesn’t actually cost you that much.

Tapi memang pemahaman teman-teman gue tentang clubbing sedemikian terdistorsinya, sehingga mereka bahkan perlu ngerogoh sampai jutaan tiap kali keluar. Ya jelas, mereka disana males bergerak, dan lebih milih opsi tergampang buat mendapatkan pengalaman ditemani sama wanita cantik.

Keluar duit atau engga kan itu pilihanlu, bener ga?

Night game itu maksiat

stripper

Ini lagi, biasanya cuma dilempar sama orang-orang yang sexually frustrated, yang cari validasi semu dengan bergabung sama ormas-ormas preman dan pengangguran yang mengatasnamakan agama supaya diri mereka merasa penting dan berasa otoritif , merasa memiliki status orang suci walopun sebenernya mereka cuma sampah masyarakat.

Anggota ormas-ormas ini kalo mereka punya kesibukan sendiri, punya bisnis atau sejenisnya, mereka ga bakalan wasting time berbuat anarkis kayak yang biasa mereka lakuin, bener ga?

Pada kenyataannya, banyak tempat yang bener-bener gila di daerah sekitar markas salah satu ormas itu. Tapi yang disasar biasanya warung nasi kecil-kecilan. Right.

Dan gue yakin seyakin-yakinnya, para anggota mereka itu cuma cari status fana buat mengesankan orang-orang terdekatnya. Atau malah biar dipandang lebih tinggi supaya gebetannya akhirnya ngelirik ke dia. Yang jelas orang-orang ini memang gila hormat.

Anyway, soal maksiat ato engga mah tergantung elunya sendiri. Keluar malem mau ngapain? Bersosialisasi atau berbuat maksiat?

Lagi-lagi, emang pola pikir tentang clubbing, dari para clubber yang engga paham tentang PUA dan seduction itu sangat bertolak belakang dengan apa yang ada di otak gue. Biasanya mereka lebih cenderung suka ke tempat seperti itu, bukan untuk bersosialisasi atau sejenisnya.

Night game itu identik dengan mabuk-mabukan dan ngobat

drugs

Sama kayak yang diatas. Tujuanlu apa dulu? Bersosialisasi atau madat? Ini aturan utama seduction community tentang alkohol : NEVER DRINK WHILE YOU’RE SARGING. Artinya, jangan pernah minum alkohol kalo lu mau pdkt.

Drugs? Apalagi! Tendensi belakangan, dari beberapa tokoh di forum seduction online mereka malah menyarankan resep untuk menghilangkan approach anxiety atau malah buat menekan kekurangan psikologis mereka. Ini jadi kontroversi di forum yang sering gue kunjungin (dulunya).

Sayangnya ini diusulkan oleh salah satu senior yang dulunya cukup respectable, Illuminatus (dulunya dia pakai nick Corvette di mASF). This is how fucked up the community today. The golden age of PUA has long gone.

Sorry aja. Gue ga setuju. Seduction bagi gue adalah pengembangan diri lebih lanjut. Kalo jatuh-jatuhnya jadi ketergantungan sama obat, then tujuan “pengembangan diri” malah jadi rusak. N that is why, gue udah ogah hangout di forum online lagi. mASF (moderated alt.seduction.fast) was the best, tapi masa itu udah berlalu.

Bagi gue pemecahan untuk approach anxiety cuma satu : expose yourself to your fear as frequent as you can. Terus hadapi ketakutan elu, sampai elu cuek dengan rasa takut tersebut. Ga ada cara lain. Lu boleh coba cara yang disarankan Illuminatus, tapi resiko tanggung sendiri.

Anyway, kenapa harus menghindari minum dan obat-obatan waktu pdkt? Banyak kenalan gue yang justru menyarankan sebaliknya. Herannya saran ini datang dari teman gue yang “player” natural :
“Kalo lu mau cari cewek di tempat clubbing, lu minum alkohol dulu biar pede”
“kalo lu berduaan di kamar dan lu berdua ngisep ganja, 99% it will happen”

marijuana

Wait… wait… wait. WAIIIT. Ini tandanya mereka ga ngerti KENAPA gue melakukan ini. Dulu waktu Mystery berjaya dan dia mengajarkan untuk ngelakuin sulap buat approach, gue ogah.

Coz ntar pada akhirnya tiap keluar lu harus bawa banyak peralatan sulap dan semua keribetan itu hanya supaya elu bisa kenalan sama cewek. Yang mana pada akhirnya bakal menimbulkan ketergantungan sama trik sulap, instead of believing in yourself.

Apalagi dengan drugs dan minuman, yang mana nantinya tiap kali elu keluar elu bakal MERASA membutuhkan minum dan ngobat hanya untuk pdkt ke cewek.

alcohol

Realitanya begini. Ya, gue pernah mabuk berat dan kata mentor gue, gue dapet 10 nomer telpon pas waktu gue masih newbie abis. TAPI gue lupa apa yang gue lakuin. Besokannya gue jadi orang yang culun lagi.

Seiring waktu gue beli minum supaya engga terlihat bodoh bengong di dalem dan supaya membaur sama kerumunan orang yang dateng kesitu, dan gue jaga kadar alkohol gue dimana gue udah merasakan pede, tapi gue masih 100% sadar.

Same thing happen, besokannya gue jadi orang yang culun lagi. Terlebih lagi gue waktu itu kepengen rutin praktek lapangan, satu gelas minuman bisa mencapai 200 ribu. Itung aja 4 weekend sebulan artinya gue harus menyiapkan Rp. 800.000 sebulan, itu minus cover charge.

So, satu hari gue decide, gue keluar tanpa modal apa-apa. Dan gue ga menyesal dengan mindset yang gue buat hari itu.

Percuma aja, kalo masalah elu dengan wanita beres, elu terjerat dengan masalah yang lebih serius, jadi alkoholik atau drug abuser. That is NOT the point.

Seperti yang gue bilang berkali-kali, di dunia ini ga ada yang instant. Mi instan aja elu perlu ngerebus air, nyiapin panci dan mangkok, dan nunggu mienya matang terlebih dahulu. Kopi instant, lu perlu seduh air panas dan diaduk dengan sendok.

Sekali lagi gue ingatkan, solusi-solusi diatas itu (obat dan alkohol) cuma sementara, dan mungkin malah bakal menjerumuskan elu ke masalah yang lain. So, choice is yours.

Cewek-cewek clubber itu cewek ga beres

angelina-jolie-definitely-seductive

Oh right. Akuntan, bartender, marketing, dsb, itu semua profesi ga beres. Dan lagi apakah orang yang melontarkan statemen ini adalah orang yang paling “beres” sedunia?

Salah seorang teman cewek di Facebook gue banyak mendapat ajakan ML atau sejenisnya, minta telpon dll. Dan kalo gue perhatiin profile-profile cowoknya sih, kayaknya mereka bukan tipe orang yang suka keluar malam.

Satu teman gue bahkan pernah komplen, pacarnya digodain lewat Facebook oleh salah seorang teman kita berdua, yang diluarnya sih rajin ke gereja, tingkahnya kayak anak baik-baik, dan generally bukan troublemaker.

Jadi beginilah contoh para pria yang harusnya kita jadiin role model. Ngirim message ga senonoh lewat Facebook dan menganggap para cewek yang punya profile Facebook itu bisa seenaknya diajak ML. Konsep dari masyarakat yang menurut gue cukup aneh, tapi itulah yang dianggap wajar oleh masyarakat. asal ga ketauan gapapa. LOL.

Engga taukah mereka, profile Facebook itu banyak yang palsu. Banyak juga yang kemungkinan besar dijalanin sama cowok. Dan lagipula banyak cewek yang berseliweran dimana-mana, kenapa milih pdkt di Facebook? Jawabannya cuma satu : sifat malas.

Dulu pernah terjadi kontroversi karena ucapan salah satu motivator tenar di Indonesia : cewek yang suka clubbing itu ga bisa dijadikan istri.

Lagi-lagi pemikiran sempit. Begini deh satu analogi, kalo bagi gue sendiri para pemimpin agama, biasanya yang paling bagus itu yang dulunya paling ga beres. Berawal dari preman, berawal dari penjahat.

Kemudian mereka tobat. Mereka udah melihat sisi gelap dari kehidupan duniawi, dan mereka juga bisa menjelaskan kenapa kita harus menghindari sisi gelap tersebut.

However… apa sih yang ga benar atau sisi gelap dari nongkrong malem-malem di tempat clubbing? Alkoholnya? Like I said, minum atau engga kan itu tergantung elu sendiri.

Besides, dunia udah berubah, jaman udah berganti. Some people just want to have fun at night. Apa salahnya? Kayak yang gue bilang : asumsi itu cuma buat orang bodoh.

FIND OUT. Jangan berasumsi.

Point is, selama gue ga merugikan orang lain, apa masalahnya? Kalopun memang gue merusak diri, itu diri gue yang gue rusak, bukan diri orang lain. But kenyataannya, engga. Dan asumsi-asumsi dari kalangan awam memang agak susah dihindari, so… gue sih udah cuek.

Kekurangan night game ada beberapa bagi gue :

Harus belajar menyukai tempat-tempat clubbing
Which is, ga ada yang bakal menyukai tempat clubbing secara natural. Ga ada bayi yang baru lahir langsung menyukai tempat clubbing. Lu HARUS belajar menyukainya. Tapi yang lebih utama lagi, belajar mengetahui KENAPA ELU pergi clubbing. Untuk mabuk-mabukan kah? Untuk gaya hidup hedonis kah? Untuk berbuat maksiat kah? Kalo engga, so  apa masalahnya?

Harus mempersiapkan waktu khusus buat clubbing
Keluar malam dan begadang sampai pagi. Ya memang ga baik untuk kesehatan. Tapi bagi gue night game is still the best. Why? Orang-orang memang sengaja datang ke satu tempat untuk bersosialisasi. Night game juga bagus untuk newbie karena setnya relatif banyak.

Kalo di Indonesia, kayak yang gue bilang sebelumnya, kebiasaan jalan kaki itu jarang sekali. Maka dari itu tempat “praktek” ga banyak variasinya, paling banter cuma mall. Beda dengan Singapore, dimana kebiasaan jalan kaki dan naik transportasi umum emang subur berkembang, karena transportasi umum mereka emang sangat nyaman.

Awal-awal gue di Jakarta, baru pertamanya nyobain busway. Ternyata cuma beberapa tahun doang waktu busnya baru, busway itu nyaman. Dan sekarang di busnya pun ada tempat khusus buat para penumpang wanita, yang gue rasa disebabkan karena pelecehan seksual itu marak terjadi di busway. Yayaya, jadi masih bisa kita simpulkan kalau orang yang suka clubbing dan keluar malam itu orang yang ga beres dan mesum.

Para kaum hawa mengharapkan untuk didekati di tempat club
Seorang temen cewek gue blak-blakan, dia bilang kalo dia pergi clubbing supaya ada cowok yang pdkt ke dia. Tebar pesona istilahnya.

So, elu harus stand out amongst the crowd banget. Kalo sejujurnya, hal ini ga sesulit yang elu kira. Cukup dengan modal muka badak dan tau cara ngendaliin approach anxiety, elu udah cukup stand out.

Kalo lu perhatiin di tempat clubbing, sebagian besar orang lebih suka stay di dalam grupnya sendiri, instead of beredar dan mencari kenalan baru. Apalagi yang duduk-duduk sambil nyeruput minuman dan sekali-sekali manggut-manggutin kepala.

Come on! They are not even a competition. Apalagi buat para orang yang udah belajar mengendalikan approach anxiety mereka.

Satu contoh buat gambaran, waktu gue keluar sama dua temen gue yang terkenal doyan clubbing. Kita duduk di satu meja panjang, dan di sebelah kita ada 2 cewek yang saling ngobrol. Mereka berdua ga ada yang make a move sama sekali.

So, gue brief mereka secara singkat, gue kenalan sama 2 cewek itu kemudian gue langsung akrab sama satu. Dua temen gue itu bengong dan tetep jaga image, pura-pura ga kenal. Gue kecewa habis, sedangkan cewek yang satunya udah mulai bete karena dicuekin.

Gue mulai kesel dan mulai gue kerasin mereka berdua “WOI ini satu udah gue handle, kenalan dong sama cewek yang satunya”

Entah mereka pura-pura ga denger atau apa, ternyata gue dicuekin dan mereka tetep duduk kayak patung.

Dan akhirnya cewe yang dicuekin itu mengeluh bosan sama cewek yang udah peluk-pelukan sama gue, mereka pun ga lama kemudian pamit dan pergi.

See, bahkan ketika target udah “disajikan” diatas nampan perak (served on a silver platter) bahkan yang ngaku doyan clubbing mereka ga bisa make a move sama sekali.

So… kalo elu bisa mengontrol approach anxiety elu, advantage yang lu punya bakal jauh melampaui para pretty boy yang cuma ngandelin tampang doang.

Keuntungan night game dalam skala yang lebih mikro

  1. Mudah masuk ke intimate space (dancefloor terutama)
  2. Mudah melakukan kino escalation
  3. Puluhan target yang terpusat di satu tempat, kalau bukan ratusan
  4. Gampang pindah target selanjutnya, kalau elu diblowoff oleh satu target, ngebantu recovery secara cepat
  5. Faster game, lebih sedikit berbasa basi, dan straight to the point. Dibandingkan dengan day game yang lebih slow dan lebih ngutamain “spik-spik”
  6. Non verbal > verbal, which is ngebantu banget buat orang-orang yang introvert seperti gue
  7. Body language lebih punya peranan penting disini. Seperti yang gue bahas sebelumnya, body language itu mendominasi komunikasi antar manusia. Semakin body language elu terlatih, semakin bagus feedback yang bakal elu dapatkan baik siang atau malam.

So, baiknya day game atau night game?
Dua-duanya kalo bisa. Night game gue lebih bertujuan untuk having fun dan terus bereksperimen.

Day game is the real thing. Namun mindset yang gue pakai untuk day game adalah gue pdkt ke seseorang bukan buat pdkt. Namun cukup menciptakan obrolan yang menyenangkan. Problemnya dengan day game bagi gue, itu gue ga bisa experimen terlalu jauh seperti layaknya yang gue lakukan di night game. Tapi yang jelas, di day game mindset gue bukan untuk pickup.

Lihat seseorang yang menarik buat elu? Datengin aja. Direct atau indirect? WHO CARES. Deketin dulu, hal-hal seperti itu dipikirin belakangan. Si target lepas? Cari lagi yang lain. Ini yang disebut dengan abundance mentality, yang nantinya bakal gue bahas juga.

Intinya sederhana aja. Taklukkan approach anxiety elu, and just do it anyway. Possibilitynya endless kalo elu udah berada pada tahap ini. Berlaku buat siang maupun malam. Inget aja ga ada approach yang sempurna. Jadi kalo mau approach, ya approach aja.

Nah, sekarang tujuan seduction/PUA itu apa dulu sih?

Bagi gue, cuma dua :

  1. mengembangkan diri. Gue udah berada pada level dimana gue puas dengan rasa percaya diri gue. Seduction itu bukan cuma berpengaruh terhadap skill interaksi gue dengan para wanita aja.
  2. I want to have awesome life. Gue ga mau menceritakan anak-anak gue kisah gimana gue ketemu dengan ibu mereka seperti ini “nak, gue ketemu nyokap lu orang di kantor, kita dikenalin” n… that’s it.

Khusus untuk nomer 2, gimana kalo “nak, gue ketemu nyokap lu secara ga terduga, waktu di jalan, gue lihat dia itu perfect banget. Gue pikir cuma itu aja kesempatan gue, kitapun berkenalan setelah kita semakin nyaman satu sama lain saat itu juga gue berciuman di tengah-tengah taman dan semua orang ngeliat kita, wah benar-benar berasa dunia ini milik kita berdua saat itu”

Well, it’ll probably turn out bullshit, but you get the idea.

Anyway :

born -> grow up -> get a job -> get married -> have kids -> get old -> die

rinse and repeat to your great great great greaaattt grandchildren.

WHY do you want to do that. Kenapa ga dibelokkan sedikit untuk experience life to its fullness, kenapa puas menjadi butiran pasir di pantai? I know I don’t.

Masalah jodoh tetap berada di tangan Tuhan gue rasa. Ga perlu ngotot, kalo dapet ya dapet, engga ya tetep move on. Jangan bertekuk lutut dan ngemis-ngemis cinta ke orang yang baru lu kenal. Hell, jangan pernah sekali-sekali bertekuk lutut dan ngemis-ngemis cinta ke orang YANG UDAH LU KENAL. Ibaratnya kayak bermain lotere.

Yeah sure, chancenya masih tetep soal luck, tapi analoginya begini : semakin sering lu membeli tiket lotere semakin elu punya chance dibandingkan sama yang ga beli sama sekali. But gue ga menyarankan berjudi BTW.

Omong kosongnya aja deh, mau dibawa kemana setelah elu menjadi master seducer, master pickup artist atau the new Don Juan? Menurut gue sih, mastery dari seduction itu adalah ketika elu udah ENGGA BERUSAHA melakukan seduction lagi, dan semua teknik atau pengalaman yang membentuk dirilu sudah terintegrasi secara alami dengan kepribadian elu.

SEDUCTION/Pickup Artistry is NOT just merely about sex. Kalo memang cuma menginginkan sex, gampang aja, ke lokalisasi sana. Ga pake ribet, ga pake lama. Seduction itu lebih kepada menjadikan diri kita pribadi yang lebih baik. It’s about taking control of your life. It’s about making blueprint of your own definition of “life”.

NO DRUGS, NO ALCOHOL, AMPLIFY YOUR BEST SELF.

Itulah inti seduction/pickup artistry.

Satu kasus teman gue sendiri, dia yang memperkenalkan gue sama buku David de Angelo Double your Dating. Orang ini udah desperate banget, dan dia termasuk rajin ngelakuin seduction, tapi most of the time dia lakuin ke client-client di kantor kita dulunya. Hal ini bakal gue bahas lebih spesifik nantinya.

Relationship demi relationship dia jalanin. Okelah. Dan akhirnya dia pacaran sama seorang model. Foto pacarnya dipajang di Facebook, seolah-olah dia memamerkan  pacarnya, yang emang gue akuin, hot banget. Ga bulat setahun, gue denger dia menikah.

Lama kemudian gue ga mendengar kabarnya dan kita ketemu di acara pernikahan temen kita berdua.

Gue : “So gimana kehidupan lu sebagai suami? Gue liat istrilu hot banget”
Dia : “Itu dulu men, sekarang abis merried sama gue dia jadi gendut”

Dan curhat panjang dia tentang istrinya pun mengalir lumayan lama. Oh for fuck sake. Ga nyangka orang ini pernah jadi atasan gue dulunya. Istri sendiri dicibir dibelakangnya kayak begini. Siapa yang decide untuk married?

Gue jadi percaya omongannya Aaron Sleazy, cewek hot kalo udah nemuin pasangan mereka jadi secure, dan merasa ga perlu menjaga badan lagi. Dan bukan satu kasus temen gue ini aja. Banyak kok tapi kasus-kasusnya memang disekitar gue.

Omongan Sleazy yang kedua, NEVER settle with the first one who willing to take you, artinya jangan menetap dengan orang pertama yang mau menerima elu. Tetap kembangkan pilihan dan lakukan perbandingan secara terus menerus.

YOU deserve the BEST

Dan segelintir dari dunia seduction ini cuma mengetest do you WANT the BEST?

4 comments on “Night Game VS Day Game

  1. Pingback: Artikel Pertama Tahun 2014 | Laki Tulen

  2. Pingback: Stripper Game | Laki Tulen

  3. Pingback: Alur Blog | Laki Tulen

  4. Pingback: Seduction = Salesmanship | Laki Tulen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 15, 2013 by in Field Report, Opini, Outer Game and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .
%d bloggers like this: