Laki Tulen

Reclaim Your Manhood Today!

Scapegoating

Apa itu “Scapegoating?”

Dari mASF archive saya.

Dari arti katanya, scapegoat itu artinya kambing hitam. Jadi kita mencari sasaran untuk disalahkan. Bisa jadi situasi, bisa jadi individu yang lain, bisa jadi objek atau keadaan.

Scapegoat

Dalam masyarakat kita, perilaku mencari kambing hitam itu sangat diterima, bahkan terkadang intstitusi hukum pun melakukannya. Seringkali apabila seseorang dipojokkan atau terpojokkan maka sifat aslinya akan keluar.

Di dunia kerja, hal ini sangat sering terjadi. Saling tuding, saling menyalahkan. Tidak ada yang berani menerima tanggung jawab. Ini berlaku di semua lingkungan kerja, khususnya dari pengalaman karir saya sendiri.

Dale Carnegie mengatakan kalau Anda sedang disalahkan karena sesuatu hal, janganlah bertindak defensif. Apabila Anda memang tidak bersalah, silakan membela diri.  Namun apabila Anda memang melakukan kesalahan, akui, dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi di kemudian hari.

Masyarakat umum seolah-olah sangat mengharamkan kesalahan juga kegagalan, itulah sebabnya mental mencari kambing hitam sangat subur berkembang di tiap individu manusia yang masih hidup sekarang ini.

Ya, memang, kesalahan yang fatal perlu ditindak tegas, seperti misalnya membunuh orang lain, atau korupsi.

Tetapi lihatlah kenyataannya : semenjak sekolah kita diajarkan untuk menghindari kesalahan dan kegagalan. Salah jawab ujian maka Anda akan tidak lulus! Salah jawab guru maka Anda akan disetrap! Salah tingkah di sekolah maka Anda bisa diskors! Sehingga orang tua pun (setidaknya generasi saya) sangat mengharamkan “kesalahan”.

Padahal, faktanya salah itu lumrah dan sangat manusiawi. Tanpa berbuat salah atau gagal kita tidak akan belajar. Lihatlah seorang bayi yang sedang belajar berjalan. Salah kan caranya dia berjalan? Mana sering jatuh lagi, gagal melulu. Tapi apakah itu berarti kita akan menghukumnya? Cuma orang tua yang sinting yang bakal menghukum anaknya yang masih bayi karena salah dan gagal dalam berjalan.

Lalu, kenapa kita melakukannya sekarang?

Semua proses kegagalan dan kesalahan itu diperlukan oleh sang bayi yang akhirnya berhasil berdiri dengan tegap walaupun langkahnya masih culun. Ketika itu terjadi kita kemudian berjalan setiap hari, setiap menit, setiap detik, sampai berjalan itu menjadi proses yang natural bagi kita. Seperti bernafas.

Ingat ketika Anda pertama kali belajar mengendarai sepeda? Cara Anda salah, terus masa Anda dihukum? Anda jatuh, Anda gagal, masa Anda disetrap? Udah lutut benjut, berdarah karena nyium aspal, eeeh terus diomelin sama orang tua. Saya yakin anak yang dibesarkan dengan cara gitu bakal sakit jiwa kalo udah gedenya.

Tapi kalo kasusnya seperti yang saya beberkan di “Embrace Conflicts”, orang tersebut udah kerjanya ga bener, merembet kemana-mana, ngelempar-lempar kerjaan. Eeeh masih nuding orang lain pula. Nah mental cengeng tukang scapegoating kek gini emang perlu dikerasin. Padahal udah gede, udah bisa pipis sendiri kok. Masa soal responsibility kerjaan masih perlu diingetin?

Tingkah scapegoating ini saya temui juga pada sebagian besar kenalan saya yang berminat dengan seduction. Mereka datang ke saya, minta diajarin. Waktu saya ajak keluar “tuh deketin itu cewek”.

Tapi bukannya maju, mereka malah jadi “kreatif”… 1001 alasan keluar dari menyalahkan si target, menyalahkan situasi sampai menyalahkan saya.

Herannya, ini terjadi di hampir semua orang yang datang ke saya. Yang paling bikin berkesan sih, alasannya MIRIP banget walaupun orang yang dateng beda-beda, dan dari lingkungan yang beda pula :

  • Gak mood
  • Belum “panas”
  • Ceweknya kurang hot
  • Situasinya ga mendukung

Gimana ga jengkel? Mereka yang minta bantuan, mereka yang emoh maju terus saya yang disalahin? Wadefak? Mending kalo dibayar, saya udah iklas gratis mo ngajarin, eh masih disalahin?

Dijamin deh, kalau Anda nantinya rajin seduction dan dapet wingman newbie, alasan yang sama persis bakal keluar dari mulut mereka. So that’s why, kalo Anda memang mau serius, ga usah ngajak-ngajak orang lain. Mereka ga bakalan ngerti. Mo cobain sih silakan aja.

Mereka memilih untuk scapegoating, masalah mereka engga terselesaikan, padahal masalahnya tuh simple aja : approach anxiety. Dan ini bisa makan waktu tahunan sampe mereka sadar bener-bener. Saya waktu udah lancar night game, saya cuma perlu satu hari untuk ngehilangin approach anxiety saya di day game. Ini juga kebiasaan sebagian besar cowok modern : masalah simple dibikin berbelit-belit, terkesan ruwet.

Nah itu yang saya maksud dengan “Scapegoating”

Jadi bisa liat sendiri kan… seduction itu bukan cuma masalah selangkangan doang. Banyak aspek kehidupan yang bakal ikut terlatih disini.

Anyway back to topic, ingat apa kata Edison “saya tidak gagal, saya hanya menemukan 1000 cara yang tidak bekerja”

EMBRACE mistakes. EMBRACE failures.

Kita semua intinya bukan orang yang berbeda ketika kita masih bocah dahulu. Hanya saja ketika kita beranjak dewasa kita belajar bertingkah di hadapan masyarakat.

Bacalah kembali “Cara Mencapai Tujuan Anda”

Namun hal itu semua bisa dicapai juga apabila Anda rela mengintrospeksi diri Anda sendiri, dan tidak mengingkari apabila Anda berbuat salah.

Memang apabila Anda baru memulainya, awalnya cukup sulit, tetapi percayalah ini adalah investasi terbesar yang akan memberi Anda hadiah yang tidak ada duanya. Buang mentalitas scapegoating sekarang.

Scapegoating itu bukan cuma ngerusak diri Anda; bisa bikin ketagihan apalagi kalo Anda sukses melakukannya dan lolos dari omelan, tapi juga masalah yang dihadapi engga terselesaikan! Yang pada akhirnya mungkin akan terus berlanjut dan berlarut-larut apabila dibiarkan. Domino effectnya ya orang lain di sekitar Anda juga yang kena.

Diomelin paling bentar. Dihukum asal engga jadi kriminal kelas kakap ga bakal dikasih hukuman mati (Boro-boro hukuman mati. Di negeri ini Mr.Gayus aja bisa nonton tenis waktu dihukum). Kalo nuding orang lain malah resiko lebih besar atasan hilang simpati sama Anda.

Scapegoating itu cuma dilakuin sama orang yang bisanya mikir short term goal doang; terhindar dari hukuman/omelan. Pikirannya pendek, dangkal. So why scapegoating? Kalo emang salah, ya akuin aja. Salah itu manusiawi kok. Kecuali disengaja.

Kalau Anda ditertawakan karena gagal, bagus deh. Sekalian ngasah muka badak Anda toh. Apalagi kepuasan Anda akan berlipat ganda ketika Anda ternyata terbukti benar. Lihatlah mereka yang mentertawakan Anda dulunya.

Orang yang bener-bener ga pernah berbuat salah cuma ada dua kemungkinannya :

  1. Dia ga pernah bertindak
  2. Dia ini saingannya Tuhan

Bagi saya, scapegoating itu cuma mental pengecut. Kalo Anda kebiasaan scapegoating, good luck. Saya pengen lihat kondisi Anda 10 tahun mendatang.

3 comments on “Scapegoating

  1. Pingback: Punya Pasangan VS Punya Kehidupan | Laki Tulen

  2. Pingback: Alur Blog | Laki Tulen

  3. Pingback: Seduction = Salesmanship | Laki Tulen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 11, 2013 by in Inner Game, Opini and tagged , , , , , , , , .
%d bloggers like this: