Laki Tulen

Reclaim Your Manhood Today!

FRIENDZONE!!!

Jomblo dan di Friendzone?

Kedengerannya seperti sudah jatuh ditimpa tangga lagi! Bener ga? Engga bagi saya.

Saya baru-baru ini mengalaminya. Ya saya suka sama dia secara tulus, karena hal-hal yang dia miliki, orangnya memang cantik, tapi saya belajar melihat lebih dari itu. Ngobrol pun enak, sentuhan-sentuhan dan canda-candaan juga terus mengalir. Lalu saya tidak dapat menahan diri. Saya menginginkannya lebih dari sekedar teman. Lalu saya memberanikan diri mengatakannya kepada dia.

Engga disangka, setelah semua yang saya lewati saya masih ada sifat needy. Udah berkali-kali saya coba ajak dia keluar supaya dapet kesempatan 1 on 1 tatap muka langsung. Saya maunya bilang ke dia sambil menatap matanya.

Apa boleh buat, kesempatan engga pernah muncul, saya message dia lewat whatsapp. Susah bener rasanya.

Saya : “gue mo serius ama elu”
Dia : “apaan sih?”
Saya : “gue udah cape main-main dan gue pengen serius sama elu”
Dia :  “gue ga ngerti”
Saya : “fine, I’ll say it. Gue mau lu jadi cewek gue”

Saya sudah “berpetualang” dengan berbagai wanita, saya sudah melalui banyak penolakan, saya sudah melalui banyak sexual encounter, tapi semua itu berasa sulit sekali bahkan lewat whatsapp sekalipun. Saya dapat mencium wanita yang saya kenal dibawah satu jam pertemuan kami. Saya dapat menari dengan seorang wanita dan menimbulkan gairah seketika terhadap partner dance saya. Mungkinkah saya menemukan The One saya? Entahlah. Yang jelas saya menemukan bagian saya yang masih lemah dan perlu dipoles lagi.

Tapi ternyata jawabannya tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan

“elu tuh udah gue anggep kayak kakak gue sendiri… sorry yah tapi gue ga bisa, aduh maaf banget”

Dhuaaarrr. Seketika serasa awan menjadi gelap dan hujan deras mulai bercucuran diselingi dengan sambaran gledek yang menggelegar-gelegar.

Nampaknya saya bukan The Onenya dia. Ouch.

Dia : “maaf banget”
Saya : “kok lu minta maaf melulu”
Dia : “abis gue ga bisa”
Saya : “ya itu hak elo kali, ga usah minta maaf segala”

drama berlanjut beberapa saat.

Parahnya, dia ini co-worker saya, dan dia duduk di sebelah saya. Mampus engga?

Saya : “please senen nanti jangan dibahas ya biar ga awkward”
Dia : “ga usah awkwardlah”
Saya : “ya lu mungkin engga, tapi gue sekarang megang handphone gue aja gemeteran nih”
Dia : “:D:D:D”

Dst, dst.

Semua teori saya dan idealisme saya tentang wanita rusak semua saat itu. Saya balik menjadi orang yang culun dan needy kembali.

Tetapi saya yakin, karena dia memberikan semua tanda yang sangat jelas sekali. Dan beberapa tanda tersebut dia lakukan dibawah alam sadar dia (subconciously). Hal-hal seperti menaruh tangannya kepada saya, dan selalu berusaha meraih saya ketika dia berbicara, dan approval seeking seperti menceritakan bagaimana personality dia sesungguhnya yang sebenarnya sederhana dan tidak banyak menuntut.

Entahlah apa yang salah. Mungkin karena ada keraguan ketika saya memintanya, dan pada akibatnya saya mewujudkan yang disebut “self-fulfilling prophecy”… dimana kekhawatiran menjadi kenyataan karena saya membayangkan hal terburuk yang akan terjadi.

Namun dibalik semua itu untungnya kejadian ini terjadi pada hari Sabtu. Hari Minggu saya mencoba mengalihkan pikiran saya darinya, dan hari senin saya menyapa dan bercanda biasa dengannya. Saya hanya perlu satu hari untuk recover, dan cara saya untuk memperbaiki hal ini adalah dengan menganggap tidak ada masalah atau dengan tidak menganggap hal tersebut adalah hal yang sangat penting

Kami tetap berteman dan bercanda, saling menjaga, hanya saja saya tidak berharap apa-apa lagi dari dia.

Keuntungannya? Saya punya partner untuk cuddling, bercanda, saling bertukar pikiran. Tetapi saya juga tetap bebas untuk “hunting” dan melakukan sexual encounter dengan wanita-wanita lain kapan saja saya mau.

Saya tidak menginvestasikan banyak hal untuknya lagi, walaupun saat awal saya tidak banyak berinvestasi kepadanya juga, saya tetap kepada idealisme saya bahwa sebelum pihak wanita memberikan investasinya kepada saya, saya tidak akan memberikan investasi apa-apa kepadanya. Apalagi berfokus kepadanya.

Hanya saja, terkadang dia terkesan cemburu apabila saya menggodai wanita lain di depan dia. Ketika itu terjadi, saya anggap angin saja. Dia tidak punya hak apa-apa terhadap saya, apalagi melarang saya. Sorry saja. I’m not your property.

Memang, seberapa dalam saya mencoba mengerti wanita, ada bagian dari mereka yang masih merupakan misteri yang belum terpecahkan.

Weekend minggu depannya lagi saya sudah keluar kembali, menyusuri kota dan flirting ke setiap wanita yang saya temui. Petualangan saya berlanjut no matter what. So… hanya sekedar detour sesaat.

Saya bahkan tidak merasa cemburu lagi apabila melihat dia berjalan atau ngobrol bareng cowok lain.

Ibarat kalo ketampol perihnya sebentar doang.

Semua ini tidak akan bisa saya capai tanpa disiplin yang saya jalani.

Life’s too good to be wasted on being hurt.

Ketika ini terjadi kepada Anda ingatlah bahwa it’s all fair game. Memangnya Anda engga pernah ngefriendzone cewek?

Jujur saya melakukannya cukup sering, dan kepada wanita-wanita yang memang saya tidak merasakan ketertarikan sexual kepada mereka. Saya sendiri punya standard dan mungkin si dia punya standard sendiri yang mana saya tidak masuk dalam kategori standard tersebut. Ouch.

Sometimes letting go is the most beautiful thing you can gift to a person.

6 comments on “FRIENDZONE!!!

  1. _®Ëzå_
    May 11, 2013

    gw sependapat dengan lu bro, tapi santai aja, keep doing sexual encounter, eh apaan dah namanye, akakakakaak

    • exorio
      May 11, 2013

      Thanks bro! *brofist*

  2. Pingback: Punya Pasangan VS Punya Kehidupan | Laki Tulen

  3. Pingback: Gebet Cewek di Kantor | Laki Tulen

  4. Pingback: “Friendzone” revisited | Laki Tulen

  5. jon sharky
    January 12, 2016

    Saya pernah ngalamin persis plek kecuali di bagian recovery sy butuh waktu lumayan lama….baca artikel ini jelas krn sy blm melatih disiplin yang cukup. btw kecepatan recovery berbanding lurus dgn kekuatan disiplin ya bro?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 9, 2013 by in Inner Game, Opini and tagged , , , , , , .
%d bloggers like this: