Laki Tulen

Reclaim Your Manhood Today!

Storytelling

A : “Kemarin lu kemana?”
B : “Ke pantai”
A : “Sama siapa aja?”
B : “Sama temen”
A : “Disana ngapain?”
B : “Berenang”

Percakapan yang sangat “garing” bukan? Tapi ini sangat sering terjadi. Kalau dilihat, ini salah siapa? Apakah si A nya yang terlalu kepoh, atau si B nya yang terlalu dingin?

Dua-duanya punya andil dalam percakapan yang tidak akan berujung keman-mana ini.

Si A melontarkan pertanyaan yang “close ended” yang dalam arti hanya perlu dijawab dengan singkat, tanpa memancing percakapan yang lebih jauh.

Si B tidak banyak berusaha memberikan kontribusi kepada percakapan ketika dia memegang giliran untuk percakapan tersebut.

Lalu bagaimana perkacapan yang ideal? Saya beri contohnya :

A : “kalo liburan biasanya biasanya elu ngapain aja?”
B : “banyak, ya kadang ke pantai, kadang jalan-jalan di taman, kadang baca buku, kadang ya tiduran aja dirumah”
A : “oh suka baca buku ya? gue suka baca juga, gue sih suka buku novel karangan XYZ soalnya blabla, emang elu biasanya baca buku yang kayak gimana?”
B : “gue sukanya non fiksi, soalnya gini gitu”
A : “emang kenapa dengan novel fiksi”
B : “ya karena gini gitu”

dst

Anda bisa melihat? Si A memancing B dengan open ended question, yang bisa dijawab dengan banyak cara dan butuh penjelasan lebih lanjut dari si B. Dengan begini si B tidak perlu bersusah payah mencari topik selanjutnya. Si A dapat dengan mudah menemukan persamaan diantara keduanya, yaitu membaca buku.

Namun ketika si B memiliki perbedaan kesukaan mengenai genre favoritnya dengan si A, si A tidak menarik diri, namun dia tetap memancing argumen. Inilah percakapan yang sehat. Jangan lari dari perbedaan, apalagi menutup-nutupi perbedaan. Dengan begini pula visi Anda tentang dunia di luar comfort zone Anda akan lebih terbuka.

Contoh-contoh open ended question lainnya misalnya :
– gimana pandanganlo tentang dunia yang sempurna?
– gimana elu ngeliat dirilo sepuluh tahun dari sekarang?
– coba deh ceritain tentang orang yang ada di foto ini.

Apabila Anda baru saling mengenal ada baiknya menghindari topik-topik sensitif khususnya yang mengandung SARA. Karena seringkali hal tersebut kemungkinan besar akan menyinggung lawan bicara Anda. Bicarakan hal-hal yang tidak terlalu intrusif, dalam arti terlalu menggali dalam ke dalam hal-hal yang pribadi.

Lalu bagaimana dengan storytelling? Erik Von Markovik, salah satu seducer komersial terkenal di seluruh dunia, melatih murid-muridnya dengan cara menghadapkan mereka kepada kumpulan anak-anak TK. Mereka diwajibkan untuk mengasah storytelling skill mereka sampai mereka bisa “menghipnotis” para anak-anak TK tersebut.

Storytelling yang baik harus disertai dengan pengaturan intonasi, nada, dan pengambaran yang jelas dari susunan kata-kata yang Anda pilih. Dan tentunya Anda harus PEDE. Apabila Anda berhasil, maka lawan bicara Anda akan terhipnotis dan masuk ke dalam dunia yang Anda ciptakan tersebut. Dalam arti, kini Anda menarik dia kedalam realita Anda.

Anda bisa mencari audiobook dari novel-novel ternama, dan mencontoh cara mereka melontarkan cerita yang mereka narasikan.

Untuk melatih suara, Anda bisa membaca sebuah novel dengan keras dan merekamnya. Kemudian Anda putar kembali, dan Anda dengarkan sendiri. Apakah Anda bisa terhipnotis dengan suara Anda, ataukah Anda malah tertidur karena bosan?

Skill storytelling ini sangat berguna untuk berbagai macam keperluan. Saya memakainya ketika saya mengajar.

ngajar

Karena saya pernah merasakan sendiri apabila saya mendapat pengajar yang terlalu serius dan membosankan maka materi tidak akan meresap. Yang ada saya ingin secepatnya keluar dari ruangan tersebut.

Saya selalu mencoba mengasah skill ini setiap kali saya hangout bareng dengan teman-teman saya. Biasanya dalam satu grup tersebut semua kepala teman-teman saya mengarah kepada saya dan mereka semua mendengarkan dengan antusias.

Anda dapat menceritakan berbagai hal, bahkan hal yang sesederhana apapun juga. Misalnya seperti menumpang taksi. Atau kejadian-kejadian yang Anda alami selama perjalanan ke kantor/sekolah. Atau bahkan ketika Anda bekerja atau belajar. Semua pengalaman tersebut hanya bisa Anda dapatkan dengan menikmati hidup, keluar sesering mungkin, dan selalu mencoba hal-hal yang baru.

Jangan lupa untuk memberi “bumbu penyedap” dalam kisah-kisah Anda. Tak masalah untuk membesar-besarkan kejadian lucu yang Anda alami. Jangan takut mentertawakan diri Anda sendiri.

Misalnya pernah suatu kali saya mencoba kenalan dengan seorang wanita, yang dari belakang terlihat sangat hot, body gitar spanyol, dan memang wangi sekali. Rambutnya tergerai bagaikan sutera, ketika berjalan pinggangnya melenggak lenggok bagaikan burung merak, dan semua mata tertuju kepadanya. Wah benar-benar bagaikan film romantis sungguhan deh!

Tapi ketika saya menepuk bahunya secara halus, dia perlahan membalikkan badannya ke saya dan dengan suara berat dia berkata “ya?”. Ternyata dia ini cowok transgender! Alamak! Sayapun berusaha kabur dari situ secepatnya, saya mundur pelan-pelan sambil ngomong “sorry salah orang!” tangan saya gemetar ketika itu terjadi. Masih terlihat jelas bekas kumis dan brewok yang baru dicukur sehari sebelumnya. Mengingat-ngingat kejadian itu membuat bulu kuduk saya berdiri.

Bisakah Anda merasakan impact dari cerita itu?

Apabila saya meniru style contoh percakapan A dan B yang pertama, maka beginilah saya akan bercerita :

“kemarin gue mo kenalan sama cewek, tapi ternyata itu cewek jelek banget. Jadinya ga jadi deh.”

Itulah fakta kejadian yang sebenarnya. Datar. Singkat. Tak menarik. Kurang penyedap. Fact is BORING. Fakta itu MEMBOSANKAN.

Bila Anda memerlukan contoh yang lebih jauh, tontonlah film “Big Fish” dari Tim Burton.

Selain itu salah satu nasihat dari mentor saya yang mengangkat saya, selalu ceritakan tentang PERASAAN. Apa sensasi yang Anda rasakan saat mengalaminya. Bagaimana tubuh Anda merasakan semua feedback dari sekeliling Anda ketika Anda mengalami kejadian tersebut. Dengan demikian maka lawan bicara Anda secara otomatis tertarik ke dalam cerita Anda karena mereka ikut MERASAKANNYA.

Pernahkah Anda bertanya mengapa sinetron-sinetron cinta picisan Indonesia yang berseri sampai season 7 (halo Tersanjung?) yang seringkali hanya daur ulang dari cerita romeo dan juliet masih laku di kalangan wanita, ibu-ibu dan PRT terutama? Karena sinetron tersebut menjual EMOSI. Bukan cerita yang matang, bukan kualitas, bukan kemegahan. Sekali-sekali cobalah Anda menonton satu episode saja. At least salah satu emosi sangat jelas diexpose habis-habisan : sedih dan marah.

Antara adegan menangis, menyesal yang bekepanjangan dan dibuat lebay, atau adegan teriak-teriakan dengan mata melotot dan tangan yang menunjuk nunjuk ke tokoh yang lain. Dari sudut pandang komersial, siapa yang peduli apakah ceritanya masuk akal atau tidak? Yang penting meraup keuntungan sebanyak-banyaknya.

Kemudian ketika jam tayang masih tersisa 1/4 jam, dibuatlah adegan slow motion yang diulur-ulur entah ketika tokoh utamanya akan berpapasan dengan selingkuhannya… kemudian tulisan “Bersambung” akan muncul. Mereka menggantung para penonton dengan sebuah emosi pula… mereka dibuat mengantisipasi emosi.

Akibatnya sang penggemar sinetron selalu menantikan kelanjutannya, ketika episode berikutnya berlanjut, siklus yang sama dengan adegan-adegan menangis dan marah-marah dirangkai dan diulang kembali seadanya. Maka herankah bila wanita menyukai sinetron-sinetron seperti ini? Silakan baca artikel nice guy vs bad boy lagi. Secara kualitas sinetron memang sampah. Tapi secara marketing, sinetron memang jenius!

One comment on “Storytelling

  1. Pingback: Alur Blog | Laki Tulen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 8, 2013 by in Opini, Outer Game and tagged , , , , , , , , .
%d bloggers like this: