Laki Tulen

Reclaim Your Manhood Today!

Good Conversationalist

Bingung mo membicarakan apa dengan teman Anda?

Anda pun menjadi sibuk berpikir panjang lebar tentang topik yang akan dibahas, atau mungkin malah berakhir dengan awkward silence.

Sesungguhnya obrolan yang nyaman adalah ketika kedua pihak berkontribusi terhadap percakapan. Sehingga obrolan terus mengalir dan semua merasa diikutsertakan. Itu apabila kita mengasumsikan keadaan yang ideal, dimana semua pihak tidak ada yang pasif dan tidak memberikan kontribusi sama sekali.

Nah tetapi pada kenyataannya seorang conversationalist sejati, adalah orang yang lebih jarang berbicara, melainkan lebih banyak MENDENGARKAN.

images

Leil Lowndes dalam bukunya How to Talk with Anyone, memberikan nama satu teknik menjadi conversationalist yang baik,  dengan nama tekniknya “parroting”, atau meniru tingkah burung kakak tua. Contoh pengaplikasiannya seperti dibawah ini :

A : “Saya dulunya bekerja sebagai salesman”
B : “Salesman?”
A : “Ya, salesman, jadi saya bertugas untuk menjual produk-produk yang ditawarkan oleh perusahaan saya”
B : “Menjual produk?”
A : “Ya dulu banyak produk yang saya jual, contohnya bla bla bla”

Begitu seterusnya. Teknik parroting ini sangat efektif, karena menunjukkan bahwa sesungguhnya Anda mendengarkan lawan bicara Anda dan Anda tertarik untuk mengetahui hal lebih lanjut tentang apa yang dia sampaikan. Dan Anda tidak perlu banyak-banyak memikirkan bahan pembicaraan yang selanjutnya. Cukup mendengarkan lawan bicara Anda dengan tulus dan kesungguhan.

Anda juga seringkali dapat menjadi pendengar yang baik hanya dengan melontarkan kata-kata seperti contoh di bawah ini :
“ya gue ngerti”
“kalo gue di posisi elu pasti gue bakal berbuat hal yang sama”
“gue bisa liat posisi elu memang sulit”

Namun jangan sekali-sekali Anda menambahkan kata “tapi” dibelakangnya dan kemudian mengabaikan perkataan Anda sebelumnya. Atau “gue tau yang elu rasain” atau “gue juga pernah di posisi elu” yang mana secara subconciously Anda meremehkan posisi mereka.

Seringkali Anda akan merasakan dorongan untuk memberikan kontribusi balik atau memberikan perbandingan pengalaman yang mirip dengan lawan bicara Anda, yang mungkin Anda rasa lebih baik. Belajarlah untuk menahan dorongan tersebut, dan tetap mendengarkan. Karena seringkali orang yang berbicara dengan Anda hanya membutuhkan telinga untuk mendengarkan, bukan solusi, nasihat ataupun pengalaman yang lebih baik dari yang mereka alami.

Dari yang saya amati, orang yang sering memberi nasihat sebenarnya adalah orang yang mencari validasi dari orang lain. Lebih-lebih apabila orang tersebut sebenarnya tidak qualify untuk memberi nasihat untuk topik yang bersangkutan. Dan ini biasanya hanya akan menimbulkan perasaan negatif kepada si target nasihat tersebut.

Apabila nasihat tersebut keluar dari orang-orang semacam itu, yang terjadi malah kekacauan yang lebih parah. Si pemberi nasihat tersebut mengharapkan targetnya untuk menurutinya, namun ketika si target tidak berlaku seperti yang dia maui, si pemberi nasihat akan merasa tersinggung dan frustrasi akibat kehausannya akan validasi tidak terpenuhi.

Jadi, nasihat itu mungkin baik, tetapi Anda pun harus sangat jeli untuk memilih-milih nasihat yang mana saja yang diberikan secara tulus, nasihat mana saja yang memiliki maksud di belakangnya. Ingat tentang “value”. Taruhlah posisi Anda sebagai pemberi nasihat. Apakah latar belakang Anda memberi nasihat? Karena Anda memang benar-benar tulus ingin menolong, ataukah ini hanya dorongan subconcious Anda karena Anda miskin validasi?

Selain itu, menjadi pendengar yang baik memang tidak mudah. Terkadang bahkan terasa sangat menyebalkan. Ingat kembali yang saya katakan tentang “high value”. Dalam hal ini, Anda menawarkan value Anda kepada orang lain, untuk menjadi pendengar.

Percayalah, semua value yang Anda berikan kepada orang lain akan kembali dengan sendirinya, terlebih lagi jika Anda tidak mengharapkan apa-apa darinya.

A good conversationalist and a good leader is actually a great listener.

3 comments on “Good Conversationalist

  1. Pingback: Perkenalan dengan seduction community Part 1 | Laki Tulen

  2. Pingback: Si Kecap Nomer 1 di Asia | Laki Tulen

  3. Pingback: Alur Blog | Laki Tulen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 8, 2013 by in Opini, Outer Game and tagged , , , , , , , , , , .
%d bloggers like this: