Laki Tulen

Reclaim Your Manhood Today!

Embrace Conflicts!

Dia : “Gue denger lu sentimen sama mereka ya?”

Saya : “WTF? Sentimen? Nih gue ceritain lengkapnya”

Pada intinya si tersangka yang kita discuss disini itu bingung ngasih informasi, kurang teges sehingga team lain kebingungan. Sedangkan
ketika dikonfrontir dia mulai menunjuk orang lain. Saya sempat kena semprot gara-gara saya mengomeli dia, maka atasannya pun saya
konfrontir langsung dan saya jelaskan perkaranya.

Saya : “Nah kalo lu sendiri di posisi itu gimana?”

Dia : “Gini, kalau berkomunikasi dengan dia ya at least lah diperhalus dikit, gue tau kalo bahasa inggris ga bisa alus-alus banget. Tapi tolong supaya ga terlalu menyinggung”

Saya : “Jadi maksudnya gue harus perlakuin dia dengan spesial gitu, dihalus-halusin dan dimanja-manjain?”

Dia : “engga, engga, engga”

Dia : “gue ga bilang elu harus memperlakukan dia dengan spesial”

Saya : “Sorry yah! Mau orang baru mau orang lama, mau orang import mau orang lokal gue perlakukan sama”

Saya : “Gue emang keras, tapi gue keras seperlunya. Lu boleh tanya sama anak-anak yang dulu gue lead langsung. Memangnya gue halusin? Tanya langsung ke mereka”

Dia : “Iya iya gue tau hasil anak didiklu gimana semua”

Saya : “Nah, mereka dimasukin kesini dengan harapan mereka mempercepat, bukan mempersulit”

Saya : “Gue udah ada comparison, dan comparison mereka itu semuanya fresh graduate sedangkan mereka sudah berpengalaman tahunan”

Saya : “Para fresh graduate under gue mereka semuanya menyenangkan and did their job well, even BETTER dibandingin tuyul-tuyul ini”

Saya : “Sekarang dia yang malah udah pengalaman tahunan, dibayar lebih tinggi, ya wajar kalo gue menuntut LEBIH dari dia. Kalo lebih
memble dari fresh graduate ngapain susah-susah datengin mereka?”

Dia : “Iya iya kita semuanya mengharapkan sama, kita punya pemikiran yang sama dengan dia”

Saya : “Jadi kalau tujuan kita sama perlu dibahas lebih lanjut? Gue rasa ga perlu lah ya”

Dia : “sorry… dst dsb”

Salah satu mental orang Indonesia secara general. MENTAL JAJAHAN.

Jadi karena expat dan berbicara bahasa Inggris, secara dorongan kita merasa harus memperlakukan mereka dengan berbeda.

Masih jaman ya mental seperti itu?

Maaf, terus terang aja, mental kayak gitu bikin saya JIJIK.

Kalo memang ga ada masalah, saya ga akan mempermasalahkan. Tapi kenyataannya tersangka tidak menunjukkan performa yang diharapkan, bahkan
lebih payah dibandingkan orang-orang saya yang baru lulus. Saya tetap berteman baik dengan orang-orang yang tidak banyak masalah. Tapi kalau ada yang bermasalah lalu dibiarkan itu yang bahaya. Apalagi dipupuk sifat-sifat cengengnya.

Mereka sama manusianya dengan kita, darah mereka sama merahnya dengan kita.

Dan kebetulan orang yang saya konfrontir disini adalah wanita. Secara general dari dorongan insting, achievement mereka berbentuk horisontal, membentuk hubungan dan bonding diantara manusia.

Jadi kalau yang saya tangkap, dia berusaha mempertahankan suasana yang harmonis. Seperti pada gambar di bawah ini :

Care_Bears_Easter

Dimana semuanya terlihat indah, semua orang terlihat ramah dan tak segan-segan melontarkan free hug kepada setiap orang yang berpapasan satu sama lain.

Sayang, itu semua cuma gambaran kartun untuk anak pre-school.

Tetapi apakah itu jadi adil bagi yang lain, terlebih-lebih orang-orang saya yang terkena lemparan kerjaan si tersangka?

Walau saya tidak akan menyangkal, cukup banyak wanita pemimpin yang luar biasa disana, seperti Xena Warrior Princess misalnya… ups… maaf, itu karakter fiksi.

Okelah Mother Theresa, Joan of Arc, Aung San Suu Kyi, R.A. Kartini, Tjut Nyak Dien, Hillary Clinton dan juga Princess Diana yang karismanya bahkan membuat kerajaan Inggris merasa terancam. Banyak contohnya.

Lalu apa yang terjadi? Ini yang saya curigai, ketika nilai-nilai maskulinitas tergeser, dan sifat cengeng dipupuk dari dalam.

Pertanyaannya adalah : justice or compassion?

Keduanya sama baiknya. Dan alangkah idealnya dunia apabila keduanya bisa saling mengimbangi. Namun seringkali yang terjadi adalah salah satu melebihi yang lainnya. Seperti pada jaman abad pertengahan, dimana justice ditempatkan diatas segala-galanya, tak peduli seberapa kecil atau besar kesalahan yang dilakukan.

Terlalu banyak compassion apabila kebablasan yang akan Anda dapatkan adalah mental cengeng, dan kemungkinan target Anda akan membodohi dan memanfaatkan Anda karena Anda tidak berani bertindak keras sama sekali. Singkat kata : Anda dianggap gullible atau blo’on.

Beberapa kali saya menghadapi kru yang bandel sehingga dia menolak mengikuti peraturan yang berlaku, dan sembunyi-sembunyi melangkai chain of command. Tidak ada tindakan tegas kepadanya. Melainkan saya yang di “nasihati”. Pada akhirnya perilaku cengeng seperti ini menjalar ke hampir seluruh karyawan yang lain.

Saya tidak begitu peduli, selama saya menjalankan tugas yang diberikan oleh company tempat saya bekerja. Apabila itu policy company, ya apa boleh buat. Ini bukan company milik saya.

Anak didik saya, mereka awalnya sangat takut kepada saya. Hanya orang-orang yang bisa memikir long term goal yang bisa bertahan dalam team saya. Hanya mereka yang bisa melihat niat baik saya diluar kerasnya perlakuan saya ke mereka. Biasanya mereka orang-orang yang secara mental sangat kuat.

Ketika mereka sudah membuktikan diri mereka ke saya, sayapun menganggap mereka sebagai teman akrab saya. Dan saya tidak segan-segan merekomendasikan mereka atau mengangkat nama mereka di hadapan para petinggi.

Saya sangat sulit untuk mengandalkan seseorang, namun begitu seseorang mendapatkan kepercayaan saya, saya selalu mengandalkan dia.

Pada akhirnya belakangan saya sangat picky dalam memilih team saya. Namun dengan begitu hasilnya team saya menjadi team yang terbaik. Karena di jaman ini kita tidak butuh orang cengeng atau tukang ngerengek.

Tanpa konflik, semuanya berlandaskan kepura-puraan.

Tanpa konflik maka tak akan ada kemajuan.

Jangan membuat masalah.

Jangan menciptakan konflik.

Tapi apabila konflik tak terhidarkan, jangan lari dari konflik tersebut. HADAPI. Sekali Anda lari dari konflik maka permasalahannya tak akan selesai. Dan Anda akan terbiasa melarikan diri dari konflik.

Ingin tahu contoh buah dari konflik?

Internet. Teknologi mesin Jet. Radar. Sonar, Energi atom. Yang pada akhirnya semuanya membantu sebagian aspek kehidupan kita.

Dari konflik juga akan muncul pemimpin-pemimpin alami yang baru yang hanya akan muncul apabila situasi menjadi krisis.

Ingat pepatah lama : Anda baru akan betul-betul mengenal seseorang apabila dia dihadapi oleh krisis.

So…

EMBRACE the CONFLICTS.

BE COMFORTABLE IN UNCOMFORTABLE SITUATIONS.

Selalu katakan : BRING IT ON!

Yes, it will help on your interaction with women as well.

7 comments on “Embrace Conflicts!

  1. Pingback: Scapegoating | Laki Tulen

  2. Pingback: Punya Pasangan VS Punya Kehidupan | Laki Tulen

  3. Pingback: HB Rating System | Laki Tulen

  4. Pingback: Artikel Pertama Tahun 2014 | Laki Tulen

  5. Pingback: Calibration | Laki Tulen

  6. Pingback: Seduction = Salesmanship | Laki Tulen

  7. Pingback: Getting in Touch with Emotion | Laki Tulen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 2, 2013 by in Inner Game, Opini and tagged , , , , , , , , , , , , .
%d bloggers like this: