Laki Tulen

Reclaim Your Manhood Today!

EMBRACE the Unknown

unknown

“To your mother and father. Feel free to blame them for everything that’s wrong with you, but don’t forget to give them credit for everything that’s right.” – Neil Strauss

Ingatkah Anda sepanjang perjalanan Anda di masa sekolah?

Saya masih ingat jelas. Segala peraturan dan norma yang dijalankan di sekolah saya jalankan dengan patuh. Namun meskipun demikian, saya merasa ada yang tidak tepat dalam hati saya selama itu.

Kalau Anda inginkan pengakuan jujur dari saya, saya adalah anak yang sangat bandel di masa sekolah. Dan para guru sebenarnya menganggap saya sebagai anak yang baik dan bahkan saya sempat menjadi anak emas bagi seorang guru di sekolah. Yah walaupun reputasi saya sebagai anak baik itu terbantu oleh kakak-kakak saya yang hampir setiap kali berprestasi dan sangat aktif dalam kegiatan sekolah seperti pramuka, pencinta alam dan OSIS.

Para guru saya mengasumsikan hal yang sama terhadap saya, jauh dari sifat troublemaker, berprestasi, dan supel serta aktif dalam kegiatan sekolah. Orangtua saya pun mengharapkan yang sama dari saya.

Singkatnya, saya hidup dalam bayangan kakak-kakak saya. Selama hampir semua hidup saya dituntut untuk mendapatkan prestasi akademik yang luar biasa seperti kakak-kakak saya (yang satu kini menyandang gelar dokter, yang satunya lagi menyandang gelar magister/S2 di bidang ekonomi)

Seperti yang sudah saya beberkan di halaman perkenalan, saya terpaku kepada dunia hiburan elektronik, khususnya video game. Saya menghabiskan sebagian besar waktu saya setelah sekolah dengan bermain video game.

Namun dari situ saya menemukan passion saya yang paling sejati, bidang seni digital. Penyesalan pasti ada, seperti ketika saat saya tersadar bahwa saya hidup di dunia yang sangat sepi dan hanya ditemani oleh dunia yang semu. Rasanya seperti bagai disambar petir. Ketika saya terpuruk di dasar jurang terdalam tersebut, saya tak memiliki siapa-siapa.

Selama saya mengambil kuliah, saya merasakan jenuh yang sangat luar biasa. Saya bosan duduk, mendengarkan dosen dan melakukan apa yang diperintahkan. Intinya, saya gatal ingin menciptakan sesuatu.

Apakah yang saya cari di dunia ini?

Apakah yang kita semua cari di dunia ini?

Tak lebih dan tak kurang, kita semua mencari keabadian dan pengakuan.

Kita ingin nama kita dikenang sepanjang masa, kita ingin karya kita diakui dunia.

Semasa kuliah, saya mendapatkan pekerjaan yang berhubungan dengan passion saya. Walaupun tidak langsung berkaitan dengannya. Sayapun mengalami dilema. Meneruskan kuliah atau meninggalkannya demi mengejar passion saya tersebut.

Orang tua saya menekankan, “kuliah kamu harus selesai apapun yang terjadi”

Tapi, tetap saya merasa kampus bukanlah tempat atau “habitat” saya.

Akhirnya saya meninggalkan kuliah dan berfokus kepada kerjaan saya.

Bentrok dan cekcok dengan orangtua saya pun tak dapat dihindari.

Apakah yang terjadi dengan orang tua saya? Mereka menghadapi sesuatu yang tidak mereka kenali. Dimana kakak-kakak saya adalah para pribadi yang penurut, figur impian masyarakat, dengan segala atribut seperti gelar yang tinggi dan dihormati, serta penurut dan sangat patuh terhadap peraturan dan norma.

Saya?

Bandel, nakal, memberontak, ogah mengikuti norma masyarakat tanpa bertanya atau menantang ide-ide dan ritual atau segala hal yang berhubungan dengan status quo. Saya selalu berpikir. Saya selalu bertanya. Saya selalu mencoba-coba. Saya selalu mencari tau. Itulah sifat alami saya. Anda tidak akan dengan mudah mendapatkan “iya” dari saya tanpa memberikan dasar yang jelas.

Orang tua saya tidak pernah menghadapi individu seperti saya. Karena itulah bentrok terjadi. Mereka merasa takut dan khawatir akan masa depan saya. Yang dimana, itu adalah sifat alami para orang tua, yang hanya menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya.

Namun yang terbaik untuk seseorang belumlah tentu yang terbaik untuk seseorang yang lain, dalam hal ini, saya.

Semasa karir saya, yang saya lakukan adalah “seeking approval” kepada orang tua saya secara terus menerus. Yang saya cari dari mereka hanyalah pengakuan dan pujian. Tetapi jalan ini ternyata salah, karena yang saya dapatkan hanyalah kritik dan perbandingan dengan kakak-kakak saya. Ini berjalan terus selama bertahun-tahun sepanjang karir saya. Maka akibatnya rasa percaya diri saya hancur. Saya tidak punya rasa percaya diri sama sekali, dan saya bekerja sangat keras, semua itu hanya untuk pengakuan dan persetujuan dari orang tua saya.

Semua itu ditambah dengan mindernya saya terhadap wanita, lengkaplah sudah. Saya telah melihat jurang yang terdalam dalam hidup saya. Tetapi, saya tidak menyadarinya.

Sampai suatu hari salah satu rekan kerja saya mengkritik tentang bagaimana tidak bersahabatnya saya dengan orang-orang. Dia mengatakan kepada saya “Elu mah kayaknya ga butuh temen sama sekali ya”. Benar-benar satu kata yang sangat menampar saya. Dia tak mengetahui, saya merindukan seorang teman karib seperti jaman sekolah dahulu. Saya juga merindukan sentuhan wanita.

Dia membaca buku Dale Carnegie “How to Win Friends and Influence People” yang dia selalu berusaha sodorkan kepada saya. Teman kerja saya yang lainnya menyodorkan saya buku David deAngelo “Double your Dating”. Keduanya saya tolak mentah-mentah karena saya menolak menerima realita tentang diri saya, dan saya masih membiarkan ego saya yang berbicara.

Namun, diam-diam saya “meminjam” kedua buku tersebut dan perlahan pikiran saya mulai terbuka. Sayapun mulai ketagihan membaca buku-buku seperti ini. Hari demi hari, koleksi saya mulaui bertambah. Dimulai dari Dale Carnegie’s How to win Friends and Influence People kemudian bertambah sedikit demi sedikit. Mulai dari Dale Carnegie’s Public Speaking, How to Talk with Anyone, Larry King How to Talk to Anyone, Anytime, Anywhere,  Men are from Mars and Women are from Venus, Allan Pease Talk Language, The Definitive Guide to Body Language dan kemudian saya mengenal dengan buku The Game, Tony Clink The Layguide, The Mystery Method sampai Rules of the Game dan Aaaron Sleazy’s Minimal Game.

Di salah satu tempat kerja saya, kemudian saya bertemu dengan seorang pimpinan, yang mengetahui bahan-bahan bacaan saya. Kebetulan dia memiliki minat yang sama dengan saya, dia juga membaca bahan bacaan yang sama, semuanya mengenai pengembangan diri dan interaksi antar manusia.

Kita pun  menjadi sangat akrab, dan saya belajar banyak darinya. Yang terutama dia banyak memperkenalkan saya dengan lingkungan sosialnya. Mengajarkan tentang seduction dan rasa percaya diri.

Buku seduction yang pertama kali saya baca adalah David deAngelo’s Double your Dating. Buku ini sangat bagus untuk dasar-dasar membangun ketertarikan dari wanita. Buku ini mengajarkan tentang teknik dan mindset secara general, namun tidak menceritakan BAGAIMANA melakukannya.

Kemudian saya bergabung dengan seduction community yang bernama mASF, yang saya temui dari membaca The Game oleh Neil Strauss. Dari sini “petualangan” saya pun dimulai.

Saya mulai mengenal konsep-konsep baru tentang interaksi dengan manusia lain, saya mulai mencoba banyak hal baru. Khususnya saya pergi ke club-club malam yang mana saya hanya pernah memasukinya sekali dua kali sepanjang hidup saya semasa itu.

Intinya, saya memasuki dunia-dunia yang tidak pernah saya kenal sebelumnya. Saya mencobamenerobos batas “the unknown”.

Pertama kali saya melakukannya saya merasa sangat tidak nyaman. Penolakan demi penolakan dari lawan jenis saya lalui, namun semakin hari saya semakin tak acuh dengan penolakan tersebut.

Hingga akhirnya saya mendapatkan kesuksesan (dari hunting/pickup di lapangan), yang pada akhirnya membuat saya ingin mengalaminya lagi.

Seduction tidak hanya mengajarkan saya tentang bagaimana mengembangkan ketertarikan sexual terhadap lawan jenis, tetapi banyak aspek lainnya yang saya dapatkan :

  1. Rasa percaya diri yang meningkat drastis
  2. Snap decision, artinya saya belajar membuat keputusan secara cepat tanpa banyak berpikir
  3. Saya telah menaklukkan rasa takut saya; saya tak memiliki approach anxiety lagi, dimana hal ini membantu pertemuan saya, tidak hanya dengan wanita yang baru saya kenal, tetapi petinggi-petinggi di organisasi
  4. Saya memandang dunia dengan cara yang lain
  5. Insting saya semakin peka terhadap perubahan bahasa tubuh seseorang yang bahkan sangat kecil sekalipun
  6. Saya lebih memiliki kontrol terhadap hidup saya sendiri dari orang lain, baik itu wanita, orang tua, teman atau atasan dst.
  7. Yang terutama adalah saya MERANGKUL KETIDAKPASTIAN. I have embraced the unknown. Saya terbebas dari belenggu pola pikir dan norma masyarakat secara umumnya.

Semenjak itu, saya selalu memiliki cara yang tidak biasa dalam menghadapi berbagai hal.

Saya tidak peduli lagi dengan pembuktian diri saya terhadap orang kedua atau ketiga. Termasuk orang tua saya. I do what I do because that’s what I do. And I always try to do the very best at what I do.

Saya tidak peduli lagi dengan pendapat orang lain tentang saya. Anda tidak senang dengan saya? Ya itu masalah Anda. Saya tidak merasa punya problem dengan Anda.

Saya tidak peduli lagi dengan kepura-puraan yang berkembang sebagai norma masyarakat. Dalam arti apa yang Anda lihat dari saya, itulah yang Anda dapatkan.

Rasa percaya diri, keterampilan mengambil keputuusan dan ketiadaan rasa takut juga ternyata membantu saya di bidang karir saya.

Anehnya ketika saya mencoba memperkenalkan dunia seduction kepada beberapa orang terdekat saya, yang terjadi adalah mereka menolaknya mentah-mentah. Dengan alasan yang tidak logis dan tidak masuk akal.

Salah seorang teman saya contohnya, dia tidak bisa menentukan apakah dia menginginkan skill ini atau tidak.

Ketika saya pertama kali menyodorkan buku The Game kepadanya, dia bilang “saya lebih suka dengan cara yang spontan”, yang akhirnya dia tetap menjomblo selama beberapa tahun tanpa interaksi yang berarti dengan wanita yang manapun. Beberapa tahun kemudian dia kembali kepada saya, meminta tolong dikenalkan kepada teman-teman wanita saya. It’s not going to work that way. Saya menolaknya, kemudian dia kembali membiarkan egonya berbicara kembali.

Pola ini saya temui di semua orang yang saya coba perkenalkan dengan dunia seduction. Dan pola pemikiran mereka adalah mereka tidak mau berhubungan sexual dengan wanita namun mereka mencari pacar. Hah?

Jadi kalau saya artikan pemikiran mereka, pacar itu adalah teman tanpa ketertarikan sexual?

Ya sudahlah.

Ingat saja pepatah luar negri yang ngetop dari film Top Gun : “Your ego write checks your body can’t cash”

Yang mana artinya Anda akan terus disuapi dengan santapan validasi semu oleh ego Anda yang tidak akan memberi keuntungan apa-apa bagi Anda.

Kita semua diprogram secara alami untuk mencari kenyamanan dan keamanan. Kita juga diprogram untuk menghindari ketidakpastian. Sama seperti orang tua saya ketika menghadapi saya, yang sangat bertolak belakang dengan kakak-kakak saya.

Inilah pandangan yang ditanamkan kepada kita semenjak kita kecil vs realita :

  1. Sekolah setinggi-tingginya, dapatkan gelar yang setinggi-tingginya maka kamu akan menjadi orang sukses! Betulkah? Inilah salah satu realitanya. Jangan lupakan juga Steve Jobs, Bill Gates, Mark Zuckerberg dan banyak lagi. Mereka semua adalah korban dropout. Satu-satunya pengajar yang terbaik adalah kehidupan, dan satu-satunya kebahagiaan adalah melakukan hal yang menjadi passion kita.
  2. Masih mengenai gelar dan sekolah, pemahaman masyarakat umum mungkin betul adanya. Tetapi pernahkah Anda berpikir, bahwa sekolah itu mempersiapkan kita untuk BEKERJA UNTUK orang lain? Membentuk mental penurut, membentuk mental mematuhi peraturan, menjalankan perintah, dsb? Coba Anda pikir secara baik-baik. Ya saat ini saya memang masih bekerja untuk sebuah perusahaan. Tetapi saya bukanlah pekerja bawahan dan banyak bawahan saya yang memiliki gelar yang lebih tinggi dari saya.
  3. Orang baik selalu menang! Sayangnya, dunia ini abu-abu. Orang baik tak selalu menang. “Baik” dan “buruk” adalah relatif. Sebagai gambaran : sekarang Nazi dianggap sebagai pihak yang jahat, karena mereka kalah dalam PDII. Tetapi pernahkah Anda membayangkan apabila mereka memenangkan PDII dan menjadi kekuatan dominan di dunia? Semasa PDII siapakah yang jahat dan siapa yang baik? Para prajurit Nazi tentunya menganggap pihaknya adalah pihak yang baik. Saya tidak mengatakan menjadi orang baik itu salah. Namun, perlu diperhatikan dari kata-kata tersebut : “orang baik selalu menang”. Jika Anda ditanamkan untuk melakukan kebaikan dan selalu mengharapkan kemenangan itu adalah salah. Justru orang baik seringkali adalah orang yang menderita. Ingat soal value. Apabila Anda memang ingin berbuat baik lakukan karena memang Anda ingin berbuat baik, bukan karena Anda ingin mengharapkan kemenangan.
  4. Masih mengenai perbuatan baik, ingat, manusia adalah mahluk yang tidak logis. Apabila Anda berbuat baik atau berniat baik terhadap seseorang namun Anda menimbulkan perasaan negatif terhadap orang tersebut, maka Anda adalah pihak yang jahat. Ini mengenai bagaimana Anda membangun koneksi antar-individu, bagaimana Anda bisa memunculkan perasaan positif di dalam diri orang lain.
  5. Banyak-banyaklah belajar, tingkatkan ilmu dan skill kamu, maka kamu akan jadi orang sukses. Sayang ini berhubungan dengan point-point sebelumnya. Apabila Anda bekerja dengan sangat keras, namun tak seorangpun sadar akan keberadaan Anda, usaha Anda tidak akan dihargai. It’s all about marketing. How we present ourselves. Jadi ini bukanlah sekedar mengenai skill, pengetahuan ataupun gelar. Namun bagaimana orang lain sadar akan keberadaan kita dan bagaimana kita menimbulkan perasaan positif kepada mereka.

Benarkah point-point saya diatas itu berlawanan dengan apa yang Anda pahami selama ini? Saya yakin Anda akan menolaknya dengan mentah-mentah. Itu karena konsep-konsep tersebut tidaklah umum, dan baru bagi Anda. Saya mencoba mengangkatnya kepada teman-teman dekat saya, yang terjadi adalah mereka semua menjauhi saya. Karena mereka yakin dengan mengikuti apa yang ditetapkan oleh masyarakat, mereka akan berhasil. Kenyataannya? Mereka menjadi sebuah butir pasir di pantai, diantara jutaan butiran pasir lainnya. Dan Anda tentunya bersaing dengan milyaran butiran pasir yang lainnya.

graduation_2
(photo by Kati Garner)

Sama seperti kita mengalami ketakutan apabila kita diperkenalkan dengan konsep-konsep baru atau perubahan-perubahan pada lingkungan kita. Sama seperti ketika kita mengalami ketakutan apabila kita akan mendekati wanita cantik yang belum pernah kita kenal.

Ya tak ada salahnya, untuk lebih menjamin keamanan karir kita, apabila kita memiliki gelar yang cukup tinggi. Saya mengalami beberapa kesulitan seperti visa tidak keluar di sebuah negara sedangkan saya sudah diterima bekerja di sebuah kantor di negara tersebut.

Namun, apa yang akan terjadi bila saya menuruti kemauan orang tua saya? Mungkin hari ini saya akan menjadi orang yang membosankan dengan penghasilan yang stabil dan menjalani hari-hari dengan rutinitas yang sangat kaku. Mungkin saya menjadi seorang akuntan atau seorang IT di sebuah perusahaan corporate.

Tetapi hidup saya, saya sendiri yang menjalaninya, bukan orang tua saya. Maka sayalah yang mengontrol hidup saya. Bukan Anda, bukan orang tua saya, bukan boss saya, bukan teman saya, bukan pacar saya, bukan cucu atau cicit saya, bukan istri saya, namun : SAYA SENDIRI. Dan saya akan mengambil semua konsekuensi pilihan hidup yang saya ambil.

Rewardnya, saya berkarir di bidang passion saya. Saya bahagia dan tidak memerlukan paksaan dari siapa-siapa untuk saya memberikan kontribusi terbaik terhadap pekerjaan saya.

Anda berani mengatakan hal tersebut untuk diri Anda sendiri?

Lihatlah 10 tahun ke depan.Apabila Anda memilih terus mendengarkan ego Anda dan terus menuruti “program” alami yang sudah ketinggalan jaman itu. Apa yang akan terjadi?

Lihatlah 10 tahun ke depan, apabila Anda mengatakan kepada diri Anda “fuck it, I’m gonna do it!”, apa yang kira-kira akan terjadi?

Ya sayapun masih tergolong muda, dan belum tentu pemikiran-pemikiran saya benar adanya. Sayapun masih belajar mengarungi kehidupan. Namun bagi saya itulah seninya menikmati kehidupan : KETIDAK PASTIAN DAN KETIDAK TAHUAN. Karena apabila Anda mengharapkan segala-galanya yang pasti dan nyaman maka saya yakin Anda akan kecewa. Apabila Anda selalu mendapatkan kepastian dan kenyamanan tanpa adanya tantangan saya yakin Anda menjalani kehidupan yang sangat membosankan tanpa adanya jurang dan bukit yang perlu Anda lalui.

Itu keyakinan saya. Anda? Pilih mana? Kepastian, keamanan dan kenyamanan? Atau ketidakpastian dengan semua keajaibannya?

9 comments on “EMBRACE the Unknown

  1. Pingback: We’re Here, the Rest is Bullshit | Laki Tulen

  2. Pingback: Kompetensi Dasar Kurikulum 2013 | Laki Tulen

  3. Pingback: Maharani Suciyono & Ahmad Fathanah | Laki Tulen

  4. Pingback: Edward Leedskalnin | Laki Tulen

  5. Pingback: Body Language Basics | Laki Tulen

  6. Bagus
    December 11, 2013

    buku2 yg ente baca versi indonesia atau aslinya??
    kalo ad versi indo ny bisa beli dimananya???

    • exorio
      December 12, 2013

      Buku apa bro? The Game?

      The Game ane baca aslinya bro. Keknya ga ada terjemahannya ini.

      Kalo Dale Carnegie terjemahannya keknya udah ada sebagian besar bukunya. Cari aja di Gramedia.

  7. Pingback: Artikel Pertama Tahun 2014 | Laki Tulen

  8. Pingback: All about Passion : Instant gratification VS Delayed gratification | cotulen.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 27, 2013 by in Inner Game, Opini and tagged , , , , , , , , , , , , , .
%d bloggers like this: