Laki Tulen

Reclaim Your Manhood Today!

The One atau Oneitis?

Pernahkah Anda bertemu seseorang yang nampak begitu spesial bagi Anda?

Anda tak bisa melewati barang sehari tanpa memikirkan dirinya.

Apakah Anda kini telah menemui “the one” Anda yang selama ini Anda cari?

mewek

Sebelumnya mari kita berbicara tentang “Alpha Male”

Di dunia mamalia, yang mana manusia termasuk mamalia, terdapat susunan hirarki kelompok. Secara simplenya, pemimpin kelompok adalah Alpha Male.

Sedangkan pengikutnya adalah beta, gamma, delta, epsilon, omega dan seterusnya.

Dalam kelompok singa contohnya, Alpha male bertugas memimpin kelompok, menjaga daerah sedangkan para femalenya bertugas untuk mencari makan untuk kelompok.

Diluar itu, hanya alpha male yang diperbolehkan untuk melakukan perkawinan dengan para femalenya. Perilaku seperti ini terjadi hampir di setiap spesies mamalia yang ada di bumi. Bahkan orangutan, gorila dan simpanse, yang merupakan saudara terdekat kita.

Nah cobalah pikirkan, apabila kita melucuti segala sifat kita yang membedakan kita dengan binatang, apakah kita ini? Kita adalah primata, mamalia, saudara jauh dari monyet.

Namun insting-insting primata yang kita bawa secara alami sudah terkubur sangat mendalam karena perkembangan dunia yang sangat pesat.

Lalu apa kaitannya dengan The One?

Di dunia seduction, kita sering menyebut “Beta Male” yaitu para pria yang memberi penghidupan kepada SEORANG wanita, seorang yang menjadi pengasuh si wanita.

Sedangkan dibawah itu kita mendapatkan kelompok pria yang sering kita sebut “Average Frustrated Chump” atau AFC. Julukan ledekan yang ditujukan kepada pria-pria frustrasi karena tidak dapat membangun hubungan dengan wanita. Saya masuk dalam kategori ini dulunya.

Kemudian, mari kita kesampingkan nilai moral terlebih dahulu. Tak dapat dipungkiri para  player berkeliaran secara bebas di sekitar Anda, yang mana mereka berhubungan sex dengan banyak wanita tanpa rasa tanggung jawab memberi timbal balik penghidupan yang layak. Dalam arti, Alpha Male secara insting.

Hirarki kepemimpinan alamiah dalam insting manusia masih menjadi perdebatan. Nantinya akan saya bahas lebih lanjut tentang “Alpha Male” ini.

Sekarang mari kita lewati tentang susunan hirarki ini terlebih dahulu.

Satu hal yang sangat mengejutkan : AFC merupakan mayoritas pria modern jaman kini. Hal ini dikarenakan pergeseran nilai-nilai maskulinitas yang dianggap tabu oleh masyarakat modern dan tuntutan persamaan hak wanita. Singkatnya kita lebih banyak memiliki pria feminin dibandingkan pria yang benar-benar maskulin.

Para AFC ini tak jarang akan mendapatkan hubungan dengan seorang wanita, cepat atau lambat. Namun apakah karena alasannya dia menemukan “the one” dia yang sesungguhnya? Saya rasa tidak. Wanita yang dia pilih untuk menjadi partner hidupnya seringkali adalah wanita satu-satunya YANG TERSEDIA untuk dia.

Tak jarang selama perjalanan hidupnya, dia merasakan telah menemukan “the one” nya hanya karena seorang wanita berbicara dan memberikan sinyal kepada dia. Namun kisah-kisah ini biasanya berakhir dengan pahit dan menggerogoti si AFC. Kenapa ini terjadi? Karena si AFC tidak punya pilihan.

Dalam kasus ini, si AFC telah mengidap “oneitis”

“Oneitis” seringkali disalahartikan sebagai cinta, oneitis adalah ilusi dimana seseorang begitu spesial. Kenyataannya? Tidak. Dia tidak lebih spesial dibandingkan jutaan wanita lainnya di dunia.

Apakah solusinya? AFC harus mulai membangun lingkaran sosial para wanita, menjalani hubungan dengan beberapa wanita sekaligus (bukan berarti hubungan sex), agar dia dapat membandingkan tiap-tiap wanita dan memilih wanita yang memiliki keseimbangan, kesehatan fisik dan mental.

Karena jikalau Anda tidak memiliki banyak pilihan, satu-satunya pilihan yang disodorkan kepada menjadi terlihat sangat spesial.

Anda berhak mendapatkan yang terbaik. Namun pertanyaannya apakah Anda INGIN mendapatkan yang terbaik? Apakah Anda bosan menjadi AFC dan Anda INGIN menjadi Alpha MAle?

Ikuti terus blog ini.

2 comments on “The One atau Oneitis?

  1. Pingback: Belajar Disogok ala Cewek Cakep | Laki Tulen

  2. Pingback: Flake Dichotomy | Laki Tulen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 21, 2013 by in Opini and tagged , , , , , , , , , , , .
%d bloggers like this: