Laki Tulen

Reclaim Your Manhood Today!

“Value”, “Needy” dan “Approval Seeking”

Value atau nilai.

Kita tidak bicara masalah nominal materi disini, namun mengenai seberapa jauh Anda menghargai diri Anda dan orang lain. Rasa hormat dan pengaguman terhadap diri sendiri atau orang lain.

Dunia ini berputar berdasarkan basis memberi dan menerima. Semakin banyak dan tinggi hal yang dapat Anda tawarkan kepada dunia, semakin banyak pula lah yang akan Anda dapatkan kembali.

Bila Anda tidak memiliki apa-apa untuk ditawarkan, maka dunia tidak akan peduli dengan Anda.

Orang yang memiliki value tinggi, tidak akan segan-segan menawarkan jasanya kepada orang lain, namun perbedaannya dia juga tidak akan mengharapkan apa-apa kembali. Ketulusannya itulah yang membuatnya memiliki value yang sangat tinggi.

Dalam dunia romansa, hal ini seringkali menjadi menyimpang, khususnya ketika seorang berbuat baik kepada wanita tidak lain dan tidak bukan adalah karena ia mengharapkan perhatian balik dari sang wanita. Dan ketika ini terjadi, namun sang wanita tidak memberikan kembali apa yang diharapkan si pria, hasilnya adalah pasukan sakit hati. Silakan baca mengenai nice guy vs bad boy.

Dalam interaksi sosial yang tidak berkaitan dengan sex (hubungan pria dan wanita) misalnya interaksi dengan rekan atau saudara, tentunya memberikan penghormatan dan memberikan pujian adalah hal yang sangat bagus untuk diterapkan. Dalam arti kata, itu adalah hal yang baik untuk dilakukan atau “nice”.

Belakangan ini saya pribadi sering memperhatikan perilaku para pemuda-pemuda generasi terakhir. Mereka cenderung sopan, namun seringkali sudah memasuki zona “approval seeking”. Dimana sopan namun mereka tidak menjaga self-value mereka sendiri. Singkatnya, merendahkan diri mereka dihadapan orang lain.

Attitude seperti ini mungkin akan cenderung dilihat sebagai attitude “penurut”, yang mana dalam pemikiran sebagian besar orang akan dianggap menguntungkan dalam dunia karir maupun dunia percintaan.

Kenyataannya? Maaf saja, kalau saya berkata terus terang, attitude seperti itu malah terlihat seperti attitude menjilat, tidak punya pendirian, tidak punya visi dan tidak menghargai diri sendiri.

Sopan dan menjilat memang terlihat hampir tidak ada bedanya. Tetapi saya akan coba untuk membedakannya disini.

Sopan/high value :

  1. Memuji orang lain secara tulus dan pada saat yang tepat (khususnya orang itu memang pantas mendapat pujian)
  2. Berbahasa halus karena memang Anda tulus tidak ingin menyinggung perasaan orang lain
  3. Membukakan pintu untuk seseorang (baik wanita maupun pria) yang sedang memegang barang yang besar supaya dia bisa lewat
  4. Menahan pintu lift untuk orang yang sedang terburu-buru
  5. Membantu orang lain yang kesusahan karena Anda memang bersimpati kepadanya
  6. Memuji rekan kerja bahkan di depan semua orang karena memang dia melakukan tugasnya dengan baik

Menjilat/low value :

  1. Memuji orang lain karena dia atasan Anda
  2. Berbahasa halus karena Anda takut mendapat masalah
  3. Membukakan pintu untuk wanita supaya Anda bisa kenalan dengan si dia
  4. Menahan pintu lift untuk para wanita
  5. Membantu orang kesusahan supaya tindakan Anda dilihat oleh orang lain
  6. “Membantu” rekan kerja Anda di depan atasan supaya usaha Anda terlihat oleh atasan (perilaku yang paling sering saya temui di jenjang karir saya, dan hampir di setiap tempat kerja yang pernah saya tempati)

Itu hanyalah segelintir contoh yang dapat saya pikirkan ketika menulis artikel ini.

Dapatkah Anda menarik garis perbedaannya? Menjilat adalah tindakan “approval seeking”, dimana Anda menjadi parasit yang mengkonsumsi value orang lain. Anda menuntut orang lain memberikan value kepada Anda.

Perlu diingat kembali “High Value” bukan berarti kaya secara materi, begitu juga dengan “Low Value” bukan berarti miskin secara materi. Saya sendiri sering menemui orang kaya namun ternyata orang tersebut masuk dalam kategori “Low Value”. Dalam arti dia akan mengkonsumsi value orang lain bagaikan parasit.

Lalu, apakah hubungannya dalam dunia percintaan? Unconditional love atau cinta tak bersyarat adalah hal yang sangat jarang Anda temui. Seringkali perilaku pria berubah 180 derajat ketika dia berhadapan dengan wanita yang dia sukai.

Dunia hiburan (musik dan film-film komedi cinta) seringkali membuat pemahaman tentang cinta tak bersyarat ini. Dimana si pria terus-terusan memikirkan si wanita, tak bisa hidup tanpa si wanita, dan bahkan rela melakukan apa saja untuk si wanita.

Saya tak memiliki contoh lirik lagu cinta/romantis, namun coba Anda dengarkan liriknya secara baik-baik. Sebagian besar lagu-lagu tersebut menempatkan pria dalam posisi “lower value” dari si wanita. Bila Anda merasa sulit memikat wanita dan menyukai lagu-lagu macam ini, berhentilah segera. Buang semua lagu-lagu macam ini. Kaarena, apabila Anda terlalu menikmatinya, Anda akan mulai ternhanyut, dan tak lama kemudian Anda ikut menyanyikannya, yang berakibat pada “self-talk” atau “self-hipnosis” yang membuat Anda merasa berada dalam kondisi yang sama seperti yang dibeberkan dalam lirik lagu tersebut. Lakukan ini setiap hari maka lirik-lirik lagu gombal tersebut mulai membentuk karakter Anda. Visi Anda tentang realita dunia menjadi semakin buram.

Kaitannya, ingatlah selalu soal value. Apabila Anda memohon seorang wanita, bertekuk lutut dihadapan dia, itu artinya “value” anda lebih rendah dibandingkan “value” si dia. Dan dalam hal ini Anda memancarkan aura “needy” yaitu kekurangan cinta/miskin cinta.

berlutut

Apabila Anda melihat realita sekitar, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Hal yang sama terjadi dalam hubungan wanita dan pria. Semakin miskin Anda, semakin Anda akan terjerat lingkaran setan kemiskinan cinta. Tetapi bila Anda kaya akan cinta, Anda akan semakin dikelilingi wanita.

Marilah kita lihat kenyataannya. Para playboy/player, darimanakah julukan itu berasal? Playboy/player biasanya adalah julukan dari para pria yang selalu dikelilingi wanita. Dan dengan keadaan seperti itu, semakin banyak lagi wanita yang tertarik kepadanya. Itulah sebabnya playboy/player tidak pernah kekurangan”stok” wanita.

Para player ini biasanya adalah orang-orang yang memiliki high value. Beberapa teman saya yang saya kenal, memang cenderung suka membantu orang lain tanpa pamrih, dan biasanya mereka tak memilih-milih teman. Mereka memiliki banyak value untuk ditawarkan kepada orang lain, namun khususnya kepada para wanita.

Jadi, siapkah Anda mulai menghargai diri Anda sendiri mulai hari ini?

9 comments on ““Value”, “Needy” dan “Approval Seeking”

  1. Pingback: Beauty is a CURSE | Laki Tulen

  2. Pingback: EMBRACE the Unknown | Laki Tulen

  3. Pingback: Sir Richard Branson | Laki Tulen

  4. Pingback: Alpha Male | Laki Tulen

  5. Pingback: Flake Dichotomy | Laki Tulen

  6. Pingback: FR : Abundance Mentality | Laki Tulen

  7. Pingback: Artikel Pertama Tahun 2014 | Laki Tulen

  8. Pingback: Congruence | Laki Tulen

  9. Pingback: Alur Blog | Laki Tulen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 20, 2013 by in Opini and tagged , , , , , , , , , , , , , , .
%d bloggers like this: